
Malam itu Alfa pulang dengan rasa kecewa sekaligus malu. Ia malu kepada Cecilia karena tidak dapat memuaskan kekasih hatinya tersebut.
Setibanya di kediamannya, ia sudah diberondong berbagai pertanyaan oleh Nyonya Kharisma. Wanita itu begitu penasaran soal lamaran yang dilakukan oleh Alfa.
"Sayang, bagaimana lamaranmu? Diterima? Trus apa kata Cecilia soal cincin itu? Dia pasti menyukainya, 'kan?" tanya Nyonya Kharisma ketika Alfa melewati ruangan, di mana ia dan suaminya sedang bersantai.
"Ceritanya nanti saja, Mom. Aku sudah lelah dan ingin beristirahat," jawab Alfa yang tidak bersemangat.
Nyonya Kharisma mengerutkan alisnya. Ia bingung kenapa Alfa tampak tidak bersemangat dan begitu malas menceritakan soal lamarannya. Ia berbalik dan menatap Tuan Harry dengan tatapan heran.
"Anakmu kenapa, Dad?"
Tuan Harry tersenyum kemudian meraih pundak istrinya itu. "Sudah, tidak usah dipikirkan. Mungkin saat ini Alfa memang benar-benar sedang lelah dan butuh istirahat."
Nyonya Kharisma menghembuskan napas berat. "Ya, sudahlah. Besok pagi akan kutanyakan lagi."
Di dalam kamar Alfa.
"Ya, Tuhan! Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Apakah aku benar-benar impoten? Apa jangan-jangan semua ini terjadi akibat kecelakaan itu?" gumamnya sembari mengacak rambutnya dengan kasar.
Alfa menjatuhkan dirinya ke atas kasur yang empuk tersebut dan kini posisinya terlentang. Ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan nanar.
"Sepertinya besok aku harus memeriksakan diriku ke Dokter. Tapi ... bagaimana jika itu benar? Bagaimana jika aku benar-benar impoten, sama seperti apa yang dikatakan oleh Cecilia kepadaku? Apakah aku sanggup menerima kenyataan itu?"
Alfa semakin gelisah saja. Ia merasa sangat ketakutan ketika membayangkan bahwa dirinya akan menjadi seorang laki-laki yang sangat tidak berguna.
__ADS_1
"Ya, Tuhan! Semoga itu tidak benar. Jika itu benar-benar terjadi, maka sebaiknya cabut saja nyawaku," ucap Alfa dalam doanya.
Waktu terus berlalu hingga menunjukkan pukul 02.00 pagi. Mata Alfa masih terbuka lebar dan ia sama sekali tidak merasakan ngantuk. Kepala dan telinganya bahkan sampai panas akibat matanya yang tidak bisa diajak kompromi.
Keesokan harinya.
Alfa sudah terlihat rapi dengan setelan jasnya sejak pagi-pagi sekali. Namun, ia memilih tetap berada di dalam kamarnya untuk menghindari pertemuannya dengan Nyonya Kharisma. Ia tidak ingin membahas soal apapun untuk saat ini. Apa lagi membahas soal lamarannya dengan Cecilia.
Tadi malam Alfa sama sekali tidak bisa tidur akibat terus-menerus memikirkan penyakitnya yang masih belum jelas. Namun, bayangan-bayangan mengerikan yang ada di dalam pikirannya terus saja berputar di atas kepala, bahkan hingga sekarang.
Alfa melirik jam dinding di kamarnya kemudian memutuskan untuk segera berangkat. Lagi pula, ia sangat yakin bahwa David pasti sudah menunggu dirinya di halaman depan rumahnya yang luas itu.
Ia melangkah dengan cepat, melewati ruangan demi ruangan yang ada di rumah megah itu. Hingga akhirnya Alfa berpapasan dengan salah seorang pelayannya.
Alfa menghentikan langkahnya untuk sejenak. Namun, lelaki itu enggan membalikkan badan menghadap pelayan itu.
"Katakan pada Mommy dan Daddy bahwa aku akan sarapan di kantor. Hari ini ada meeting penting yang harus aku hadiri dan ini merupakan meeting perdanaku. Aku tidak boleh terlambat barang semenit pun," sahut Alfa yang kemudian meneruskan langkahnya tanpa peduli bagaimana reaksi pelayannya itu.
"Tapi, Tuan--"
Alfa mengangkat sebelah tangannya ke udara dan itu merupakan isyarat agar pelayan tidak meneruskan ucapannya. Setelah mendapatkan reaksi Alfa yang seperti itu, pelayan itu pun diam kemudian bergegas kembali ke ruang makan untuk menemui Nyonya Kharisma dan Tuan Harry.
"Di mana Alfa?" Nyonya Kharisma tampak bingung karena pelayan itu kembali seorang diri.
"Kata Tuan Muda Alfa, hari ini ia ada meeting penting di kantor dan karena ini adalah meeting perdananya, Tuan Alfa tidak ingin terlambat sedikitpun."
__ADS_1
Nyonya Kharisma dan Tuan Harry saling lempar pandang.
"Sekarang Alfa benar-benar berubah. Lihatlah! Alfa yang dulu bahkan paling anti dengan yang namanya urusan kantor dan pekerjaan. Namun, sekarang malah kebalikan dari semua itu," ucap Nyonya Kharisma dengan bangga kepada Tuan Harry.
"Iya, kamu benar, Sayang."
Sementara kedua orang tuanya melanjutkan sarapan mereka tanpa dirinya, Alfa segera menemui David yang ternyata memang sudah menunggu kehadirannya.
"Selamat pagi, Tuan Muda Alfa." David tersenyum hangat kemudian membuka pintu mobil untuk lelaki muda tersebut.
"Selamat pagi juga, Om."
Setelah Alfa duduk di dalam mobil, David pun segera melajukannya.
"Om David. Tolong antar aku ke Rumah Sakit. Hari ini aku ingin chek up," ucap Alfa.
"Baik, Tuan."
"Tapi setelah mengantarkan aku, sebaiknya Om kembali ke kantor. Aku akan kembali menghubungi Om, jika nanti aku sudah selesai," lanjut Alfa.
David sempat terdiam. Sebenarnya ia tidak ingin membiarkan Alfa sendirian di Rumah Sakit. Namun, karena itu adalah permintaan Alfa sendiri, David pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Baik, Tuan."
...***...
__ADS_1