
"Brengs*k! Berani sekali kamu!" Lelaki itu sangat marah dan mencoba menghampiri seorang gadis yang sudah berani melemparkan sebuah batu tepat di kepadanya.
"Lari! Cepat!" teriak gadis itu kepada Dea.
Dea yang tadinya sempat terpaku akhirnya sadar bahwa ternyata gadis itu hanya mencoba mengalihkan perhatian si pemabuk. Dea pun mengangguk dan segera berlari, menjauhi Sang Pemabuk.
"Ah, sialan!" Lelaki pemabuk itu marah setelah sadar bahwa ternyata Dea berhasil kabur darinya.
"Berhenti kamu!" teriak pemabuk itu dan ingin mengejar Dea yang sudah lari tunggang langgang, tak tahu arah dan tujuan sambil menenteng tas miliknya. Bukan hanya Dea, gadis yang tadi berhasil mengalihkan perhatian lelaki jahat itu pun ikut lari menyusul Dea dengan cepat.
"Sini, ikuti aku!" titah gadis itu kepada Dea.
Dea pun percaya saja. Ia mengikuti kemana gadis itu menuntunnya. Sementara lelaki pemabuk itu terus mencoba mengejar kedua gadis itu dengan langkah sempoyongan.
"Hei, tunggu! Awas saja, aku tidak akan pernah mengampuni kalian berdua!" gerutu lelaki itu.
"Sini!"
Gadis itu menarik tangan Dea dan mengajaknya bersembunyi di samping sebuah tong sampah yang terbuat dari drum berukuran besar, yang sudah tidak terpakai.
Kedua gadis itu akhirnya bersembunyi di sana sambil sesekali melirik ke arah jalan. Di mana pemabuk itu akan melewatinya. Dan benar saja, beberapa detik kemudian lelaki pemabuk itu melewati jalan tersebut. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan mereka.
__ADS_1
"Kemana mereka? Cepat sekali larinya," gumam lelaki itu sembari melanjutkan langkahnya menelusuri jalan, dengan langkah sempoyongan.
"Huft! Akhirnya," gumam gadis itu setelah ia memastikan bahwa lelaki pemabuk itu sudah menghilang dan posisi mereka pun sudah aman.
"Apa kamu yakin bahwa ia sudah pergi?" tanya Dea dengan wajah memucat.
"Ya, tentu saja. Sebaiknya kamu pulang sebelum lelaki itu kembali dan menemukanmu," jawab gadis itu.
Dea terdiam. Ia tidak tahu harus kemana setelah ini. Setelah melihat ekspresi Dea yang tampak sedih, gadis itu pun kembali bertanya. "Kamu kenapa? Eh, jangan bilang kamu tidak punya tempat tinggal, ya!"
"Baru hari ini aku tiba di kota ini dan aku tidak tahu harus kemana," lirih Dea.
Karena yakin bahwa gadis itu baik dan tidak akan berbuat jahat kepadanya, Dea pun akhirnya setuju. Ia mengikuti gadis itu tanpa ragu sedikitpun.
"Siapa namamu? Aku Nadia," ujar gadis itu sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Dea dan ia pun segera menyambutnya dengan senang hati.
"Namaku Dea dan aku berasal dari desa Muara Asri."
"Desa Muara Asri? Di mana itu? Aku baru dengar. Oh ya, ngomong-ngomong senang bisa berkenalan denganmu."
"Ya, aku juga. Ehm, terima kasih banyak karena sudah bersedia menyelamatkan aku. Seandainya tidak ada kamu, mungkin aku sudah ...." Dea terdiam sambil menundukkan kepadanya.
__ADS_1
"Sama-sama. Sudah, jangan sedih lagi." Gadis bernama Nadia tersebut menepuk pundak Dea sambil tersenyum. "Oh ya, kamu belum jawab di mana desa Muara Asri itu. Aku 'kan jadi penasaran," sambung Nadia.
"Lumayan jauh dari kota ini karena butuh waktu berjam-jam untuk bisa sampai di sini," jawab Dea.
Nadia pun mengangguk pelan. "Aku juga seorang anak perantauan. Aku berasal dari desa dan merantau ke kota ini untuk mencari pekerjaan yang lebih baik dari sekedar menjadi buruh tani," tutur Nadia.
Tak terasa mereka pun tiba di depan sebuah rumah kontrakan berukuran kecil milik Nadia. Nadia membuka kunci pintu rumahnya kemudian mempersilakan Dea untuk masuk.
"Masuklah! Kamu tenang saja, tidak ada siapa-siapa di sini. Aku hanya seorang diri," ucap Nadia sembari membuka pintu rumahnya lebih lebar agar Dea bisa masuk.
"Terima kasih banyak, Nadia. Aku berhutang budi padamu." Dea menatap lekat gadis seusianya itu sambil tersenyum tipis.
"Ah, tidak usah dipikirkan. Sebagai sesama anak perantauan, aku tahu bagaimana rasanya berada di posisimu sebab aku sudah lebih dulu merasakannya." Lagi-lagi Nadia menepuk pundak Dea.
Nadia mengajak Dea duduk di sebuah kursi plastik yang ada di ruang depan rumahnya. Rumah berukuran kecil dengan satu kamar tidur. Kedua gadis itu berbincang lama di ruangan tersebut sambil menceritakan tentang diri mereka masing-masing. Ternyata Nadia gadis yang supel. Ia mudah sekali beradaptasi dan sekarang Nadia sudah mulai terlihat akrab bersama Dea yang memang tidak terlalu banyak bicara.
"Oh ya, Dea. Jika kamu ingin mandi, di sana ada kamar mandi." Nadia menunjuk sebuah ruangan kecil di dapur, yang merupakan kamar mandi.
"Terima kasih. Sepertinya aku memang butuh itu, Nad. Seharian berkeliaran di kota besar, membuat aku gerah," jawab Dea.
...***...
__ADS_1