Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Saat Tanggung Tanggung nya


__ADS_3

Perlahan orang itu membekap mulut Aira.


Aira mencoba menjerit minta tolong, namun karena mulutnya di bekap. Membuat ia menjadi kesulitan untuk berteriak.


Aira terus memberontak, namun tenaga orang itu lebih kuat dari Aira. Dengan sekuat tenaga Aira mendorong tubuh orang itu, dan Aira segera beranjak dari ranjang dan menghidupkan lampu yang ada di sudut nakas samping ranjang itu.


Setelah lampu menyala, ia terkejut sangat sangat terkejut. Air mata nya menetes begitu saja.


"Benarkah! Apa aku mimpi," ucapnya sambil mendekati orang yang telah membekap mulutnya.


"Ini kamu? Bener ini kamu sayang? Ini nyata kan? Dan aku gak mimpi." Aira meraba wajah pria yang berapa bulan terakhir ini sangat ia rindukan.


"Sudah aku bilang, aku benci air mata ini," Raka menghapus bulir air mata itu.


Ya.. Orang itu adalah Raka. Rakanda Wiryawan yang sangat Aira cintai.


"Aku rindu, aku rindu Raka," Aira memeluk tubuh itu dengan sangat erat, seakan-akan tak ingin berpisah lagi.


"Aku juga rindu sayang, tiga bulan aku tidak melihat mu. Tidak memeluk dan menciummu dan tiga bulan juga aku tidak makan masakan mu," ucap Raka sambil memciumi pucuk kepala istrinya.


"Raka, kok kamu kurus? Dan ini kenapa kok ada bulu-bulu halusnya?" Aira mengurai pelukan itu, dan menyentuh wajah suaminya yang di tumbuhi jambang halus.


"Memangnya cuman aku yang kurus? Coba kamu lihat tubuh kamu, kurus juga kan?" Raka memutar-mutarkan tubuh istrinya.


"Aku diet!" bohong Aira.


"Haha, kamu gak pandai berbohong sayang," kata Raka sambil mencubit hidung istrinya.


"Au sakit," Aira memonyongkan bibirnya.


"Kita istirahat ya, aku lelah sekali," ucap Raka.


"Aku pijitin ya," Aira mengikuti langkah Raka menuju ranjang.


"Kamu gak takut kalo mau itu," Raka menujuk bagian sensitive Aira.


Aira tersipu mendengar ucapan suaminya.


Padahal selama ini, ia sangat mengingkan hal itu. Tapi entah mengapa saat Raka yang mengucapkan hal itu, membuat ia menjadi malu.


"Raka.." Aira memukul dada bidang suaminya.


"Kenapa? Aku udah kuat loh sekarang!" Raka menaik turunkan alisnya, sengaja ingin menggoda Aira. "Jangan panggil nama lagi dong!" sambung Raka.


"Terus?" tanya Aira.


"Apa aja yang penting romantis," ucap Raka.


"Sejak kapan suamiku ini suka ngegombal?" tanya Aira lagi, senyum bahagia di bibirnya sudah kembali.


"Panggil mas aja ya," kata Aira.

__ADS_1


"Mas SAYANG!" Raka menekan kata Sayang.


Aira tertawa lepas, ia sangat bahagia saat ini.


Melihat istrinya tertawa lepas, Raka ikut bahagia.


Dengan perlahan Raka mendekatkan wajahnya kewajah Aira. Aira memejamkan matanya.


Raka berbisik di telinga Aira "Ketawanya jangan keras-keras, nanti neng kunti datang karena ngira kamu temennya," seketika Aira melotot kan matanya.


"Raka..!" teriak Aira sambil mendorong tubuh Raka. Raka yang sedang memeluk pinggang Aira itu pun terjungkal bahkan Aira ikut terjerambab di atas tubuhnya.


"Hustt.." Raka meletakan jari telunjuknya di bibir Aira.


Aira diam, tidak bergerak sedikitpun dari atas tubuh suaminya.


Raka tersenyum melihat ketakutan di wajah istrinya.


"Kenapa?" mulut Aira komat kamit tak bersuara.


Mata Raka mengarah pada pusakanya, lalu kepalanya mengaguk-angguk.


Dengan tingkah konyol nya, Aira pun mengikuti arahan Raka. Seketika matanya mendelik dan langsung bangun dari atas tubuh suaminya.


"Kamu ya, ngerjain aku! Aku kira ada apa." Aira kesal dengan suaminya.


Raka terbahak-bahak, ia sangat gembira melihat kekesalan istri cantiknya itu.


Aira tidak menjawab pertanyaan suaminya. Ia malah melongos kearah lain.


"Sayang," Raka mendekati Aira, namun Aira masih tetap sama. Seolah tak mendengarkan perkataan Raka.


Karena tak mendapat jawaban dari istrinya, Raka pun menarik cengkuk leher Aira. Lalu dengan perlahan ia mencium dan mengecap bibir Aira.


Awalnya Aira tidak membalas, namun lama kelamaan Aira mengikuti permainan Raka. Semakin lama ciuman mereka semakin dalam.


Perlahan tangan Aira menyusuri tubuh suaminya, dengan bibir masih saling beradu.


Dan akhirnya, tangan Aira meraih benda mati yang sudah hidup kembali.


Dengan lembut Aira, mer*m4s benda hidup itu.


Hingga sang pemilik mengerang, karena merasa gairahnya semakin memuncak. Raka pun mendorong tubuh Aira, dan kini Raka mulai menindih tubuh istrinya.


"Sayang,!" lirih Aira.


"Hmmm," bibir Raka menyusuri seluruh wajah dan leher Aira, bahkan ia meninggalkan banyak jejak kepemilikannya di sana.


Setelah puas bermain di area itu, kini tangan nakal Raka melepas satu persatu kacing piyama istrinya.


Ia tersenyum saat melihat dua bukit kembar istrinya yang sangat indah terbalut dengan bra biru muda.

__ADS_1


Bibir Raka mulai memagut ujung dari bukit kembar itu dengan lembut.


Hingga membuat sang empu mengerang nikmat. Aira mendesah dengan tangannya meremas rambut suaminya.


Sekitar sepuluh menit bermain di area bukit kembar itu, kini Raka menghentikan sejenak aksinya.


Ia mulai melepas pakaian yang masih membalut tubuhnya.


Setelah itu, dia kembali melakukan aksinya. Namun saat ia akan memasukan tongkat mak lampirnya kedalam goa sakti Aira. Tiba-tiba saja ponsel nya berdering.


"Ahh, sial!" umpat nya.


Ia pun segera meraih celananya yang baru saja ia lepaskan. Dan berniat akan mematikan telpon itu.


Namun penelpon yang tertera di layar ponselnya ternyata adalah Mr James.


"Siapa sayang?" tanya Aira sambil menarik selimut untuk menutupi dadanya.


"Mr James, dokter hebat yang menangani aku di den hagg." timbal Raka.


"Ya udah, angkat dulu! Gak enak, lagian kan dia sudah sangat berjasa untuk kita," kata Aira.


Dengan terpaksa ia mengangkat telpon itu. Padahal ia sedang dalam mode tanggung tanggungnya.


"Hallo Mr!" sahut Raka saat panggilan itu terhubung.


"Hallo, bagaimana? Apakah anda sudah sampai?" tanya mr James.


"Sudah Mr, dan saya banyak-banyak mengucapkan terimakasih pada Anda," ucap Raka.


"Tidak perlu seperti itu, itu sudah kewajiban kita untuk saling tolong menolong," kata mr James.


Pasalnya, Raka sudah membelikan rumah dan mobil mewah untuk mr James, namun mr James menolak semua itu. Ia hanya mengambil sedikit uang Raka, dan uang yang di ambilnya itu hanya cukup untuk membeli keperluan obat-obatan dan bahan yang di perlukan selama menjalankan terapi untuk Raka sendiri.


Raka sangat berterimakasih untuk semua itu. Mr James hanya berharap bahwa Raka mau menerimanya sebagai saudara.


Raka pun sangat senang mendengar ucapan mr James, dan mr James berjanji akan mengunjunginya ke indonesia.


"Ingat Raka! Apa saja yang boleh dan tidak boleh kau lakukan dan konsumsi!" Mr James mengingatkan Raka akan hal itu.


"Tenang saja, ada istri ku yang istimewa yang akan selalu mengingatkan ku akan hal itu." timbal Raka dengan terkekeh kecil.


Hampir dua puluh menit mereka mengobrol, dan akhirnya pangilan itu mereka sudahi.


Raka hendak melanjutkan kegiatannya yang tertuda dan nanggung-nanggungnya.


Namun saat ia berbalik dan menghadap istrinya, istrinya sudah terlelap dengan tubuh polos di balik selimut tebal.


Raka hanya bisa memajukan bibir nya, ingin membangunkan istrinya. Namun ia tidak tega, karena jam juga sudah menunjukan pukul satu dini hari.


Dengan tubuhnya yang juga polos, ia pun ikut berbaring di samping istrinya. Lalu di peluknya tubuh istrinya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2