Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 109


__ADS_3

Akhirnya keluarga Tuan Harry tiba di kediaman mereka. Tampak Alfa keluar lebih dulu dari dalam mobil. Ia berhenti sejenak di depan pintu yang sudah terbuka lebar kemudian mengulurkan tangannya.


"Mari."


"Terima kasih."


Dea menyambut uluran tangan Alfa tanpa sedikit pun rasa sungkan. Ia tersenyum tipis kemudian mengikuti Alfa yang kini menuntun langkahnya.


Setelah Alfa dan Dea keluar, Tuan Harry dan Nyonya Kharisma pun segera menyusul. Namun, jika Alfa dan Dea memilih masuk ke dalam rumah megah itu, pasangan paruh baya itu malah repot dengan barang-barang belanjaan mereka.


"Mom, kami masuk duluan, ya. Tidak apa-apa, 'kan?" ucap Alfa kepada sang mommy yang sibuk mengarahkan para pelayannya untuk membantu mengangkat barang-barang belanjaannya tersebut.


"Ah, iya! Tidak apa. Kalian duluan saja, lagi pula Dea pasti sudah lelah dan butuh istirahat."


Alfa pun tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya bersama Dea memasuki kediaman mereka.


Sementara itu, di dalam mobil yang ditumpangi oleh Cecilia dan Betty.


Mereka berhenti tak jauh dari kediaman rumah megah milik Tuan Harry. Tatapan Cecilia dan Betty terus tertuju pada keluarga itu dan memperhatikan setiap gerak-gerik mereka dengan seksama, terutama pada Alfa dan Dea.


"Coba lihat itu, Non! Terlihat jelas bahwa Tuan Alfa begitu menjaga dan melindungi gadis itu. Aku jadi ikut penasaran, siapa sebenarnya gadis itu. Apa mungkin dia istri Tuan Alfa, tapi sejak kapan mereka menikah?" gumam Betty.


"Hush, diam! Berhentilah menyebutkan gadis itu sebagai istrinya Alfa!" kesal Cecilia sambil menekuk wajahnya kesal.


Ia benar-benar kehilangan mood-nya jika Betty terus menerus mengatakan bahwa gadis itu adalah istrinya Alfa.


"Dan satu hal yang harus kamu ingat, Betty. Alfa itu impoten! Mustahil dia bisa mendapatkan seorang anak, sementara dia sendiri tidak bisa mempertahankan kejantanannya," sambung Cecilia.

__ADS_1


"Ya, siapa tahu 'kan, Non." Betty terkekeh pelan karena reaksi Cecilia benar-benar lucu menurutnya.


"Jujur deh sama aku, sebenarnya Non Cecil itu cemburu 'kan sama gadis itu?" celetuk Betty yang lagi-lagi membuat emosi Cecilia mendidih.


"Apa!" pekik Cecilia. "Aku cemburu dengan gadis itu? Yang benar saja! Apa matamu sudah buta, Betty? Aku jauh lebih cantik dari gadis itu. Dia itu bukan apa-apa jika dibandingkan denganku. Jadi, untuk apa aku cemburu?" jelasnya dengan sangat percaya diri.


"Bercanda, Non. Iya deh, Non Cecilia yang paling cantik dan tidak ada duanya di dunia ini," sahut Betty.


Setelah semua barang belanjaannya berhasil dimasukkan ke dalam rumah, pasangan paruh baya itu pun segera menyusul masuk. Sementara mobil milik toko yang tadi mengantarkan barang-barang belanjaan tersebut, kembali melaju menuju toko.


"Pak, ikuti mobil itu. Nanti setelah aman, selip saja mereka dan buat mobil itu berhenti!" titah Cecilia.


"Eh, untuk apa? Jangan berbuat yang tidak-tidak ya, Non. Ingat kariermu," sela Betty mencoba mengingatkan Cecilia.


"Memangnya kamu pikir aku mau ngapain? Aku cuma ingin menanyakan soal siapa gadis itu kepada mereka. Aku yakin, mereka pasti tahu! Lagi pula aku tidak mungkin 'kan menanyakan hal itu langsung kepada satpam atau siapa pun yang bekerja di rumah mewah itu? Mereka kenal aku, Betty," sahut Cecilia.


"Kirain apa? Kamu pikir aku akan menghentikan mobil itu kemudian merampok mereka, begitu?"


Betty hanya cengar-cengir tanpa berani menyahut ucapan Cecilia. .


Setelah jarak yang mereka tempuh sudah lumayan jauh dari kediaman mewah Alfa, pak sopir yang bertugas mengemudikan mobil milik Cecilia, berhasil menyalip mobil tersebut.


Kedua pemuda yang berada di dalam mobil tampak ketakutan. Yang ada di pikiran mereka saat itu hanyalah rampok. Mereka pikir, mereka akan dirampok oleh orang-orang yang kini menghadang jalan mereka.


"Bagaimana ini? Aku jadi takut," celetuk salah satu dari kedua pemuda itu.


Sementara yang satunya hanya diam dan tak berani bicara sepatah kata pun. Kakinya bahkan bergetar dengan hebat kala itu.

__ADS_1


Cecilia meminta pak sopir untuk menghampiri mobil tersebut kemudian bertanya kepada mereka soal Dea.


Sementara pak sopir mencoba membujuk dan merayu kedua pemuda itu, Cecilia dan Betty memilih menunggu di dalam mobilnya.


"Bagaimana jika benar kalau gadis itu adalah istrinya Tuan Alfa?" Lagi-lagi Betty mengatakan hal itu dan membuat Cecilia kembali meradang.


"Ish, sudah aku bilang diam! Ya, diam!" bentak Cecilia.


Tidak berselang lama pak sopir pun kembali.


"Bagaimana, Pak?" tanya Cecilia yang begitu penasaran. Begitu juga Betty, pria bertulang lunak itu memasang telinganya dengan baik dan bersiap mendengarkan jawaban dari pak sopir.


"Kata kedua pemuda itu, benar. Gadis yang tengah hamil itu adalah istri dari Tuan Alfa," jawab Pak Sopir.


"Apa?!" pekik Cecilia dan Betty secara bersamaan.


...***...


To Readers semua yang Author sayang 😘😘😘


Sebenarnya cerita Alfa dan Dea sudah menuju Ending. Kenapa Author ceritain lagi kisah si Cecil? Karena biar jelas, gimana nasib akhir cewek itu sama Mateo.


Buat yang khawatir hubungan Dea dan Alfa jadi terganggu atau takut akan berakibat fatal pada hubungan mereka, itu sama sekali gak ada.


Sebab Author bukan penulis yang suka bikin cerita berbelit-belit 🤭🤣🙏 Takut nantinya Author sendiri yang susah menemukan penyelesaiannya.


Udah, itu aja dulu pemberitahuan dari otor.

__ADS_1


Salam manis 😘😘😘


__ADS_2