
Setelah menempuh perjalanan selama lima puluh menit. Aira pun sampai di depan gedung perusahaan yang menjulang tinggi milik mertua nya itu.
"Pak, Raka nya ada?" tanya Aira
"Oh.. Ada Mbak. Silahkan mbak masuk dan life nya yang sebelah sana," ucap Resepsionis itu dengan ramah. Karena ia tahu bahwa Aira adalah istri dari Raka CEO mereka.
Saat Aira memasuki kantor itu, semua karyawan menunduk hormat. Aira pun keheranan melihat semua karyawan-karyawan itu tapi dia tak mau memikirkan mereka, dengan cuek dan tak memperdulikan karyawan-karyawan yang sedang menunduk itu langsung saja Aira masuk kedalam life.
Saat ia sampai di depan pintu ruangan Raka, Aira pun mengetuk pintu itu terlebih dahulu.
"Masuk," ucap seseorang di dalam.
Perlahan Aira melangkah mendekati suaminya. Namun Raka sama sekali tidak menoleh nya.
"Sibuk banget," ucap Aira
"Iya, kalau ada yang perlu Saya tanda tangani taruh saja disana." ucap Raka sambil menujuk pojok meja kerjanya sedangkan pandangan nya masih tertuju pada tumpukan berkas yang hadapannya.
"Ya udah.. Makanannya aku taruh sini ya. Kalau kamu lagi sibuk aku pulang aja," ucap Aira.
Dan dengan seketika Raka mendongakkan wajahnya pada Aira.
"Sayang, ternyata kamu. Aku kira karyawan yang ngantar berkas," ucap Raka tersenyum manis sambil menutup berkas yang ada dihadapan nya.
"Katanya lagi sibuk! Kok di tutup berkas nya?" tanya Aira.
"Aku kan mau makan sama kamu." timbal Raka "Kamu masakin aku apa?" sambung Raka
"Ini aku masak Capcai, sama Ayam rica-rica," ucap Aira sambil membuka rantang makanan itu.
"Kamu bawa banyak, kita ajak Dion makan bareng kita ya," ucap Raka.
"Iya, kak Dion nya mana emang?" tanya Aira.
Raka pun menghubungi Dion.
"Kenapa?" tanya Dion di sebrang sana
"Kesini bawa peralatan makan untuk aku dan kamu juga," ucap Raka lalu mematikan sambungan telpon itu.
Tak lama Dion pun datang dengan Dua piring sendok dan garpu di tangannya.
"Ni piringnya," ucap Dion menyerahkan piring itu pada Raka.
Dengan telaten Aira mengisi piring Raka dan Dion.
"Nih.. Di habisin," ucap Aira sambil menyerahkan salah satu piring yang sudah ia isi kepada Dion.
Dion pun menerima piring itu lalu duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Sayang.. Suapin," pinta Raka dengan manja.
Dengan malu Aira pun menyuapi Raka begitu pula dengan Raka sesekali ia menyuapi Aira.
__ADS_1
Begitu seterusnya hingga makanan mereka habis.
"Kak Dion mau nambah? Ni habisin semuanya." kata Aira.
"Isi," ucap Dion sambil menyodorkan piringnya pada Aira.
Raka pun melotot pada Dion. Namun Dion pura-pura tidak melihatnya.
Aira pun terkikik geli melihat kelakuan dua mahluk hidup di depannya.
Setelah mereka makan siang, Dion pun keluar dari rungan Raka dengan membawa piring kotor di tangannya.
Setelah kepergian Dion.
Raka pun bertanya pada Aira perihal mama Rina dan Intan yang di sengat lebah.
"Sayang, kenapa kok mama sama Intan bisa di sengat lebah?" tanya Raka sambil menatap wajah Aira.
Aira menundukkan wajahnya karena takut Raka akan marah padanya.
"A-nu itu Raka aku ta-di," ucap Aira terbata.
"Tadi apa?" tanya Raka sambil menggeser duduknya agar semakin dekat dengan Aira.
"Maaf'in aku Raka, tadi mama dan Intan tersengat lebah karena aku," ucap Aira dengan takut-takut.
"Kamu gak perlu takut Aira, dengan kamu berani melawan mama dan Intan. Jadi aku gak khawatir lagi ninggalin kamu di rumah." kata Raka lalu memeluk Aira. "Mbok Ani udah cerita semua sama aku, aku senang dengar kamu bisa mengatasi mama dan juga Intan.
"Iya." timbal Aira.
Setelah itu Raka kembali mengerjakan pekerjaan nya. Dan Aira duduk-duduk di sofa dengan bermain ponsel di tangannya.
Karena terlalu lama menunggu Raka, membuat Aira merasa mengantuk dan akhirnya Aira tertidur meringkuk di sofa itu.
Raka tersenyum melihat istrinya yang sudah terlelap, ia mendekati istrinya dan membenarkan posisi tidur Aira.
"Aku sayang dan cinta sama kamu Aira, walaupun aku tidak normal seperti Pria pada umumnya tapi aku sangat bahagia memiliki kamu yang mau menerima aku apa adanya." lirih Raka lalu ia mencium kening Aira.
Setelah itu ia segera menyelesaikan pekerjaan nya.
Tak lama kemudian Briyan datang ke kantor itu dan masuk ke ruangan Raka tanpa permisi.
"Hay bro.."sapa Briyan dengan senyum khasnya.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Raka
"Emangnya gak boleh ya?" bukan nya menjawab pertanyaan Raka, Briyan malah balik tanya.
Perlahan Briyan melangkah mendekati Aira yang sedang tertidur.
Ia pun mendudukkan bokongnya di samping Aira.
Lalu ia meraih tangan Aira dan mencium punggung tangan itu.
__ADS_1
"Istri mu cantik sekali Raka," ucap Briyan hingga membuat Raka emosi.
"Jangan ganggu istri ku Briyan, masih banyak wanita lain di luar sana," ucap Raka dengan wajah kesal.
Raka pun ikut mendekat pada istrinya yang sedang tertidur.
"Tidur saja sudah membuat aku bergairah, apa lagi di tiduri." kata Briyan dengan terkekeh.
"Jangan main-main Briyan!" bentak Raka.
"Tenanglah.. Aku hanya bercanda. Kenapa kamu marah-marah?" tanya Briyan dan semakin terkekeh. "Aku ini teman mu, kenapa kamu bisa takut seperti itu!" sambung Briyan.
Raka memandang sinis pada Briyan.
Tiba-tiba saja Aira membuka matanya, ia sangat terkejut dan menjadi takut saat melihat Briyan ada di atas kepalanya.
"Raka.." lirih Aira yang matanya masih fokus menatap Briyan, karena fikir Aira ia hanya salah lihat.
"Aku disini sayang!" sahut Raka yang ada di ujung kaki Aira.
Aira pun menoleh ke ujung kakinya, setelah ia melihat Raka ada di ujung kaki nya Aira pun langsung bangkit lalu memeluk Raka. "Aku takut sama kak Briyan," lirih nya di pelukan Raka.
"Hay Aira.." sapa Briyan
Aira pun menoleh dan memaksakan senyumanya.
"Kenapa kamh terus memeluk suami mu? Aku juga mau dong di peluk kayak gitu," ucap Briyan dengan dengan nada candaannya.
Mendengar ucapan Briyan, Aira menjadi semakin mempererat pelukan itu.
"Jangan takut.. Briyan hanya bercanda. Dia memang seperti itu orangnya," ucap Raka pada Aira
Dan perlahan Aira melepaskan pelukannya.
"Aku jadi semakin penasaran pada istrimu Raka, suatu saat nanti dia pasti akan jadi milik ku. Jujur saja saat aku pertama melihatnya aku merasakan debaran aneh di jantung ku, istrimu sungguh membuat ku mabuk kepayang," ucap Briyan dalam hati.
"Ada perlu apa kamu kesini Briyan, tumben sekali," ucap Raka
"Aku merasa bosan, jadi aku kemari menemui mu. Oiya dimana Dion?" tanya Briyan.
"Dia ada dirungan nya." timbal Raka.
Mendengar jawaban Raka, Briyan pun sedikit memonyongkan bibirnya dan mengangguk-angguk kan kepalanya.
Ya.. Raka, Dion dan Briyan adalah sahabat saat di bangku SMA. Namun Briyan mempunyai sifat yang buruk berbeda dengan Raka dan Dion.
Briyan seringkali memaksakan kehendak nya terhadap orang lain. Dan apa yang ia inginkan harus ia dapatkan oleh karena itu Raka dan Dion menjadi semakin tidak suka dengan Briyan bukan tidak suka dengan orangnya melainkan dengan perilaku buruk yang ada di dalam diri Briyan.
***Bersambung..!!
Jangan lupa tinggalkan jejak.. Like, Coment dan juga kasih Hadiah ya..!
😘😘😘***
__ADS_1