
"Alfa, untunglah kamu datang!" Cecilia mendorong tubuh Mateo dengan kasar hingga lelaki itu terjengkang. Ia segera menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya kemudian bangkit dari tempat tidur dan merengek kepada Alfa seolah-olah ia adalah korban pelecehan.
"Tolong aku, Alfa! Aku dipaksa melayani napsu bejat lelaki ini. Dia mengancam akan membunuhku jika aku tidak menuruti keinginannya," lirih Cecilia sambil terisak di hadapan Alfa.
Cecilia mencoba mendekati Alfa dan ingin memeluk tubuh lelaki itu. Namun, Alfa menolaknya. Ia mengulurkan tangan ke hadapan Cecilia, agar wanita itu bisa menjaga jarak darinya.
Mendengar tuduhan yang dilontarkan oleh Cecilia tersebut, Mateo pun marah dan ia tidak terima jika dikatakan seperti itu. Mateo menggelengkan kepalanya dengan cepat kemudian berkata kepada Alfa.
"Tidak! Itu sama sekali tidak benar. Wanita ini memang sangat pandai bersandiwara. Aku ke sini atas permintaannya dan aku punya bukti yang kuat untuk itu!" tegas Mateo sembari mengenakan kembali celana boxer-nya.
Mateo meraih ponsel miliknya kemudian membuka pesan chat antara ia dan Cecilia kemarin sore. Di sana terlihat jelas bagaimana isi chat milik Cecilia, di mana wanita itu meminta Mateo untuk menemaninya tadi malam.
"Lihatlah ini!" Mateo ingin menyerahkan ponselnya kepada Alfa, tetapi Alfa menolaknya.
"Tidak perlu. Aku percaya kata-katamu," jawab Alfa dengan santainya.
"Apa?!" pekik Cecilia yang tidak menyangka bahwa jawaban Alfa akan seperti itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah mempercayai ucapan lelaki ini, Alfa? Di sini aku menjadi korban yang sesungguhnya dan kamu malah membela penjahat ini?!" protes Cecilia, masih memegang selimut di dadanya.
Alfa tertawa. "Korban? Korban apa, Cecilia? Haruskah aku harus mempercayai kata-katamu setelah dua kali kamu melakukan ini di depan mata kepalaku?" ucap Alfa sambil tertawa pelan.
"Du-dua kali? Apa maksudmu dua kali?" pekik Cecilia yang tampak kebingungan.
"Sudahlah, tidak usah berpura-pura lagi, Cecilia. Aku sudah ingat semuanya. Dan jujur, saat ini aku sama sekali tidak kecewa melihat apa yang kalian lakukan di ruangan ini. Kebetulan sekali, tujuanku ke sini memang ingin mengakhiri hubungan sandiwara kita."
Cecilia menggelengkan kepala dengan cepat. Ia tidak terima jika Alfa memutuskan hubungan untuk kesekian kalinya.
"Tidak, Alfa. Jangan lakukan itu, aku sangat mencintaimu, Alfa. Kumohon jangan putuskan aku," lirih Cecilia sembari mencoba membujuk Alfa.
Napas Cecilia tampak memburu. Ia kesal sekaligus malu pada saat itu. "Ya, aku akui bahwa kamu memang benar. Tapi semua ini tidak akan terjadi jika Mommy dan Daddy-mu tidak memintaku untuk bersandiwara menjadi kekasihmu sama seperti dulu. Jadi, salah kah aku jika aku menerimanya dan ikut memanfaatkan kondisimu?" jawab Cecilia dengan ketus.
Alfa tersenyum kemudian mundur beberapa langkah ke belakang. "Baguslah. Jadi semuanya sudah jelas. Namun, aku berharap perpisahan ini tidak akan menimbulkan kebencian di antara kita, Cecilia."
"Keluar dari sini!" kesal Cecilia yang sudah tidak dapat menahan emosinya.
__ADS_1
Baiklah, aku akan keluar!" jawab Alfa sembari melenggang dengan santainya dari ruangan itu.
Bukan hanya Alfa, Mateo pun bergegas pergi meninggalkan Cecilia yang kini tengah berteriak kesal di ruangan itu. Mencaci maki dirinya dan juga Alfa.
Betty mencoba menenangkan Cecilia, tetapi malah ia yang terkena imbasnya. Betty di dorong dengan kasar oleh Cecilia dan turut dicaci-maki oleh wanita cantik itu.
Alfa masuki mobilnya dan bersiap menuju Rumah Sakit. Ia belum tahu bahwa Dea sudah pergi dari tempat itu karena pihak Rumah Sakit masih belum mengkonfirmasi kepada dirinya tentang hal itu.
"Aku harus menemui Dea dan menjelaskan semuanya." Alfa membuang napas berat. "Ya, Tuhan! Aku mohon, buatlah Dea mengerti dan bisa memaafkan semua kesalahanku," sambung Alfa.
Setibanya di Rumah Sakit, Perawat yang bertugas menjaga Dea, bergegas menghampiri Alfa. Ia meminta maaf serta menjelaskan yang terjadi di hari itu kepada Alfa. Di mana Dea kekeh ingin pulang tanpa mempedulikan peringatan darinya.
Alfa terdiam sejenak dan ia pun tidak ingin menyalahkan perawat itu. "Baiklah, Sus. Tidak apa-apa. Aku masih bisa menemui gadis itu di tempat tinggalnya."
Perawat itu mengangguk pelan dengan tubuh sedikit membukuk di hadapan Alfa. Ia mengucapkan terima kasih kepada lelaki itu dan segera pamit.
Setelah membayar biaya Rumah Sakit, Alfa pun kembali melaju menuju kontrakan Dea. Ia sangat yakin bahwa gadis itu tidak akan pernah mau kembali ke perusahaannya lagi. Sebab itulah ia memutuskan untuk menuju kontrakan Nadia dan Dea.
__ADS_1
...***...