Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 100


__ADS_3

Acara pernikahan di hari pertama selesai. Sementara di luar masih terdengar berbagai acara hiburan untuk warga, Dea, Alfa dan seluruh keluarganya sudah berkumpul di dalam rumah Susi.


"Ayo, Alfa! Kami butuh penjelasan sekarang!" ucap Tuan Harry dengan wajah tegas menatap Alfa yang sejak tadi hanya bisa cengengesan sambil meremass-remass kedua tangannya secara bergantian.


Bukannya diberikan waktu untuk beristirahat, Alfa malah disuruh menjelaskan semua kebohongannya di hadapan Tuan Harry, Nyonya Kharisma, Susi, Herman serta Dea. Tidak ketinggalan, David, Nadia dan Ervan yang juga berada di ruangan itu.


"Sebenarnya itu ... ehmmm." Alfa menggaruk kepalanya sembari melirik David yang juga tidak kalah paniknya.


"Aku sengaja menyembunyikan ini dari kalian, Mom, Dad. Entah kenapa saat itu aku sangat yakin bahwa kalian tidak akan pernah menyetujui pernikahan ini. Dan untuk Mas Herman, Mbak Susi serta Dea, aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena sudah membohongi kalian soal Mommy dan Daddy," Alfa tertunduk lesu.


Tuan Harry mengerutkan alisnya kemudian menatap Herman yang duduk tepat di hadapannya. "Memangnya apa yang dikatakan oleh Alfa tentang kami, Nak Herman?"


"Kata Alfa, Anda berdua sudah tua dan tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Sebab itulah Tuan dan Nyonya tidak bisa berhadir di pesta pernikahan ini," jelas Herman apa adanya.


"Keterlaluan! Kamu mendoakan kami agar menjadi seperti itu, ya!" pekik Tuan Harry dengan mata membulat menatap Alfa.


"Ah, tidak-tidak, Dad! Sumpah, maafkan aku!" Alfa menangkupkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah memelas menatap mommy dan daddy-nya.


"Dan kamu, David! Kamu pun akan mendapatkan hukuman karena sudah membantu Alfa membohongi kami. Kamu tahu apa hukuman untukmu?"


Wajah David seketika memucat. "Berilah saya hukuman apa saja, asal jangan pecat saya, Tuan Harry."


David melirik Alfa dan seolah memelas, meminta bantuan kepada pemuda itu.


"Ehm, Daddy. Sebenarnya Om David tidak salah. Tapi aku lah yang salah karena meminta dirinya untuk menutupi semua ini," lirih Alfa lagi.


"Huft!" Tuan Harry benar-benar kesal. "Nak Herman, semuanya aku serahkan kepadamu. Berikan hukuman apa saja untuk anak ini! Biar dia jera," lanjut Tuan Harry kepada Herman.


Herman menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kecut. "Ehm, saya memilih untuk memaafkannya saja, Tuan Harry. Setelah dipikir-pikir ini hanya kesalahpahaman saja."

__ADS_1


"Wah, terima kasih, Kakak Ipar!" Alfa refleks berdiri dan berniat menghampiri Herman. Namun, tiba-tiba sebuah bantal melayang ke arahnya. Bantal yang sengaja dilemparkan oleh Tuan Harry.


Bugkhhh!


"Aww!"


"Terima kasih-terima kasih!" gerutu Tuan Harry.


Sementara itu.


Nadia beberapa kali melirik Dea. Gadis itu ingin sekali mengajak Dea bicara empat mata. Hingga akhirnya Dea pun mengerti. Setelah meminta izin kepada kakak dan kedua mertuanya, Dea pun mengajak Nadia untuk bicara di ruangan lain.


"Ada apa, Nad?"


"Ehmm, Dea, sebenarnya ini ...." Nadia menghentikan ucapannya. Ia menoleh ke belakang dan di sana Alfa sedang berjalan sambil mendorong kursi roda milik Ervan.


Dea memasang wajah malas kemudian membuang pandangannya ke arah lain. Nadia mengelus punggung Dea dan menatap wajah sahabatnya itu dengan tatapan sedih.


Dea hanya tersenyum sinis mendengar penuturan Nadia. Sementara Alfa dan Ervan kini sudah berada di samping kedua gadis itu.


"Dea, maafkan aku." Kepala Ervan tertunduk dan saat itu juga air matanya menetes tanpa bisa ia tahan. "Aku tahu, kesalahanku terlalu besar dan tidak patut untuk dimaafkan. Namun, selama aku tidak meminta maaf kepadamu, aku tidak akan pernah hidup tenang, Dea."


Dea tetap diam dengan tatapan yang masih tertuju ke arah lain. Melihat reaksi Dea, Alfa pun mencoba menenangkannya. Ia meraih tangan Dea secara perlahan, tetapi malah ditepis oleh gadis itu.


"Lepaskan tanganmu!" Dea menatap Alfa dan Ervan secara bergantian dengan tatapan sinis. "Melihat wajah kalian berdua, tiba-tiba saja aku mual dan ingin muntah! Kalian tahu kenapa? Karena kalian itu menjijikkan!"


Alfa dan Ervan saling melempar pandang dengan wajah sedih. "Dea—"


"Cukup, Alfa! Jangan mencoba merayuku!" kesal Dea.

__ADS_1


"Dea, hukumlah aku. Kalau perlu laporkan saja perbuatanku kepada pihak yang berwajib. Aku tidak akan mengelak. Aku akan mengakui semua perbuatanku. Tapi, kumohon maafkan aku," lirih Ervan lagi.


"Aku ingat betul bagaimana perlakuanmu malam itu terhadapku. Malam itu kamu memukulku dengan sangat keras hingga sudut bibirku pecah dan berdarah. Apa kamu masih ingat itu, Tuan? Atau kamu malah lupa akan hal itu?"


Ervan mengangguk pelan. "Ya, aku ingat itu, Dea. Malam itu aku memang sangat keterlaluan."


"Bukan hanya keterlaluan, Tuan! tapi ... akh!" Dea memegang perutnya dan wajahnya tampak meringis kesakitan. Perutnya kram karena Dea terlalu memendam emosinya.


Alfa refleks menghampiri Dea dan mengajaknya untuk duduk di sebuah kursi. "Dea, kamu tidak apa-apa? Apa kita perlu ke Rumah Sakit?" tanya Alfa yang kini berjongkok di hadapan Dea dengan wajah panik dan tangannya terus mengelus lembut perut Dea.


Begitu pula Ervan dan Nadia, mereka tidak kalah panik. Mereka pun tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada Dea maupun bayi dalam kandungannya.


Dea coba mengontrol emosinya. Menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kembali. Setelah perutnya sudah mulai membaik, ia pun kembali fokus pada Ervan yang juga tampak panik.


"Satu, dua! Bukan kah kalian bertiga, sekarang di mana lelaki itu? Apa kah dia tidak ingin meminta maaf kepadaku sama seperti kalian?"


Alfa dan Ervan kembali lempar pandang untuk beberapa saat.


"Apa aku sudah lupa, atau aku memang tidak pernah menceritakannya kepadamu, Dea. Malam itu kami mengalami kecelakaan. Aku mengalami koma hingga kehilangan sebagian ingatanku, Ervan harus kehilangan kakinya dan Arman—" Ucapan Alfa tertahan. Ia tidak sanggup melanjutkannya.


"Arman meninggal di tempat, Dea. Kami harap kamu dapat memaafkan kesalahannya, biar ia tenang di sana," sambung Ervan.


Dea tersentak kaget. Ia tidak memperhatikan kondisi Ervan sebelumnya dan ternyata benar, kaki lelaki itu sudah tidak ada dan Dea tampak sedih melihatnya.


"Ja-jadi, lelaki itu sudah meninggal?" lirih Dea.


"Ya, Dea. Jika kamu tidak percaya, aku bisa mengajakmu mengunjungi makamnya," ucap Alfa.


Dea menggeleng pelan. "Tidak perlu, sekarang aku percaya."

__ADS_1


...***...


__ADS_2