
"Cepat, hubungi orang tuanya!"
"Baiklah."
Pria itu mengotak-atik ponsel milik Virna kemudian menghubungi nomor ponsel Susi yang tertera di salah satu daftar kontak Virna.
Sementara itu di kediaman Susi.
Susi masih menangis di ruang depan rumahnya. Tatapan wanita itu terus tertuju ke arah luar. Ia begitu berharap Herman dan teman-temannya segera pulang dengan membawa serta putri mereka.
"Ya, Tuhan! Anakku, kamu di mana, Nak? Pulanglah, Ibu kangen kamu."
Tepat di saat itu, ponsel miliknya berdering. Susi bergegas meraih benda pipih itu kemudian melihat ke arah layar.
"Vi-Virna!" pekik Susi setelah mendapatkan panggilan dari ponsel milik Virna.
Tanpa curiga sedikit pun, Susi segera menerima panggilan itu dengan wajah berbinar. Ia benar-benar bahagia karena akhirnya Virna menghubunginya.
"Hallo, Sayang! Kamu di mana, Nak? Pulanglah," lirih Susi.
Namun, kebahagiaan Susi sirna hanya dalam beberapa detik setelah mendengar suara berat seorang pria di seberang telepon.
"Hello, Bu Susi. Apa kabar?" sahut lelaki itu sambil tertawa pelan.
"Si-siapa kamu? Dan di mana anakku?" tanya Susi dengan bibir bergetar dan detak jantung yang tak beraturan.
"Anda tenang saja, Bu Susi. Anak perempuan Anda baik-baik saja bersama kami. Tapi ... sayangnya kami tidak menjamin keselamatannya jika Anda tidak menuruti semua keinginan kami," jawab pria itu sambil menyeringai licik.
__ADS_1
"Apa maksudmu! Sebenarnya kamu siapa dan kenapa kamu membawa anak perempuanku!" Susi mulai emosi dan air matanya kembali menyeruak.
"Cup-cup-cup! Tenanglah, Bu Susi. Tinggal ikuti saja perintah dari kami maka anak perempuan Anda pun akan kembali ke pelukan Anda dengan selamat."
Susi mencoba menstabilkan emosinya. "Baiklah! Katakan, sebenarnya apa maumu?"
Pria itu tergelak hingga terdengar jelas di telinga Susi. "Jika Anda ingin Virna kembali dengan selamat, maka kirimkan sejumlah uang kepada kami sebagai imbalannya."
"Kurang ajar! Kalian penculik, ya!" geram Susi dengan wajah memerah. "Tunggu saja, akan kulaporkan perbuatan kalian kepada polisi!"
"Ouwww! No-no-no!" Pria itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis menatap Virna yang masih ketakutan dan menangis di atas tempat tidur lusuh itu.
"Jangan pernah lakukan itu jika Anda ingin Virna kembali dengan selamat, Bu Susi. Kami tidak main-main. Ini hanya urusan kita dan tidak boleh ada pihak lain yang ikut campur. Jika Anda berani melanggarnya, berarti Anda sudah siap menanggung konsekuensinya. Kehilangan putri kesayangan Anda," lanjutnya penuh dengan penekanan.
"Kamu ...." Susi kehilangan kata-katanya.
"Coba dengarkan ini, Bu Susi. Kemudian pikirkan dengan matang keputusan yang akan Anda ambil. Jangan sampai Anda menyesal seumur hidup Anda," ucap pria itu sembari berjalan menghampiri Virna.
"Ibu! Tolong Virna, Bu! Virna takut."
"Virna! Virna!" teriak Susi dengan wajah panik setelah mendengar teriakan Virna yang terdengar begitu memilukan.
Belum sempat Susi bicara kepada Virna, pria itu kembali menempelkan ponsel tersebut ke telinganya. "Kamu dengar itu, Bu Susi? Apa Anda masih ingin main-main dengan kami?"
"Baiklah-baiklah! Kami akan menuruti semua keinginan kalian, tapi kumohon jangan sakiti anakku!" lirih Susi dengan penuh harap.
"Ya, tentu saja, Bu Susi. Anak perempuan Anda akan baik-baik saja selama keinginan kami kalian penuhi dengan baik."
__ADS_1
"Tunggulah sebentar lagi. Suamiku akan pulang dan bicaralah dengannya," lirih Susi.
Pria itu melirik arlojinya. "Baiklah, 15 menit dari sekarang," ucapnya yang kemudian memutuskan panggilan tersebut tanpa peduli Bagaimana tanggapan Susi.
"Hallo! Hallo!"
Susi cemas karena tiba-tiba panggilan tersebut terputus. Ia bahkan mencoba menghubungi nomor ponsel Virna kembali, tetapi sayang sudah tidak aktif.
"Ya, Tuhan! Semoga Virna baik-baik saja," gumam Susi sembari menekan-nekan ponselnya lagi. Ia ingin menghubungi Herman dan memberitahu soal itu kepada suaminya tersebut.
Sementara itu.
Herman dan beberapa temannya masih berkeliling desa mencari keberadaan Virna. Tanpa mempedulikan rasa lelahnya, Herman terus menelusuri setiap sudut desa kelahirannya itu dengan perasaan cemas dan tak menentu.
Drrett ... drettt ....
Ponsel milik Herman bergetar. Lelaki itu segera meraihnya kemudian menerima panggilan dari Susi tersebut.
"Ya, Susi?" Wajah Herman nampak semringah karena Ia pikir Susi akan memberikan kabar baik untuknya.
"Mas Herman, kembalilah. Ada yang ingin aku bicarakan. Ini penting, aku mohon!" lirih Susi dengan bibir bergetar.
"Ka-kamu kenapa, Susi?" Herman tampak bingung dan tiba-tiba firasat buruk terlintas di pikirannya.
"Jangan banyak bertanya, Mas! Sebaiknya kembali saja! Ada yang ingin aku bicarakan dan ini penting! Cepatlah!" ucap Susi lagi dengan penuh penekanan.
"Baik-baik, aku akan segera ke sana!"
__ADS_1
Herman pun bergegas menghampiri teman-temannya kemudian meminta mereka untuk kembali. Begitu pula dengannya, ia segera kembali ke kediamannya untuk menemui Susi.
...***...