Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 66


__ADS_3

Alfa dan Ervan memberanikan diri menghampiri seorang wanita paruh baya yang tidak sengaja mereka temui. Wanita itu terlihat lebih modis dari segi penampilan dibanding warga lain di desa nelayan itu.


"Permisi, Bu. Boleh kami bertanya?" Alfa menghampiri wanita paruh baya itu sambil tersenyum hangat.


"Ya, tentu saja."


Wanita paruh baya itu memperhatikan Alfa dan Ervan, dari ujung kaki hingga ujung kepala tanpa ada bagian yang terlewat sedikitpun. Penampilan yang terlihat berbeda dari keduanya menjadi pusat perhatian wanita itu.


Alfa menjulurkan tangan kemudian memperlihatkan foto Dea yang terdapat di layar ponsel nya kepada wanita tersebut.


"Ehm, apa Ibu mengenal gadis ini?"


Wanita paruh baya itu meraih ponsel milik Alfa sembari memperhatikan foto Dea dengan alis yang saling bertautan.


"Ini 'kan Dea?" pekik wanita itu dengan keterkejutannya. "Dari mana kalian mendapatkan foto gadis ini?"


Wanita itu menatap wajah Ervan dan Alfa dengan sangat serius. Sementara keduanya malah saling lempar tatap dan tersenyum puas.


"Jadi Ibu kenal sama gadis ini?" tanya Alfa sekali lagi untuk memastikan.

__ADS_1


"Ya, tentu saja aku kenal. Dia 'kan mantan istri anakku." Wanita itu kembali menatap Alfa dengan heran. "Sebenarnya kalian siapa, sih? Wartawan?"


"Mantan istri? Jadi, gadis ini sudah pernah menikah?" pekik Alfa dengan mata membulat.


"Ya. Dia memang sudah pernah menikah dengan anakku, Julian. Namun, hanya bertahan satu hari. Julian menceraikan gadis itu tepat di malam pertama mereka. Kalian mau tau kenapa?" Wanita itu menyerahkan ponsel Alfa kemudian menyilangkan tangan ke dada.


Setelah mengambil ponselnya, Alfa pun segera menyimpannya kembali ke saku celananya. "Kenapa, Bu?" tanya Alfa pelan.


"Karena gadis itu sudah tidak suci lagi. Entah dengan siapa ia melakukannya. Dia sempat mengaku diperkosa, tetapi anakku tidak percaya. Kami sekeluarga yakin bahwa itu hanya alasannya saja. Dia dan keluarganya sengaja ingin menjebak Julian. Memang mereka pikir Julian akan sebodoh itu? Orang lain makan nangkanya, masa Julian yang kena getahnya. Enak saja!" Tegas wanita itu tanpa di saring sedikitpun.


Alfa dan Ervan pun kembali saling tatap. Namun, kali ini mereka sama sekali tidak bisa tersenyum. Malah sebaliknya, wajah mereka tampak sedih dan rasa bersalah itu kembali menggerogoti hati mereka berdua.


"Ya, dicerai lah! Apalagi? Sekarang terbukti 'kan ucapan kami! Gadis itu sudah menghilang dari kampung ini dan dari kabar yang aku dapat dari tetangga sebelah rumahnya, dia diusir oleh kakaknya sendiri karena hamil." Wanita itu tergelak, seolah puas menertawakan kesengsaraan Dea.


Hati Alfa seakan tercabik-cabik mendengar penuturan wanita itu. Sekarang ia sadar kenapa Dea bisa begitu membenci dirinya. Karena perbuatan tidak senonohnya pada malam itu, kehidupan Dea benar-benar hancur berantakan.


"Terima kasih banyak atas informasinya, Bu. Saya permisi dulu."


Karena sudah tidak sanggup mendengar lebih jauh lagi tentang penderitaan Dea, Alfa memilih menghentikan obrolan menyakitkan itu dan mundur beberapa langkah ke belakang.

__ADS_1


"Oh, ya! Kalian belum menjawab pertanyaanku, sebenarnya kalian siapa dan dari mana? Dan kenapa kalian begitu penasaran dengan cerita gadis itu?" tanya wanita itu penasaran.


Bukannya menjawab pertanyaan wanita itu, Alfa memilih melenggang pergi dari tempat itu sambil mendorong kursi roda Ervan. Wanita paruh baya itu meradang karena pertanyaannya sama sekali tidak digubris oleh Alfa.


"Dasar orang aneh! Ditanya tidak menjawab."


Wanita itu terus menggerutu sembari menatap punggung Alfa yang terus menjauh. Hingga seorang laki-laki muda datang dan menghampirinya.


"Ada apa, Bu? Dan siapa mereka?"


"Entahlah! Tiba-tiba saja dia mempertanyakan soal Dea. Ya, Ibu jelaskan saja semuanya. Tapi kamu lihat saja sendiri, saat Ibu tanya mereka siapa? Eh, mereka malah pergi," celetuk wanita itu.


"Ah, sudahlah! Buat apa juga memikirkan masalah itu. Tidak penting! Mending memikirkan pernikahanmu yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi," sambungnya.


Wanita itu melenggang pergi dan kembali masuk ke dalam rumahnya. Sementara laki-laki muda itu masih terdiam di sana sambil memperhatikan gelagat Alfa dan Ervan dari kejauhan.


"Siapa mereka? Kenapa mereka bertanya soal Dea?" gumam lelaki itu. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Julian, mantan suami Dea. Sementara wanita paruh baya tadi adalah Ibu dari Julian sendiri.


...***...

__ADS_1


__ADS_2