
Dea mulai menceritakan semuanya kepada Nadia dari A hingga Z. Tak ada sedikit pun yang ia tutupi dari gadis itu. Mulai dari cerita naas di malam itu hingga cerita hubungannya yang kandas dengan Julian dalam 24 jam.
Nadia begitu syok setelah mendengar cerita hidup Dea yang begitu tragis. Bahkan ia pun tidak menyangka bahwa ternyata Dea bukan sengaja pergi ke kota melainkan terpaksa karena ia di usir oleh kakak iparnya.
"Ja-jadi ... saat ini kamu sedang hamil, Dea?" tanya Nadia dengan nanar menatap mata sembab Dea saat itu.
Dea pun mengangguk pelan. "Ya, Nad. Dan kamu bisa mengusirku dari kontrakanmu, jika menurutmu aku hanya akan membuat masalah untukmu nantinya," tutur Dea.
Nadia menggeleng cepat. "Tidak, Dea. Kenapa aku harus mengusirmu? Kamu bisa tinggal sampai kapanpun di kontrakan itu, selama kamu mau," jawab Nadia dengan tulus.
Dea begitu terharu mendengar jawaban Nadia. Ini pertama kalinya ia menemukan seseorang yang begitu tulus, setulus Nadia. Bahkan kakak iparnya saja tidak bisa menerima kenyataan mengerikan itu, tapi tidak Nadia. Gadis itu bahkan bersedia menampung dirinya walaupun ia tahu bahwa Dea tengah hamil.
"Terima kasih, Nadia. Tapi ... bagaimana jika suatu saat nanti perut ini semakin membesar? Bagaimana jika warga di sekeliling kontrakan tidak terima? Perut ini akan semakin membesar, Nad. Dan bayi ini pasti akan lahir ke dunia ini," tanya Dea.
__ADS_1
Nadia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya lagi. "Kenapa harus takut? Mereka tidak akan pernah berani mengusirmu, Dea. Statusmu 'kan saat ini seorang janda dan tidak ada salahnya jika kamu hamil 'kan? Toh, buktinya kamu sudah pernah menikah," jawab Nadia dengan gamblang.
"Semoga saja mereka percaya." Dea kembali tertunduk.
"Pasti. Kamu tenang saja, tidak usah dipikirkan soal itu. Yang harus kamu pikirkan saat ini, bagaimana caranya mengatakan kepada lelaki bajing*n itu bahwa dirimu tengah hamil di sini! Enak saja dia bahagia di sana bersama wanita cantik itu setelah apa yang ia lakukan kepada dirimu. Benar-benar tidak adil!" celetuk Nadia dengan wajah kesal mengingat kelakuan Alfa yang menjijikkan itu.
Perlahan Dea melangkah keluar dari ruangan itu dengan dibantu Nadia. Mereka menemukan sebuah kursi dan duduk di sana sambil beristirahat sejenak sebelum pekerjaan mereka di mulai. Sementara karyawan lain tengah asik menikmati berbagai hidangan yang dibagikan oleh Tuan Harry sebagai tanda terima kasihnya.
"Nad, aku rasa tidak semudah itu meminta pertanggung jawaban kepadanya. Aku hanya gadis kampung yang miskin, sedangkan lelaki itu kaya raya dan yang lebih mengenaskan lagi, aku hanyalah seorang Office Girl di perusahaan besarnya. Aku sama sekali tidak mempunyai bukti. Jika dia mengelak, maka tamatlah sudah riwayatku. Mereka orang kaya, hukum pun ada di genggaman mereka," tutur Dea dengan raut wajah sedih.
Nadia merangkul pundak Dea kemudian memeluknya. "Yang sabar ya, Dea. Tapi kamu tidak usah khawatir. Aku siap berada di sisimu sampai kapanpun. Bahkan sampai bayi ini lahir," ucap Nadia.
"Terima kasih banyak, Nad. Kamu memang benar-benar sahabat yang baik," sahut Dea.
__ADS_1
Sementara itu di ruangan pribadi Tuan Harry yang kini sudah di tempati oleh Alfa.
Lelaki itu duduk di kursi kerjanya sambil memangku tubuh Cecilia. Mereka duduk berpangkuan sambil bercumbu dengan liarnya di sana. David yang tadinya ingin menjelaskan apa-apa saja yang harus dikerjakan oleh Alfa, akhirnya mengurungkan niatnya dan pergi dari ruangan itu.
Tangan nakal Cecilia sudah menjalar kemana-mana. Bahkan setelan jas yang dikenakan oleh Alfa sudah berantakan. Dada bidang lelaki itu sudah terbuka lebar dan tangan Cecilia terus menelusuri setiap lekukan di tubuh lelaki itu.
"Emmm, aku ingin itu, Alfa! Hsst!" Desisnya sembari melumaat dan meraih lidah Alfa.
"Tapi, Cecil ... akhhh!" Alfa pun mulai kewalahan menahan hasratnya karena tangan mulus Cecilia sudah berada di area pribadinya. Ia memainkan benda itu hingga ia terbangun dan kini berdiri tegak.
"Tapi apa, Sayang? Punyamu sudah On, begitu pula denganku. Coba sentuhlah, hsss ... akh."
Alfa mulai merayapi paha mulus Cecilia dan perlahan mulai menyingkap rok mini yang sedang dikenakan oleh wanita itu. Tangan Alfa semakin berani dan kini mulai menyusup di balik cd berwarna merah dengan variasi manik-manik tersebut lalu menyentuh area pribadi Cecilia. Ternyata wanita itu benar. Area pribadinya sudah basah dan banyak keluar cairan kental di sana.
__ADS_1
"Hmmm, akh!" Desahaan yang keluar dari bibir Cecilia semakin menantang saja. Jiwa Alfa sebagai lelaki normal pun ikut meronta-ronta.
...***...