Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 98


__ADS_3

"Nah, itu dia pak penghulunya. Sebaiknya kamu siap-siap, Alfa," ucap Herman sembaru menepuk pelan pundak Alfa.


Alfa menarik napas panjang kemudian menghembuskannya kembali dengan perlahan. "Baik, Mas. Aku siap!"


Pak Penghulu yang bertugas menikahkan Dea dan Alfa hari ini, memang datang terlambat karena ada sesuatu hal yang tidak bisa beliau tinggalkan.


Baru saja Alfa dan Dea ingin melangkah menuju tempat di mana acara akad mereka berlangsung, tiba-tiba saja terdengar suara gemuruh dari atas langit.


Seluruh mata kini tertuju ke atas langit dan tatapan mereka tertuju pada sebuah helikopter yang terbang rendah dengan membawa sebuah spanduk besar bertuliskan,


'Happy Wedding—Alfa dan Dea'.


Mata Alfa membulat sempurna ketika ia selesai membaca tulisan di spanduk tersebut. Bukan hanya itu, ia begitu kenal siapa pemilik helikopter tersebut. Alfa menatap David yang ternyata juga sedang menatapnya dengan mata terbelalak.


"Daddy!? Tapi bagaimana bisa!" pekik Alfa dengan setengah berbisik.


David mengangkat kedua bahunya sambil menggeleng pelan. "Saya tidak tahu, Tuan!" sahut David yang hanya menggunakan isyarat bibir.


"Busyettt, habislah riwayatku!" pekik Alfa sembari menyeka keringat dingin yang kini mengucur di pelipisnya.


Walaupun pelan, tetapi Dea dapat mendengar celetukan lelaki itu dengan sangat jelas. Dea yang tadinya juga tengah asik memperhatikan helikopter, tiba-tiba menatap Alfa dengan tatapan heran.


"Kamu kenapa? Apa ada masalah denganmu?" tanya Dea dengan penuh selidik.


Alfa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum getir. "Tidak-tidak! Tidak ada masalah apa pun, kok. Kamu tenang saja."

__ADS_1


"Apa kah heli itu salah satu kejutan darimu?" Dea memicingkan matanya saat menatap Alfa.


Alfa kembali mengelus tengkuknya. Ia bingung harus menjawab apa. Jika ia berkata jujur dan mengatakan bahwa helikopter tersebut tidak ada dalam daftar, mungkin Dea akan kembali mencurigainya. Dan dengan terpaksa, Alfa pun mengangguk.


"Ya, itu adalah salah satu kejutan dariku. Apa kamu menyukainya?" tanya Alfa balik.


"Alfa, Dea, kami datang!"


Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita paruh baya yang datang mendekat ke arah mereka. Alfa dan Dea sontak menoleh.


Dea yang sama sekali tidak mengenali wanita itu, terlihat heran dan bingung. Namun, beda halnya dengan Alfa. Alfa tahu benar siapa yang sedang berjalan ke arahnya dengan wajah berbinar tersebut.


"Astaga, Mommy!" pekik Alfa sambil memijit pelipisnya.


Bukan hanya Nyonya Kharisma, di belakang wanita itu tampak Tuan Harry tengah berjalan dengan santainya. Lelaki paruh baya itu melemparkan senyuman hangatnya kepada seluruh warga desa Muara Asri yang kini menjadi tamu undangan di pesta pernikahan Alfa.


Kini Alfa tampak pasrah, ia siap menerima hukuman apa pun yang akan diberikan oleh kedua orang tuanya tersebut. Namun, jika mereka meminta Alfa untuk membatalkan pernikahannya bersama Dea, maka dengan tegas Alfa akan menolaknya.


"Ya ampun, Alfa! Kamu tampan sekali, Nak!" pekik Nyonya Kharisma yang kini sudah berdiri tepat di hadapannya dan Dea. Ia menyentuh kedua pipi Alfa dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu sungguh keterlaluan, Alfa!" Tuan Harry yang kini berdiri di samping Nyonya Kharisma, menggelengkan kepalanya sambil bertolak pinggang.


Sementara Dea hanya bisa terpelongo saat memperhatikan pasangan paruh baya itu. Bukan hanya Dea, Susi dan Herman pun tidak kalah bingung kala itu.


"Mereka itu siapa, Mas? Apa kah mereka orang tua Alfa? Tapi bukankah kamu pernah bilang padaku bahwa orang tua Alfa sudah tua dan tidak mungkin bisa berhadir ke pesta pernikahan Alfa dan Dea?" tanya Susi dengan wajah heran menatap Herman.

__ADS_1


"Ya, kata Alfa memang seperti itu. Dan aku sama sekali tidak kenal siapa mereka," jawab Herman dengan dahi yang berkerut.


Sementara itu.


"Mommy, Daddy. Maafkan aku, tapi jika kalian ke sini hanya untuk membatalkan pernikahanku bersama Dea, sebaiknya Mommy dan Daddy pulang saja," ucap Alfa sembari meraih tangan Dea kemudian menggenggamnya dengan erat.


Alfa menatap lekat kedua mata orang tuanya secara bergantian, seolah mengatakan kepada mereka bahwa keputusannya sudah bulat dan tidak bisa diganggu-gugat.


Tuan Harry tampak kesal. Ia menghampiri Alfa dengan wajah kesal kemudian menoyor kepala anaknya itu hingga mundur beberapa centi ke belakang.


"Dasar anak tidak tahu diuntung! Sudah bagus kami datang ke sini untuk memberikan restu kepadamu. Eh, malah disuruh balik! Yang ingin meminta kamu membatalkan pernikahan ini siapa?!" celetuk Tuan Harry sambil mendengus kesal.


"Eh, hah?! Serius, kalian merestui pernikahan ini, Mom, Dad?!" Alfa terperangah, ia tampak bahagia mendengar penuturan Tuan Harry barusan.


"Apa? Jadi kedua orang tuamu sama sekali tidak mengetahui soal pernikahan ini, Alfa?!" pekik Dea dengan mata membulat.


"Tenang, nanti aku jelaskan, Sayang!" ucap Alfa mencoba membujuk Dea. Namun, untuk saat ini ia memilih fokus pada kedua orang tuanya dulu.


Dea mendengus kesal ketika mendengar Alfa memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'.


"Ya ampun, Alfa. Kamu memang benar-benar sungguh keterlaluan!" celetuk Nyonya Kharisma. "Sebaiknya jelaskan kepada kami, tapi sebelum itu, Mommy ingin menyapa calon menantu Mommy dulu," lanjutnya.


Wanita paruh baya itu menghampiri Dea kemudian memeluk dan menciumi gadis itu dengan mata berbinar-binar.


"Cantik sekali kamu, Nak."

__ADS_1


Dea tersenyum kecut. "Terima kasih, Bu. Ehm, Mom."


...***...


__ADS_2