
Tak terasa H-3 sebelum hari pernikahan Dea dan Alfa dilaksanakan.
Kediaman Susi tampak begitu ramai. Ada yang sibuk mendirikan tenda, pelaminan dan lain-lainnya. Sementara di bagian belakang rumah, tampak sekelompok wanita yang sedang sibuk dengan urusan saji.
Seperti keinginan Susi, pernikahan Dea dan Alfa diselenggarakan secara meriah. Melebihi kemeriahan pernikahan Julian dan Reva beberapa waktu yang lalu.
Alfa sengaja menyewa jasa Wedding Organizer terbaik dari kota asalnya agar acara pernikahannya bersama Dea tidak mengecewakan dan berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan apa pun.
Jika Susi tampak sibuk mengatur ini dan itu di halaman rumahnya, Dea tengah asik melakukan berbagai perawatan di dalam kamar bersama dua orang wanita yang bertugas melayaninya.
Tak ada perubahan di raut wajah Dea. Ekspresi wajahnya tetap terlihat datar sama seperti hari-hari biasanya.
"Tante Dea, aku boleh ikut berhenna, 'kan?" tanya Virna yang sejak beberapa hari selalu menempel kepadanya seperti perangko. Bahkan Dea merasa sedikit risih karena bocah itu terus mengikutinya ke manapun ia pergi.
"Jangan tanya aku, tanya saja sama Kakak-kakak ini," sahut Dea dengan wajah malas.
Virna menekuk wajahnya untuk beberapa detik, kemudian tatapannya beralih kepada dua wanita itu.
"Kakak-kakak, boleh, ya?" Virna memelas, berharap kedua wanita itu bersedia menuruti permintaan sederhananya.
"Iya, boleh," jawab salah satu dari wanita itu sambil tersenyum hangat.
Virna tersenyum puas mendengar jawaban dari wanita itu. "Yeay, dibolehin!"
Sementara Dea dan seluruh keluarga kecilnya sedang sibuk di kediaman mereka, Alfa pun tampak sibuk mempersiapkan barang-barang keperluannya yang akan ia bawa ke desa nanti.
"Kemeja sudah, celana juga sudah, pakaian dalam? Sepertinya juga sudah," gumam Alfa sembari memperhatikan barang-barangnya yang sudah tersusun rapi di dalam kopernya.
"Alfa?"
__ADS_1
Alfa terperanjat karena tiba-tiba saja Nyonya Kharisma berdiri tepat di depan pintu kamarnya. Alfa tersenyum sembari menutup kopernya.
"Mommy," sahut Alfa.
"Mau ke mana lagi kamu, Alfa? Mengunjungi temanmu lagi?!" tanya Nyonya Kharisma seolah-olah tidak tahu ke mana anak lelakinya itu akan pergi.
"Ehm, iya, Mom." Alfa kembali tersenyum kecut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maafkan aku, Mom. Aku terpaksa berbohong karena aku yakin bahwa kalian tidak akan pernah merestui pernikahan kami," batin Alfa dengan wajah sendu menatap Nyonya Kharisma.
Lain isi kepala Alfa, lain pula isi kepala Nyonya Kharisma.
"Bagus! Terus saja bohongi Mommy-mu ini, Alfa. Sepintar-pintarnya kamu mengelak, Mommy dan Daddy sudah tahu apa rencanamu yang sebenarnya," batin Nyonya Kharisma sambil tersenyum tipis menatap Alfa.
"Ehm, maafkan aku, Mom. Sepertinya aku sudah terlambat," ucap Alfa kemudian sembari melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ya," jawab Alfa sembari mengangguk pelan.
"Baiklah kalau begitu. Mari, Mommy antar hingga ke depan," ucap Nyonya Kharisma seraya menggandeng tangan Alfa sambil tersenyum semringah.
"Oh ya, Alfa. Jangan lupa pamit kepada Daddy-mu. Minta restu kepadanya," ucap Nyonya Kharisma kemudian.
"Hah?!" Alfa tersentak kaget. Ia melirik dang mommy dengan alis yang saling bertaut.
"Ya! Bukan kah kamu akan menempuh perjalanan yang cukup jauh? Jadi tidak ada salahnya 'kan kamu berpamitan kepada Daddy sembari meminta restu darinya," celetuk Nyonya Kharisma.
"Ah, iya-iya, baiklah. Sekarang Daddy di mana?"
"Sepertinya di halaman depan," jawab wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Setibanya di halaman depan, ternyata benar Tuan Harry tengah berada di sana sambil berbincang bersama David. Kali ini David bertugas menemani perjalanan Alfa menuju desa Muara Asri, yang akan berperan sebagai salah satu kerabat dari pihak Alfa sendiri.
"Daddy, aku pamit dulu." Alfa menghampiri Tuan Harry kemudian memeluknya erat.
Tuan Harry pun membalas pelukan Alfa sembari menepuk pelan punggung anak lelakinya itu.
"Semoga urusanmu berjalan lancar, Anakku. Mommy dan Daddy selalu mendoakan yang terbaik untukmu," sahut Tuan Harry dengan mata berkaca-kaca.
Alfa tersenyum, tetapi ia masih belum sadar bahwa Mommy dan Daddy-nya sudah tahu seluruh rencananya tersebut.
"Terima kasih, Daddy."
Setelah meletakkan kopernya ke dalam bagasi mobil, Alfa pun segera masuk kemudian duduk di jok bagian belakang. Sementara David duduk di depan kursi kemudi dan siap memacu mobil tersebut menuju Desa Muara Asri.
"David, pastikan anakku sampai dengan selamat hingga ke tujuannya," ucap Nyonya Kharisma kepada David.
"Siap, Nyonya!"
Setelah Nyonya Kharisma menyingkir dari mobilnya, David pun bergegas melaju memecah jalan raya.
Sepeninggal Alfa.
"Sayang, semuanya sudah siap, 'kan?" tanya Nyonya Kharisma kepada Tuan Harry yang berdiri di sampingnya.
"Kamu tenang saja, Sayang. Semuanya sudah siap. Kita akan berikan mereka kejutan, terutama anak kita yang bandel itu!" sahut Tuan Harry sambil tertawa pelan.
"Baguslah kalau begitu. Aku bisa lebih tenang sekarang," lanjut Nyonya Kharisma sembari memeluk Tuan Harry.
...***...
__ADS_1