
Sore harinya, Dion mengajak Syakila pulang kekediaman pak Budi.
Begitu juga dengan Raka dan Aira.
"Kalian gak ikut ke Rumah ayah dulu," kata Dion.
"Enggak deh, kami langsung pulang aja." timbal Raka.
"Ya sudah.. Hati-hati ya," ucap Dion, lalu ia melajukan mobilnya lebih dulu.
Setelah kepergian Dion dan Syakila.
"Sayang, kita ke Apotek dulu ya! Kita cari Vitamin," ajak Raka pada Aira.
"Hmm, Vitamin apa?" tanya Aira.
"Aku kan udah bilang, mau coba konsumsi Obat dan juga Vitamin. Siapa tahu bakal membuahkan hasil." jelas Raka.
"Ohh, iya. Ya udah yuk kita berangkat," kata Aira.
Raka mulai melajukan mobilnya menuju ke Apotek.
Hanya menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, akhirnya mobil Raka berhenti di depan sebuah Apotek.
"Yuk sayang, kita turun!" ajak Raka.
Mereka berdua masuk kedalam Apotek itu, Raka banyak bertanya kepada pekerja yang bertugas di Apotek itu.
"Mas, saya mau lihat-lihat Obat subur dong," kata Raka.
"Oh, sebentar saya ambilkan Mas. Mas bisa pilih sendiri," ucap pekerja itu dengan sopan.
Setelah lama melihat-lihat, akhirnya Raka membeli semua macam Obat-obatan itu. Ia membelinya dua pcs dalam satu macam, mulai dari yang berbentuk tablet sampai yang berbentuk sirup.
"Raka! Kok banyak banget?" tanya Aira saat melihat obat yang di beli Raka sangat lah banyak menurutnya.
"Namanya juga usaha sayang." timbal Raka sambil mengacak-acak rambut Aira.
Pekerja dan pengunjung yang ada di Apotek itu kagum melihat Aira dan Raka yang nampak begitu romantis.
"Raka, malu di lihat orang. Aku kan bukan anak kecil," sungut Aira dengan memajukan bibirnya.
"Biarin aja, ngapain malu. Kita kan sudah halal Neng," ucap Raka dengan tersenyum.
***
Dion dan Syakila sudah sampai di kediaman pak Budi yaitu ayah Dion.
Bu Yanti menyambut hangat kedatangan menatunya.
"Sayang, kalian sudah pulang. Gimana malam pertama kalian?" tanya bu Yanti.
"Ibu," ucap Dion sambil melototkan matanya.
Sedangakan Syakila, wajahnya menjadi merona mendengar perkataan Ibu mertuanya yang sangat Absurd menurutnya.
"Bu, sudah! Jangan menggoda mereka, mereka kan capek baru pulang. Biarkan mereka istirahat terlebih dahulu," kata pak Budi.
"Ayah apaan sih! Ibu kan cuman nanya, kalau Dion dan Syakila sudah main bola. Itu berarti kita akan segera memiliki cucu," ucap bu Yanti.
"Jadi gimana? Kalian udah main bola belum semalam?" tanya bu Yanti lagi.
"A-nu bu, Sya-" ucapan di potong Dion cepat.
__ADS_1
"Belum Bu, semalam badan kami sangat lelah. Jadi habis pesta semalam kami langsung istrirahat hingga pagi," dusta Dion.
Ia tidak mungkin menceritakan kalau Syakila belum siap untuk melakuan hubungan suami istri. Ibu nya pasti akan kecewa bila mengetahui hal itu.
"Ya sudah kalau begitu, sana kalian istirahat dulu. Ibu akan buatkan jamu untuk Syakila, biar badannya jadi segar," ucap bu Yanti yang sangat atusias.
"Maafin Syakila ya Bu, Kila belum siap buat ngelakuin itu. Kila takut, tapi Kila janji secepatnya Kila bakal ngelayanin suami Kila," kata Syakila dalam hati.
"Yuk Keong, kita ke kamar," ajak Dion sambil menyeret koper pakaian Syakila.
Dion membuka pintu kamarnya, Syakila terus mengekorinya.
Ia meletakan koper pakaian Syakila di dekat lemari pakaiannya.
Sedangankan Syakila langsung mendaratkan bokonganya di ranajang kamar itu.
"Maaf ya, kamarnya gak luas. Tapi aku janji, minggu depan kita akan pindah ke Rumah kita sendiri," ucap Dion.
"Loh! Kok pindah? Emang kita gak tinggal sama ayah dan ibu disini?" tanya Syakila dengan mengerutkan dahinya.
"Iya pindah, aku udah suruh orang buat ngurus surat-suratnya," kata Dion. "Lagian kan gak mungkin kita terus-terusan tinggal di sini," sambung Dion.
"Kenapa? Aku suka tinggal di sini sama ayah dan ibu. Mereka baik dan sayang sama aku," ucap Syakila.
"Iya aku tahu! Tapi aku pengen kita tinggal berdua biar kita bisa bebas," kata Dion "Lagian kalau di sini kita gak bisa mendesah sesuka hati kita, rumah ini enggak kedap suara. Aku aja sering denger desahan ibu sama ayah kalau mereka lagi tempur," jelas Dion sambil terkekeh kecil.
"Pak tua! Ngomongnya jorok ih.. Masa kayak gitu di dengerin," ucap Syakila sambil meraih bantal yang ada di dekatnya lalu melemparkannya pada Dion.
"Iya beneran, lagian bukan ku dengerin tapi kedengaran," kekeh Dion lagi. "Ya udah! Kamu istirahat dulu ya, aku mau kebelakang sebentar," sambung Dion lalu keluar dari kamar itu.
Bukannya istrihat, Syakila malah membereskan pakaiannya, lalu menyusunya di dalam lemari.
Ia membereskan baju-baju lama Dion.
Setelah selesai dengan baju-baju lama Dion, kini Syakila mulai membereskan buku-buku bekas yang sudah tak terpakai . Ia menumpuknya di dalam sebuah kardus besar.
Tak lama kemudian, Dion kembali.
"Loh! Keong, mau diapain semua barang-barang ini?" tanya nya sambil mendekati Syakila.
"Aku yakin! Baju dan buku-buku ini udah gak kamu pakai, jadi kita pindahin aja dari sini. Biar lebih rapi," jelas Syakila.
"Oo gitu! Tapikan aku tadi nyuruh kamu istirahat kok malah bersih-bersih?" tanya Dion.
"Aku gak capek Pak tua!" timbal Syakila.
"Ya udah! Sini aku bantuin, kita masukin aja semuanya ke Gudang," kata Dion
Mereka berdua membawa barang-barang lama Dion ke Gudang yang ada di pojok rumah itu.
Setibanya di dalam Gudang, Syakila dan Dion menaruh barang-barang yang mereka bawa.
Namun tiba-tiba, mata Syakila menatap kardus yang berisikan foto-foto keluarga Dion, dan juga foto-foto masa saat Dion masih SMA.
Syakila mendekati kardus itu.
"Mau ngapain Keong?" tanya Dion.
"Mau lihat-lihat foto keluarga itu," tunjuk Syakila. "Boleh?" tambahnya.
Dion mengaguk, Syakila segera mengambil album foto itu lalu membukanya satu persatu.
Setelah puas melihat foto-foto keluarga, Syakila beralih pada foto masa sekolah Dion.
__ADS_1
"Ini kamu, ini Raka terus ini siapa?" tunjuk Syakila pada sebuah foto yang isinya tiga pemuda tampan.
"Ooh itu.. Manusia setan," kata Dion yang acuh dengan foto itu.
Ya isi foto itu adalah Dion Raka dan Briyan saat kelulusan sekolah menengah akhir mereka.
"Loh! Ini kan foto Ibunya Bian!" tunjuk Syakila.
Matanya berkaca-kaca saat melihat foto suaminya yang berpelukan dengan seorang wanita, apalagi ia tau wanita itu memiliki anak dan tidak bersuami.
"Mana?" tanya Dion dengan santai. Ia tidak tahu jika masih ada foto Cindy yang tersisa di sana.
"Ini," Syakila memberikan foto itu, lalu berlari keluar dari gudang.
"Sialan! Kenapa masih tersisa foto jahanam ini," gerutu Dion.
Dion segera berlari mengejar Syakila.
Syakila memasuki kamar Dion, dan duduk di tepian ranjang. Dion menyusulnya dan ikut duduk di ranjang itu.
"Kamu mau tahu siapa ibunya Bian?" tanya Dion.
Syakila mengagukan kepalanya.
"Dia Cindy, mantan tunangan ku," kata Dion.
Syakila melotot. "Jangan-jangan Bian anak kamu? Terus kamu gak mau tanggung jawab!" tuding Syakila dengan air mata yang akan segera menetes.
"Hey keong! Dengerin dulu," kata Dion lalu mencubit hidung Syakila. "Dengerin dulu, baru nangis," tambah Dion.
"Lalu," kata Syakila.
"Kami sudah ingin menikah saat itu, tapi kenyataan pahit yang aku dapat," Dion mulai bercerita "Kamu tahu! Foto laki-laki yang ada bersama aku dan Raka?" Syakila menggeleng cepat.
"Dia adalah Briyan, ayah biologis Bian. Mereka berdua berselingkuh di belakang ku. Untungnya aku mengetahui hal itu, dan langsung membatalkan pertunangan kami. Briyan meninggakannya saat dia tahu bahwa Cindy tengah mengandung anaknya. Dia tidak ingin bertanggung jawab, yang lebih parahnya lagi Cindy mendatangi ayah dan ibu untuk meminta bantuan ku agar aku mau menikah dengannya dan menerima anak itu, dan tentunya aku tidak sudi. Menciumnya saja aku tidak pernah apa lagi menidurinya," jelas Dion panjang lebar.
"Terus," kata Syakila.
"Makanya waktu itu aku marah sama kamu, karena ngajak Bian ikut kita. Aku kesel liat muka nya, muka itu kayak Briyan tahu gak!" ketus Dion.
"Apa kamu masih belum terima semuanya?" tanya Syakila.
"Tentu belum, tapi bukan berarti aku masih menyukai Cindy. Aku membenci mereka sangat membenci, tapi mau bagaimana lagi. Toh Cindy sudah menerima karma nya." timbal Dion.
"Jadi kamu belum pernah ciuman dan melakukan apa-apa sama Cindy?" tanya Syakila lagi, kini dia tidak menangis lagi.
"Belum, sama perempuan lain pun belum. Cuman sama kamu, itu juga aku terpaksa karena mulut kamu gak mau diam," ucap Dion.
Syakila tersenyum mendengar perkataan suaminya.
"Tapi sekarang aku mau cium kamu lagi," bisik Dion hingga membuat Syakila bergidik ngeri.
Tanpa Aba-aba Dion langsung menyerang bibir Syakila tanpa ampun. Dan lama kelamaan Syakila membalas ciuman itu. Kini mereka berdua tengah menikmati ciuman itu, tangan Dion mulai meraba-raba dada istrinya. Sedangakan Syakila memeluk leher Dion.
"Ehemm," suara deheman mengagetkan mereka.
Ternyata deheman itu berasal dari bu Yanti yang tidak sengaja lewat dan melihat adegan panas pasangan pengantin baru itu.
"Kalau mau main bola, pintunya di kunci Mbak, Mas! Jangan di biarkan terbuka, biar mata Mbok tidak ternoda," ucap bu Yanti lalu pergi dari depan kamar Dion dan Syakila dengan terkekeh "Yes, sebentar lagi aku akan memiliki cucu," imbuh bu Yanti dengan girang.
Dengan cepat Syakila mendorong tubuh Dion, lalu berlari kekamar mandi.
***Bersambung..!!
__ADS_1
Happy reading..!!