Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 111


__ADS_3

"Siapa Ayah dari bayi itu, Non?" tanya Betty dengan wajah serius. Sesaat setelah Dokter pulang.


Cecilia mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa sakit di kepalanya sudah tidak lagi ia rasakan sebab rasa takut dan khawatir sudah mendominasi dirinya saat itu.


"Aku yakin sekali ini anak Mateo. Hanya Mateo yang pernah melepaskannya di dalam. Dasar laki-laki bodoh!" kesal Cecilia.


"Ya ampun, Non Cecil! Bagaimana jika orang-orang tahu tentang ini? Bisa-bisa karier Nona hancur tak bersisa, begitu pula nama baik Anda. Seluruh media hanya akan membahas tentang aib Anda," ucap Betty kemudian.


"Aaah! Bukannya berusaha menenangkan aku, kamu malah membuat aku semakin tertekan!"


Cecilia yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya, mendorong tubuh Betty dengan kasar hingga keluar dari kamarnya.


Sebaiknya kamu keluar dan jangan ganggu aku! Biarkan aku sendiri untuk saat ini!" kesal Cecilia.


"Baiklah-baiklah!" Betty mendengus kesal kemudian menjauh dari kamar wanita itu.


Setelah Betty pergi, Cecilia pun kembali masuk ke dalam ruangan itu dan tidak lupa mengunci pintu agar siapa pun tidak bisa mengganggunya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sepertinya aku harus menemui Mateo dan memberi tahu dia soal bayi ini," gumam Cecilia sembari menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


***


Menjelang malam.


Di kediaman mewah Alfa.


Setelah selesai melakukan ritual mandi, Dea segera kembali ke kamar mewah milik Alfa kemudian memasuki ruang ganti. Dea tampak bingung melihat banyaknya pakaian yang sudah disediakan oleh Nyonya Kharisma untuknya. Semuanya lengkap di sana dan tinggal gunakan. Dea mengambil satu setelan piyama tidur kemudian segera mengenakannya.

__ADS_1


"Dea, kamu di mana?" Tiba-tiba terdengar suara Alfa memanggil namanya dari dalam kamar.


Dea bergegas keluar dari ruangan itu kemudian menghampiri Alfa. "Ya?"


"Ah, di situ kamu rupanya. Coba lihat, aku bawa ini untuk kita makan bersama," ucap Alfa sambil tersenyum lebar menatap Dea. Ia memperlihatkan sebuah wadah seperti kotak bekal ke hadapan Dea.


"Kemarilah!" Alfa meraih tangan Dea kemudian membawanya ke sofa yang ada di depan tempat tidur.


"Apa itu?" tanya Dea.


"Ini rujak buah buatan Mommy. Mommy sengaja membuatkannya untuk kita setelah mendengar bahwa aku ingin makan rujak buah," ucap Alfa.


"Rujak buah?"


Mendengar kata 'rujak buah' saja, Dea sudah merasakan air liurnya meluncur dengan cepat dan ingin menetes dari bibirnya.


Alfa membuka tutup wadah tersebut dan tampaklah berbagai macam buah yang sudah dipotong kecil-kecil plus sambal kacang buatan Nyonya Kharisma.


"Wah, sepertinya enak sekali, ya. Boleh aku cicipi sekarang?" tanya Dea yang sudah tidak tahan ingin mencicipi buah tersebut.


"Tentu saja, Dea. Ambilah," sahut Alfa.


Tanpa canggung-canggung, Dea meraih potongan buah tersebut kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


"Ehmmm ... enak sekali!" gumam Dea dengan mulut penuh.


Alfa yang tadinya ingin menikmati rujak tersebut, tiba-tiba mengurungkan niatnya setelah melihat antusias Dea. Ia memilih mengalah dan membiarkan Dea menikmatinya.

__ADS_1


Menyadari hal itu, Dea pun menghentikan aksinya. Ia menatap Alfa kemudian meraih sepotong buah yang sudah ia cocol ke sambal kacang.


"Buka mulutmu, Mas."


"Mas?!" Alfa terkejut saat Dea memanggilnya dengan sebutan Mas.


Dea tidak menggubris ucapan Alfa. Ia mengulurkan tangannya yang memegang potongan buah tersebut ke hadapan bibir Alfa. Alfa kembali tersenyum lalu membuka mulutnya. Dengan hati-hati Dea memasukkan potongan buah tersebut ke mulut Alfa yang sudah terbuka agar sambal kacang itu tidak menetes ke mana-mana.


"Terima kasih." Alfa begitu terharu karena ini pertama kalinya Dea bersikap manis kepadanya.


"Sama-sama."


Kini Dea kembali fokus pada wadah berisi potongan buah tersebut. Alfa mengambil sepotong buah mangga muda dan mengarahkannya ke hadapan Dea.


Ia ingin tahu bagaimana reaksi Dea saat itu. Dea sempat terdiam dengan tatapan tertuju pada potongan buah yang ada di tangan Alfa. Namun, beberapa detik berikutnya, ia pun membuka mulut dan menerima potongan buah itu sambil tersenyum.


Tanpa Dea sadari, ada sedikit sambal kacang yang menempel di sudut bibirnya. Belum selesai ia mengunyah potongan buah tersebut, tiba-tiba Alfa mendekatkan wajahnya. Semakin dekat dan semakin dekat.


"Ka-kamu mau apa?" tanya Dea dengan terbata-bata.


Cup!


Alfa nekat mencium sekaligus menyapu sisa sambal kacang yang menempel di sudut bibir Dea dengan lidahnya. Menyadari hal itu, tiba-tiba Dea mematung dengan mata membulat sempurna.


Ia tidak menyangka bahwa Alfa akan senekat itu. Sementara Alfa hanya bisa tersenyum menatap reaksi gadis tersebut.


"I love you, Dea," ucap Alfa sembari mengelus lembut pipi Dea yang masih mematung.

__ADS_1


...***...


__ADS_2