Belenggu Gairah CEO Tampan

Belenggu Gairah CEO Tampan
Episode 18


__ADS_3

Aira membuka matanya lalu menghambur kepelukan Raka.


"Raka, aku mencintaimu." kata Aira sambil memeluk erat tubuh Raka.


"Aku juga mencintaimu Aira, maafkan aku yang tidak bisa memberi mu nafkah batin." timbal Raka.


"Husst, aku tidak apa-apa Raka. Jangan bilang tidak bisa tapi belum, aku yakin kau akan sembuh Raka," ucap Aira sambil meletakan jari telunjuknya di bibir Raka.


"Aku akan mencobanya," ucap Raka, ia pun mulai mencoba aktivitas panas itu, namun lagi-lagi ia harus gagal. Berkali-kali mencoba namun berkali-kali juga ia harus menerima kegagalan.


Raka hendak pergi, dari kamar itu. Namun Aira mencegahnya, ia meminta Raka untuk membantunya menuntaskan harsatnya saat ini. Raka pun setuju akan permintaan istri.


Tahu sendiri ya! Yang sudah menikah gimana caranya itu, jadi bisa bayangin sendiri.


Setelah beberapa menit kemudian, Aira sudah selesai dengan beban yang ia rasakan saat ini.


"Terimakasih Raka," ucap Aira lalu menduselkan wajahnya pada dada bidang Raka.


"Harusnya aku yang berterimakasih pada mu Aira, sudah mau menerima kekurangan ku dan menunggu dengan sabar." timbal Raka.


"Jangan bicara seperti itu Raka, aku bahagia. Sungguh!" kata Aira


Karena merasa sama-sama lelah Akhirnya dua insan itu tertidur dengan berpelukan.


Satu jam kemudian.


Dion masuk kedalam ruangan Raka, namun di dalam ruangan itu kosong.


"Busyet dah, belum kelar juga," ucap Dion sambil menepuk dahinya.


Setelah itu dia keluar lagi.


"Loh, kok pak Dion keluar lagi?" tanya Tuti.


"Tuh! Bos sama istrinya belum selesai nga-nu nya." seloroh Dion.


"Hahaha," tawa Tuti pecah "Makanya cari istri pak, biar bisa Nga-nu juga." sambungnya.


"Kurang ajar ya kamu! Nanti kamu yang ku nga-nuin, mau kamu?" kata Dion sambil menyungutkan bibirnya.


"Hahaha, maaf pak. Tapi kalau bapak mau nga-nu sama saya, bapak bisa nikahin saya dulu kebetulan saya udah kebelet Nga-nu," ucap Tuti dengan mata yang sudah berair.


"Buahahaha," tawa Dion pecah sudah "Ya sudah yok, kita cari tempat nga-nu sekarang!" ajak Dion lalu masih dengan tertawa Dion dan Tuti melangkah pergi dari tempat itu.


Semua karyawan disana geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol Dion dan Tuti, yang sudah mengenal mereka berdua sejak lama tahu kebiasaan mereka berdua saat di kantor.


Namun untuk karyawan baru, mereka merasa bahwa candaan Dion dan Tuti adalah kebenaran dan keseriusan.


"Eh, pak Dion dan bu Tuti mau kemana?" tanya karyawan baru menghentikan langkah Dion dan Tuti.


"Mau nga-nu!" sahut Dion, Tina pun kembali terbahak.


Pegawai itu mengeryitkan dahinya. "Dasar gelo, mesum," ucap Karyawan itu lalu pergi meninggalkan Dion dan Tina yang berjalan beriringan itu.

__ADS_1


Setelah kepergian Dion dan Tuti karyawan itu bertanya kepada karyawan lain yang sudah lama bekerja di perusahaan itu.


"Eh, itu pak Dion sama bu Tuti mau kemana? Emang mereka berdua suka berbuat mesum dan aneh-aneh ya?" tanya karyawan baru.


"Mereka berdua emang gitu, kalian yang belum kenal sama mereka berdua pasti mikir kalau mereka berdua itu gak bener," ucap Karyawan yang sudah lama bekerja di sana. "Tapi hal itu hanya candaan untuk mereka berdua." sambungnya lagi.


"Lah itu tadi, katanya mereka mau nganu," ucap karyawan baru.


"Mereka berdua mau metting, gantiin CEO kita. Karena CEO kita lagi ada kerjaan di dalem sama istrinya." jelas karyawan lama.


Karyawan itu pun manggut-manggut. "Ya udah deh, kita kerja lagi," ucap karyawan baru itu dan mereka semua memulai kembali pekerjaan mereka.


Di dalam kamar yang ada di ruangan Raka.


Perlahan Raka bangkit dari ranjang itu, ia takut istrinya akan terbangun akibat pergerakannya.


Ia bangkit lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Lima belas menit kemudian, Raka keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Ia berganti pakaian setelah merasa rapi, ia keluar dari ruangan itu dan menuju ke meja kerja Tuti.


Namun saat sampai di meja kerja Tuti, orangnya tidak ada.


"Kemana Tuti?" tanya Raka pada seorang karyawan


"Tuti lagi ikut pak Dion metting pak." timbal karyawan itu.


"Oo, ya sudah. Kamu saja, tolong pesankan saya makanan untuk saya dan istri saya. Nanti kalau sudah datang tolong kamu antar keruangan saya," ucap Raka lalu kembali masuk ke ruangannya.


Tak lama, pesanan makanan Raka datang.


"Terimakasih, kamu taruh di sana saja." timbal Raka tanpa mengalihkan fokusnya dari laptop yang ada dihadapannya.


"Saya permisi dulu pak," ucap karyawan itu lagi lalu keluar dari rungan Raka.


Tak lama kemudian, datang lah client Raka dari luar kota.


Mereka berjumlah empat orang, antara lain dari mereka tiga pria dan satu gadis muda.


Yaitu pak Hendra dan anak gadisnya beserta asisten juga sekertaris pak Hendra.


Pak Hendra sengaja membawa serta anak gadisnya. Karena ia fikir Raka akan tergoda dan menyukai anaknya.


"Selamat siang pak Raka," sapa pak Hendra.


"Siang." timbal Raka.


"Oiya pak Raka, perkenalkan ini putri saya namanya Sella." kata pak Hendra


"Hmm," Raka hanya ber hmm saja tanpa melihat gadis dihadapannya.


"Ayo Sella perkenalkan diri kamu sama pak Raka," ucap pak Hendra.


"Kenalin pak, saya Sella putri dari pak Hendra," ucap Sella dengan centil sambil membusungkan dadanya, berharap Raka akan melirik tubuh montoknya.

__ADS_1


"Raka," ucap Raka membalas uluran tangan Sella.


Sella kesal pada Raka, karena Raka sama sekali tidak melirik pada bagian Dadanya. padahal dia sengaja membuka dua kancing kemeja putihnya agar gunung kembarnya di lihat oleh Raka.


Yaa,,! Wanita mana yang tidak menyukai Raka, sudah tampan pintar tajir pula.


Di dalam kamar, Aira perlahan membuka matanya. Ia mencari-cari sosok suaminya. Karena suaminya tidak ada di dalam kamar itu, Aira pun keluar dengan hanya membalut tubuhnya dengan selimut.


Tanpa melihat kiri kanan dan kearah sofa di mana ada empat orang disana, ia langsung saja menuju meja kerja Raka.


"Sayang, aku lapar," ucap Aira.


Mata ketiga pria yang ada disana melolot melihat tubuh Aira yang hanya di balut selimut tebal.


Sedangkan dengan Sella, ia menjadi sangat dongkol. Sella pun memukul bahu ayahnya dengan keras.


"Ayah, apaan sih!" kata Sella "Udah tua juga masih ganjen." sambungnya.


"Tidak ada salahnya cuci mata kan Sell, lagian Ayah juga sudah lama menduda." timbal pak Hendra.


"Kamu makan di dalam duluan ya," ucap Raka lembut pada Aira.


"Tapi kan, kamu juga belum makan." kata Aira dengan manja dan belum menyadari ada orang lain di dalam ruangan itu.


"Ehem," asisten pak Hendra yang terkenal dingin dan acuh tak acuh berdehem.


Aira pun menolehkan kepalanya, betapa terkejutnya dia melihat banyak orang di ruangan itu.


Aira berlari dan bersembunyi di balik tubuh Raka.


"Sayang, kamu kok gak kasih tahu aku kalau ada orang," lirih Aira.


"Aku kira kamu udah tau." timbal Raka.


"Maafkan atas ketidak nyamanannya pak Hendra, saya lupa bahwa di dalam ada istri saya," ucap Raka sembari tersenyum. "Kalau begitu, saya izin untuk mengantarkan istri saya kedalam sebentar." sambung Raka sambil membawa box cake dan kantung kresek makanan itu menuju kamar.


"Oo, tidak apa-apa pak Raka, silahkan." timbal pak Hendra.


"Ayah, ternyata wanita itu istrinya bukan wanita panggilan." kata Sella dengan raut wajah kecewa.


"Sudahlah Sella, ayah juga sudah sangat senang karena pak Raka mau bekerja sama dengan kita." timbal pak Hendra.


Di dalam kamar.


"Raka, kok kamu tadi gak bangunin aku," ucap Aira.


"Aku kasian dan gak tega bangunin kamu sayang." kata Raka sambil membukakan makanan untuk Aira. "Ni kamu makan yang banyak, aku keluar dulu ya. Gak enak sama pak Hendra." sambung Raka


Setelah mendapat anggukan dari Aira, Raka pun keluar dari kamar itu.


***Bersambung..!!


Othor kasih tahu lagi ya..!!

__ADS_1


Jangan lupa kasih coment dan hadiah nya***..!!


__ADS_2