Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 92


__ADS_3

"Apa, pernikahan?!" pekik Tuan Harry sembari bangkit dari posisi duduknya.


"Pernikahan apa, siapa yang akan menikah, Sayang?!" tanya Nyonya Kharisma yang ikut-ikutan terkejut melihat ekspresi suaminya itu.


Tuan Harry mendengarkan penuturan lelaki brewok itu dengan seksama, sementara Nyonya Kharisma sudah tidak sabar menunggu jawaban dari suaminya itu.


Setelah beberapa saat, panggilan itu pun diakhiri oleh Tuan Harry. Belum sempat menyimpan kembali benda pipih tersebut ke dalam saku celananya, Nyonya Kharisma sudah memberondong dirinya dengan berbagai pertanyaan.


"Sayang, ayo jawab pertanyaanku! Siapa yang akan menikah?" tanya Nyonya Kharisma sambil menarik-narik lengan baju yang dikenakan oleh Tuan Harry.


Setelah selesai menyimpan ponselnya kembali, Tuan Harry pun tersenyum kemudian menepuk pelan pundak Nyonya Kharisma.


"Alfa, Sayang. Menurut lelaki itu, Alfa saat ini tengah merencanakan pernikahan dengan gadis cantik yang ada di foto tadi."


Nyonya Kharisma mengerutkan alisnya heran. "Alfa akan menikah? Ta-tapi kenapa ia menyembunyikan berita baik ini dari kita?"


Tuan Harry menghembuskan napas berat. "Sebenarnya ada sesuatu yang disembunyikan Alfa dari kita, Sayang."


"A-apa itu?" tanya Nyonya Kharisma dengan wajah cemas.


"Kemarilah, akan ku ceritakan semuanya kepadamu. Tapi berjanjilah bahwa kamu tidak akan memarahi Alfa," ucap Tuan Harry kemudian.


Nyonya Kharisma pun mengangguk pelan. "Baiklah, aku berjanji."


Tuan Harry mengajak Nyonya Kharisma untuk duduk kembali di sofa yang ada di ruangan itu kemudian menceritakan semua rahasia Alfa kepada istrinya tersebut.

__ADS_1


Sementara itu.


"Bagus! Semuanya sudah deal dan tinggal menunggu hari H-nya saja. Dea, bersiap-siaplah, tidak lama lagi kamu akan menjadi Nyonya Alexander Graham," ucap Susi sambil tersenyum lebar.


Dea menekuk wajahnya. Entah kenapa ia benar-benar tidak suka dipanggil dengan panggilan seperti itu.


"Oh ya, Tuan Alfa. Nanti jika kalian sudah tinggal di kota, jangan pernah lupakan kami, ya. Ingatlah iparmu yang masih tinggal dengan kondisi serba kekurangan ini," ucap Susi kemudian.


Herman sontak menoleh ke arah Susi dengan wajah kesal. "Susi, diamlah! Apa kamu tidak malu berkata seperti itu, ha?!"


"Aku 'kan hanya ingin mengingatkan mereka saja, agar mereka tidak lupa sama kita yang masih tinggal di sini," sahut Susi, mencoba membela diri.


"Tidak apa-apa, Mas." Alfa mencoba menenangkan Herman yang masih tampak kesal kepada Susi.


Tepat di saat itu, terdengar suara ribut-ribut dari luar. Herman, Alfa, Susi serta Dea sontak menoleh ke arah luar dan mengintip dari balik kaca rumah.


"Ck ck ck, ternyata dia lagi!" ucap Susi sambil berdecak sebal.


Herman yang juga tidak bisa menahan rasa kesalnya, segera keluar dan berdiri di teras depan rumahnya. Kemudian disusul oleh Susi yang kemudian berdiri di belakang Herman.


Di sana tampak Julian yang kembali datang ke kediaman Susi dengan penampilan yang terlihat lebih kacau dari pada hari-hari sebelumnya. Sementara di belakang lelaki itu, ada dua orang perempuan yang mencoba membujuknya agar segera pulang.


"Ayolah, Julian! Sebaiknya kita pulang," bujuk salah satu dari wanita itu.


"Ya, Julian. Sebaiknya kita pulang! Kamu hanya akan mempermalukan dirimu di sini," lanjut yang lainnya.

__ADS_1


Sekeras apa pun kedua wanita itu mencoba membujuk Julian untuk kembali ke kediamannya, lelaki itu tetap kekeuh bertahan di sana dan tidak ingin pulang sebelum ia bisa menemui Dea.


"Sebaiknya kamu pulang saja, Julian! Jangan ganggu Dea lagi!" ucap Herman dengan setengah berteriak kepada Julian.


Sementara Dea tidak berani keluar. Ia hanya berdiri di depan kaca dan memperhatikan tingkah polah Julian saat itu.


"Siapa lelaki itu?" tanya Alfa sembari memperhatikan Dea yang begitu serius menatap Julian dari kejauhan.


"Julian, mantan suamiku," sahut Dea tanpa menoleh sedikit pun kepada Alfa yang berdiri di sampingnya.


"Jadi, lelaki itu yang sudah menyakitimu?" gumam Alfa sembari ikut memperhatikan Julian dari balik kaca.


Dea sontak menoleh dan menatap Alfa dengan wajah heran. "Apa kamu sudah lupa, Tuan Alfa? Kamu lah penyebab utama kenapa lelaki itu bisa menyakiti aku," jawab Dea dengan kesal.


Alfa membalas tatapan Dea. "Ya, kamu benar. Maafkan aku," lirih Alfa.


"Dea! Keluarlah, aku mohon!" Terdengar lagi suara teriakan Julian yang begitu mengharapkan kehadiran Dea. Bahkan ucapan Herman pun tidak digubris oleh lelaki itu.


Karena merasa tidak nyaman melihat aksi Julian yang tampak mengganggu ketenangan di tempat itu, Alfa akhirnya memutuskan untuk keluar dan menemui lelaki itu.


"Tuan Alfa, berhenti!" ucap Dea dengan wajah cemas.


Namun, Alfa tidak mendengar ucapan Dea. Ia terus saja melangkah keluar dan kini berdiri tak jauh dari posisi Herman dan Susi berada.


Julian menghentikan aksinya dan kini tatapannya fokus pada Alfa.

__ADS_1


"Oh, jadi ini lelaki yang akan menjadi calon suami Dea," ucap Julian sambil tersenyum sinis.


...***...


__ADS_2