
Alfa menghentikan mobilnya tepat di depan kediaman Susi dan Herman. Susi yang saat itu tengah bersantai bersama Herman dan Virna di ruang depan, mengintip dari balik kaca. Wanita itu penasaran, siapa yang sudah berani memarkirkan mobil di depan rumahnya tanpa permisi.
"Siapa?" tanya Herman kepada Susi yang masih mengintip di balik kain vitrase transparan yang menutupi kaca rumahnya.
"Entahlah. Sebaiknya aku keluar dan menemui pemilik mobil itu. Enak saja dia main parkir di sana tanpa permisi kepadaku," gerutu Susi sembari melangkah pergi.
Herman dan Virna masih memantau di ruangan itu dan membiarkan Susi mendatangi sang pemilik mobil. Kini Susi berdiri di teras rumahnya sambil memperhatikan mobil mewah berwarna hitam tersebut dengan seksama.
"Siapa 'sih tu orang? Bikin penasaran aja," gumam Susi yang sudah tidak sabar menunggu seseorang keluar dari mobil tersebut.
Sementara itu di dalam mobil.
Dea menatap sedih kepada Susi yang kini berdiri di depan teras rumah. Sebenarnya saat itu Dea kembali meragu. Ia tidak yakin bahwa ia sanggup menampakkan wajah di hadapan Susi ataupun kakak lelakinya, Herman.
"Kamu tidak ingin menemui mereka?" Alfa melirik ke belakang, di mana Dea masih duduk di jok belakang sambil termenung.
"A-aku takut. Aku takut kehadiranku sama sekali tidak diinginkan. Aku pergi dari desa ini bukan atas kemauanku sendiri, tetapi sebaliknya. Aku pergi karena aku diusir. Mereka tidak Terima karena aku hamil," lirih Dea.
Alfa menghembuskan napas berat. Ia keluar dari mobilnya kemudian menghampiri pintu yang ada di samping Dea. Ia membuka pintu kemudian mengulurkan tangannya ke hadapan Dea.
__ADS_1
"Keluarlah. Aku pastikan kamu pasti akan baik-baik saja," ucap Alfa.
Dea menatap tangan kekar milik Alfa yang kini menjulur di hadapannya sambil berpikir dengan keras. Sebenarnya ia masih ragu untuk keluar dan menghadapi kakak serta kakak iparnya.
Sepersekian detik berikutnya, Dea memutuskan untuk keluar dan memberanikan diri menampakkan diri di hadapan keluarga kecilnya itu. Tanpa menyambut tangan kekar Alfa, Dea menjulurkan kakinya keluar dan kini berdiri tegap di halaman rumah milik Susi.
"Siapa itu?"
Susi memperhatikan sosok Alfa yang terlihat begitu tampan dengan kemeja berwarna putih bersih serta celana formal yang membalut kaki jenjangnya. Tak berselang lama, Dea pun muncul dan hal itu membuat Susi benar-benar syok.
"De-Dea?!" pekiknya dengan mata membesar.
Herman dan Virna yang tengah duduk di dalam rumah, refleks menoleh ke arah luar setelah mendengar Susi menyebutkan nama Dea. Ternyata apa yang ia dengar tidaklah salah. Sosok cantik dengan perut yang sudah mulai membuncit itu berdiri di halaman depan rumah mereka.
"Siapa lelaki itu?" tanya Herman kepada Susi. Namun, tatapannya terus tertuju pada sosok Alfa yang kini berdiri di samping Dea.
"Aku tidak tahu. Kenapa tidak kamu tanyakan saja hal itu kepada Dea? Lagi pula kenapa gadis itu kembali lagi ke sini? Bukankah sudah kubilang untuk tidak menampakkan wajahnya lagi di hadapan kita," sahut Susi sambil menggerutu.
Virna yang juga penasaran, ikut berdiri di samping kedua orang tuanya. Susi merasakan bahwa akan terjadi sesuatu di sana. Ia segera memerintahkan Virna untuk masuk ke dalam dan kembali ke kamarnya.
__ADS_1
"Virna, masuk ke kamarmu!" titah Susi dengan tatapan tajam menatap Virna.
"Tapi, Bu ...." Virna memelas.
"Masuk!" tegas Susi.
Virna pun terpaksa mengikuti perintah sang ibu. Ia bergegas masuk ke dalam kamarnya dengan raut wajah kecewa.
Alfa terus memberikan isyarat kepada Dea agar segera menghampiri kakak dan kakak iparnya tersebut. Walaupun ragu, tetapi gadis itu terus melangkah maju dan kini ia berdiri tepat di depan Susi dan Herman.
"Ka-kak," sapa Dea dengan wajah sendu.
"Siapa lelaki itu, Dea?" tanya Herman yang begitu penasaran pada sosok Alfa.
"Di-dia ...." Dea menoleh ke arah Alfa yang kini berdiri tepat di sampingnya.
Alfa menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Ia sudah berniat akan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya terhadap Dea. Jadi, apa pun yang akan terjadi hari ini, Alfa siap menerimanya.
"Saya Alfa Alexander. Saya adalah lelaki yang sudah memperkosa Dea pada malam itu," ucap Alfa sembari membungkukkan sedikit tubuhnya di hadapan Herman. Sekarang ia menundukkan pandangannya dan siap menerima semua konsekuensi dari pengakuannya tersebut.
__ADS_1
"Apa?!" pekik Susi dan Herman secara bersamaan.
...***...