Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 130


__ADS_3

Susi bergegas meraih ponselnya kemudian mencoba menghubungi nomor ponsel milik Virna. Namun, nomor ponsel milik anak perempuannya itu sama sekali tidak aktif. Sudah berulang kali Susi mencoba, tetapi hasilnya tetap sama.


"Ya ampun, Vir. Kamu di mana, Nak?" gumam Susi.


Susi yang sudah tidak bisa berpikir, memilih menghubungi ponsel Herman. Beruntung Herman cepat menanggapi panggilan dari istrinya tersebut. Ia segera menerima panggilan itu dan mendengarkan cerita Susi dengan begitu serius.


"Hi-hilang bagaimana maksudmu, Sus?" pekik Herman dan seketika tubuhnya bergetar dengan hebat.


"I-iya, Mas. Virna menghilang dan aku tidak tahu dia di mana. Teman-temannya hanya menemukan sepedanya tergeletak di jalan, sementara Virna entah berada di mana," lirih Susi sambil terisak.


"Ya ampun, Susi!" pekik Herman lagi dengan penuh emosi. "Ya, sudah. Aku akan segera pulang," lanjutnya sembari memutuskan panggilan dari Susi.


Herman bicara kepada beberapa orang anak buahnya dan menceritakan semua yang telah terjadi. Awalnya mereka tampak kecewa karena saat itu mereka belum berhasil mendapatkan satu ekor ikan pun. Sementara Herman sudah mengajak mereka kembali.


Namun, setelah mendengar cerita Herman secara keseluruhan, akhirnya mereka pun bersedia pulang. Bahkan mereka bersedia ikut serta mencari keberadaan Virna.


Selang beberapa saat kemudian, Herman tiba di kediamannya. Susi bergegas menghampiri Herman kemudian menangis di pelukan lelaki itu.


"Mas, bagaimana ini?" ucap Susi di sela isak tangisnya.


Ck!


Herman berdecak kesal. Insting lelaki itu mengatakan bahwa hilangnya Virna ada hubungannya dengan perhiasan-perhiasan mahal yang tidak seharusnya dikenakan oleh anak perempuannya itu.


Ia ingin marah dan menyalahkan Susi atas kejadian ini. Namun, saat ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan. Mereka harus menyatukan pikiran mereka dan berfokus pada pencarian Virna yang menghilang tanpa jejak.


"Mas, cari Virna sekarang! Cari dia sampai ketemu. Aku bisa gila jika terjadi sesuatu kepada Virna, Mas!" lirih Susi di sela isak tangisnya.

__ADS_1


Herman menghembuskan napas berat kemudian melerai pelukan Susi di tubuhnya. "Kamu tunggu di sini, biar aku dan teman-temanku mencarinya. Pastikan ponselmu selalu aktif agar aku mudah menghubungimu."


Susi menganggukkan kepalanya. "Baik, Mas."


Herman berbalik kemudian melangkahkan kakinya. Namun, baru beberapa langkah ke depan, Herman kembali berbalik dan menatap Susi dengan wajah serius.


"Ingat, Susi. Jangan beritahu Dea sebelum kita memastikan kehilangan Virna. Aku tidak ingin dia cemas," ucap Herman lagi.


"Ba-baik, Mas."


Herman pun melanjutkan langkahnya dan ternyata teman-teman Herman sudah menunggu di halaman depan dan siap membantu mencari keberadaan Virna.


Sementara itu.


Mobil yang membawa Virna tiba di sebuah tempat yang berada cukup jauh dari Desa Muara Asri. Seorang pria membopong tubuh Virna yang tidak sadarkan diri memasuki sebuah bangunan kosong. Bangunan terbengkalai itu jauh dari keramaian orang-orang dan membuat para pria itu bergerak bebas di sana.


Pria itu meletakkan tubuh mungil Virna ke atas sebuah ranjang berlapis kasur tipis yang penuh debu.


"Ok!"


Sementara pria itu tengah asik melepaskan berbagai perhiasan yang melekat di tubuh Virna, salah seorang pria lainnya sedang membongkar isi tas sekolah gadis itu.


"Yess! Aku menemukan ponselnya!"


Pria itu melemparkan tas sekolah milik Virna ke sembarang arah kemudian menghampiri temannya yang masih sibuk melepaskan satu persatu perhiasan milik Virna tersebut.


"Benarkah? Coba cari di daftar kontaknya. Pasti ada nomor orang tua dari gadis ini," ucap pria itu.

__ADS_1


"Baiklah. Sebentar," sahutnya sembari menghidupkan ponsel milik Virna yang tadinya sengaja di nonaktifkan oleh gadis itu ketika mengikuti jam pelajaran.


Setelah beberapa detik kemudian, pria itu pun kembali tersenyum lebar. "Ini dia! Ada nomor ponsel ibunya. Apa kita harus menghubunginya sekarang?"


"Tunggu sebentar lagi. Setelah anak ini sadar, baru kita hubungi nomor itu," titah pria satunya.


Tidak berselang lama, Virna pun akhirnya sadar. Gadis itu terkejut sekaligus ketakutan setelah sadar bahwa dirinya sedang berada di tempat yang begitu asing. Selain itu, kondisi kaki dan tangan yang terikat membuat Virna menangis histeris sambil menjerit meminta tolong.


"Ibu ... tolong Virna, Bu!" jerit Virna yang terdengar hingga ke telinga para penculik yang sedang bersantai di luar ruangan.


"Kalian dengar itu? Sepertinya anak itu sudah sadar. Sebaiknya kita samperin dia," ucap salah satu pria itu.


"Hayuk lah, lagian aku sudah tidak sabar ingin memeras kedua orang tuanya," timpal yang lain.


Keempat pria itu bergegas menuju sebuah ruangan kamar di mana mereka menyembunyikan Virna. Virna begitu syok setelah keempat pria dewasa itu masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Lepaskan Virna, Om!" lirih Virna di sela isak tangisnya, menatap keempat pria yang sedang berdiri di hadapannya sambil menyeringai.


"Tenang saja, Anak manis. Om pasti akan melepaskanmu, tapi setelah kedua orang tuamu mentransfer sejumlah uang kepada kami," sahut pria yang tadi mengajaknya bicara. Keempat pria itu kembali tertawa dan membuat Virna semakin ketakutan saja.


...***...


Hai Gaeyyss ... part ini hanya bagian dari ekstra part, ya. Hanya sekedar memberi sedikit pelajaran untuk Susi Similikiti.


Gak ada tokoh yang sampai koit kok, di sini. Author 'kan sayang sama semua tokoh Author, biarpun menyebalkan juga 😂


Jadi, yang udah bosen dan mau skip, monggo. Author ucapkan terima kasih banyak karena sudah berkenan meluangkan waktunya untuk membaca karya remahan Author ini 🥰.

__ADS_1


Dan yang mau lanjut baca, Author lebih senang lagi 🤭😘😍 Author juga ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya.


❤️❤️❤️


__ADS_2