Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 103


__ADS_3

"Dea, kamu kenapa, Nak?" pekik Nyonya Kharisma sembari menghampiri Dea yang tengah bersandar di salah satu dinding kamar mandi milik Alfa. Wajahnya tampak memucat dan kelelahan.


Nyonya Kharisma mencoba membantu Dea bangkit dari tempat itu. Namun, karena tenaganya tidak cukup kuat, akhirnya Nyonya Kharisma berlari keluar kamar kemudian berteriak dengan lantang memanggil Alfa.


"Alfa, kemarilah! Cepat tolong istrimu!"


Teriakan Nyonya Kharisma terdengar dengan sangat jelas di telinga Alfa. "Dea! Ya Tuhan, apa yang terjadi padanya!"


Tanpa pikir panjang Alfa pun bergegas menuju lift dan berlari menuju kamarnya.


"Mommy! Dea! Kalian di mana?!" teriak Alfa yang panik kemudian mencari keberadaan Dea dan mommy-nya tersebut.


"Alfa, kami di sini! Cepatlah, Nak!"


Terdengar jawaban dari dalam kamar mandi. Alfa bergegas masuk ke dalam ruangan tersebut dan ia begitu terkejut setelah melihat kondisi Dea yang terlihat begitu lemah, tersandar di salah satu sudut ruangan.


"Astaga, Dea! Kamu kenapa?"


Alfa segera menghampiri Dea dan mengangkat tubuhnya. Sementara Nyonya Kharisma mengikutinya dari belakang sambil memegang minyak kayu putih yang ia ambil dari kotak obat.


Setelah merebahkan tubuh Dea, Alfa pun segera duduk di samping tempat tidurnya. "Kamu kenapa, Dea?" tanya Alfa sambil mengelus puncak kepala Dea.

__ADS_1


"Pusing dan mualku kembali menyerang, mungkin ini efek dari perjalanan tadi," lirih Dea dengan mata terpejam.


Tiba-tiba Nyonya Kharisma menaiki tempat tidur Alfa dan duduk di samping tubuh Dea. "Sini, Dea! Biar Mommy pijitin kamu," ucap wanita paruh baya itu.


Dea membuka matanya kemudian menggeleng pelan sambil tersenyum menatap Nyonya Kharisma. "Tidak usah, Mom. Aku sudah biasa seperti ini," jawab Dea.


"Jangan menolak. Yuk, sini biar Mommy kasih pijatan lembut di punggung serta kakimu biar hangat."


Nyonya Kharisma mencoba melepaskan Dress yang Dea kenakan saat itu. Dea sempat menolak, tetapi wanita paruh baya itu tidak peduli. Ia tetap kekeuh pada pendiriannya.


Dea tampak malu-malu karena di dalam kamar tersebut ada Alfa yang masih menatapnya lekat tanpa berkedip sedikit pun. Namun, setelah ia pikir-pikir, tidak ada gunanya malu kepada lelaki itu. Toh, Alfa sudah sah menjadi suaminya.


Setelah dress yang dikenakan oleh Dea terlepas, kini tubuh mulus gadis itu terpampang jelas di depan mata Alfa. Tubuh mulus yang hanya ditutupi oleh braa serta cd untuk menutupi area pribadinya. Alfa tersipu malu, wajahnya tampak memerah dan segera memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Dulu, ketika Mommy mengandung Alfa di trimester pertama, Mommy juga merasakan hal yang sama seperti yang kamu alami saat ini, Dea. Makanya Mommy tahu, bagaimana rasanya," tutur Nyonya Kharisma, masih memijat punggung Dea dengan lembut.


"Sampai berapa bulan baru enakkan, Mom?" tanya Dea penasaran.


"Yang parah itu ketika di trimester pertama. Setelah trimester ke-dua dan ke-tiga, rasa itu mulai berkurang dan tidak sesering di trimester pertama. Tapi ya, itu! Tetap aja rasanya tidak enak."


Nyonya Kharisma melirik Alfa yang duduk tak jauh darinya. "Hmm, sekarang kamu tahu 'kan, Alfa bagaimana susahnya kami sebagai seorang wanita ketika mengandung. Makanya jangan pernah berani macam-macam sama wanita!"

__ADS_1


Alfa menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecut. "Ok, Mom! Akan selalu kuingat itu. Oh ya, aku keluar dulu. Aku ingin mengambilkan minuman hangat untuk Dea," ucapnya sembari berdiri kemudian melenggang pergi.


Nyonya Kharisma mencebikkan bibirnya sambil menata Alfa yang sudah pergi menjauh. "Hmmm, alasan! Bilang saja kalau sebenarnya dia tidak ingin mendengar celotehanku lebih lama lagi!"


Dea tanpa sadar sudah menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya. Entah mengapa ia merasa sangat nyaman saat berada bersama mereka. Berbeda halnya saat ia tinggal bersama kakak dan kakak iparnya.


"Selesai. Sekarang berbaliklah," titah Nyonya Kharisma.


Dea pun segera mengubah posisinya. Ia bangkit dari posisinya kemudian bersandar di sandaran tempat tidur sambil menatap wajah Nyonya Kharisma yang saat ini tengah tersenyum kepadanya.


"Sini, biar Mommy pijat kakimu," ucap Nyonya Kharisma sembari meraih kaki Dea.


Dea sontak menarik kakinya kembali dan menepis tangan wanita paruh baya itu dengan lembut. "Jangan, Mom. Aku tidak enak," ucap Dea sambil menggeleng pelan.


"Tidak apa, Dea. Mommy bahkan sering memijat kaki Alfa. Coba saja tanyakan dia kalau tidak percaya. Sekarang kamu 'kan anaknya Mommy, jadi tidak usah sungkan begitu."


"Jangan, Mom! Aku tidak bisa," elak Dea sekali lagi.


Nyonya Kharisma menatap Dea dengan mata malas. Namun, tangannya tetap bergerak. Meraih kaki Dea kemudian meletakkannya di atas pengakuannya.


"Sudah, jangan keras kepala!"

__ADS_1


Sama seperti tadi, Dea pun tidak bisa berkutik dan akhirnya mengalah. Membiarkan mommy-nya melakukan keinginannya.


...***...


__ADS_2