
Ia tersenyum melihat Suaminya yang bersandar di dinding Ranjang pasien itu. Namun saat Raka melihat Aira datang, Raka langsung mengubah posisinya. Ia membelakangi Aira yang datang. Seolah tak ingin melihat Aira lagi.
"Raka.." Aira mendekati Raka yang membelakangi nya.
"Raka.. Kamu udah sadar sayang," ucap Aira sambil memegang bahu suaminya.
"Pergi lah Aira, tinggalkan aku sendiri!" ucap Raka yang menyembunyikan wajahnya.
Deg.. Aira terkejut mendengar ucapan suaminya.
"Raka.." lirih Aira.
"Ku bilang pergi! Apa kamu udah mulai tuli!" bentak Raka.
Aira menangis, hatinya terasa sakit mendengar ucapan Raka yang mengusirnya.
"Raka, kamu kenapa?" tanya Aira dengan suara tertahan.
"Ku bilang pergi! Aku udah gak mau lagi lihat kamu!"
Dion dan Syakila yang berdiri di ambang pintu Tuang rawat itu, mendengar semua ucapan kasar Raka pada Aira.
"Bawa dulu Aira pergi dari sini..!" perintah Dion pada Syakila.
Perlahan Syakila mendekati Aira.
"Aira, biarkan kak Raka sendiri dulu. Nanti Mas Dion yang akan bicara sama kak Raka," kata Syakila sambil memegang pundak Aira. "Yuk, kita keluar dulu," ajak Syakila kemudian.
Dengan perasaan sedih Aira mengikuti langkah Syakila.
Setelah Aira keluar dari Ruangan rawat itu. Raka menumpahkan tangisnya.
Dion tahu bahwa Raka sedang menangis, walaupun tidak bersuara namun getaran tubuh Raka terlihat jelas.
"Raka!" panggil Dion.
Buru-buru Raka menghapus air matanya.
"Ada apa?" tanya Raka dengan memasang wajah dingin.
"Kenapa kamu gak pernah cerita ke aku? Dan sejak kapan? Sejak kapan kamu menderita penyakit ini?" tanya Dion sambil mendekat ke arah Raka.
"Untuk apa aku cerita, kalau cuman bikin kalian semua terbebani dan ikut pusing memikirkan keadaan ku!" timbal Raka. "Masalah penyakit ini, sejak kejadian kecelakaan waktu itu. Waktu malam terakhir aku minum bersama dengan Briyan dan teman yang lainnya, seharusnya aku mendengarkan perkataan mu Yon," sambung Raka.
__ADS_1
"Papa dan mMma mu tahu masalah ini?" tanya Dion lagi.
Raka menggeleng. "Jika Mama tahu, mungkin Mama membenci Aira," kata Raka.
"Menangis lah Raka, menangis lah! Jangan pendam beban mu, jika kamu menumpuknya di dalam hati. Maka hal itu akan membuat kamu semakin sakit," kata Dion, lalu ia merengkuh tubuh lemah Raka ke dalam dekapan dadanya.
"Aku tidak berguna Dion, aku tidak berguna! Aku hanya membuat Aira dalam masalah dan dalam kesedihan, biarlah aku seperti ini membuatnya membenci ku. Agar dia menjauh dan bisa membuka hati nya untuk orang lain," kata Raka, ia menumpahkan tangisnya di dalam dekapan Dion. "Ku mohon bantu aku, agar Aira mau menjauh." sambungnya.
"Kau tahu Raka! Aira bukan lah wanita yang lemah, sudah sejauh ini dia bertahan untuk mu. Selalu percaya dengan kemukjizatan Tuhan, selalu mendukung Mu. Ku rasa tidak mudah untuk Mu membuatnya menjadi benci," kata Dion.
Diam-diam Dion menyunggingkan senyumannya. Ia merasa kagum dengan Aira dan Raka yang mampu melewati masalah Rumah tangga mereka hampir setahun lebih tanpa di ketahui Orang lain, apa masalah sebenarnya di dalam Rumah tangga mereka, bahkan kedua orang tua Raka pun tidak tahu.
"Cinta kalian begitu kuat Raka, aku berharap cinta ku dan Syakila bisa sekuat cinta kalian, aku berdoa agar kalian di berikan kebahagian setelah masalah ini oleh tuhan," ucap Dion dalam hati.
Dua hari kemudian, Raka sudah di perboleh kan pulang.
Dion dan Syakila masih setia menemani pasangan yang sedang di landa masalah berat itu.
Raka berubah 95Β° dari biasanya. Kini ia sengaja bersikap dingin pada Aira, agar Aira tidak tahan dan meminta cerai. Namun berbanding terbalik dengan Aira, semakin Raka bersikap kasar dan dingin. Maka semakin gencar juga Aira memepetnya.
Seperti sore ini, saat Dion dan Syakila sudah pulang ke kediaman mereka.
"Raka, makan ya. Aku udah masakin sayur Sup daging kesukaan kamu," kata Aira sambil meletakan semangkuk sayur Sup dan hidangan lainnya di atas meja makan.
"Jangan bohong, kamu belum makan apapun Sore ini," kata Aira, ia tahu bahwa sebenarnya Raka menelan ludah.
"Udah aku bilang, aku gak lapar. Apa kamu tuli!" teriak Raka.
"Ya udah kalo gak mau makan, aku habisin!" Aira menarik mangkuk Sup dari hadapan Raka ke hadapannya. Lalu Aira menyantap Sup daging itu tanpa nasi.
"Eumm.. Mantap," ucap Aira sambil mengunyah Daging yang ada di dalam Sup itu.
Karena tak tahan, akhirnya Raka pergi dari Ruang makan itu.
Aira hanya melirik kepergian Suaminya. Ia memasukan semua makanan yang ada di atas meja kedalam lemari.
Setelah itu, ia pergi menaiki tangga hendak menuju kamar. Ia tahu, jika ia pergi. Suaminya akan kembali ke dapur untuk makan.
Baru saja Aira sampai di lantai atas, ia sudah tersenyum saat melihat Raka berjalan mendekati lemari makanan. Di lihatnya, Raka menoleh ke kiri dan ke kanan, setelah merasa cukup aman. Raka segera mengeluarkan Sup yang ada di dalam lemari itu.
Setelah melihat Raka makan dengan lahap, Aira segera melajukan langkahnya menuju kamar.
"Aku tidak akan menyerah Raka, aku mencintaimu selamanya," kata Aira pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Malam ini Raka memilih tidur di Kamar lain. Ia tidak ingin sekamar dengan Aira, ia fikir dengan cara seperti itu akan membuat Aira membencinya.
Keesokan harinya, Dion menelpon Papa Bambang. Ia bilang ingin bertemu Papa Bambang di luar.
Dan Papa Bambang bersedia menemui Dion, kini mereka berdua janjian bertemu di sebuah Lestoran.
Dion sampai lebih dulu di Lestoran itu, sebut saja namanya Resto X.
Beberapa menit kemudian Papa Bambang juga datang.
Dion mulai menceritakan semua kepada Papa Bambang, mulut Papa Bambang terbuka lebar setelah mendengar semua cerita Dion.
Tanpa mereka sadari, Seseorang mendengar pembicaraan mereka. Orang itu menyeringai lalu pergi dari Lestoran tersebut.
"Tapi Dion mohon Om, jangan sampai semua ini bocor pada Tante Rina. Dion takut Raka akan murka pada Dion. Karena Raka meminta pada Dion untuk tidak menceritakan hal ini pada siapa pun termasuk Om dan Tante," jelas Dion.
"Kamu tenang saja Yon, Om tidak akan bilang pada Tante mu. Dan untuk sekarang ini kita harus fokus mencari pengobatan terbaik untuk Raka secepatnya. Berapapun biaya nya itu tidak masalah. Bahkan Om akan melelang semua aset berharga Om jika di butuhkan, asalkan Raka bisa menjadi Normal seperti Pria pada umumnya," kata Papa Bambang panjang lebar.
Dion mengangguk, setelah itu Dion berpamitan untuk segera pulang.
"Om, Dion pamit duluan ya," ucap Dion.
"Om juga akan kembali lagi ke Kantor," kata Papa Bambang.
Setelah itu, mereka berdua berpisah.
Kini Dion bisa lega, karena beban yang ada di fikiran nya sudah berkurang.
Kini ia harus berfikir, harus mencari kemana Orang hebat yang bisa menyembuhkan penyakit yang di derita oleh Raka.
***Bersambung..!!
Hayoo siapa yang dengar pembicaraan Dion dan si Papa?
Penasaran, penasaran! Heeπ€π€π€
Kasih othor dukungan yang banyak ya..!! Agar othor bisa semakin gencar buat up..!!
Happy reading..!!πππ
Kalau kalian berkenan tengok juga karya baru othor ya***..!!
__ADS_1