Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 96


__ADS_3

"Dea, calon suamimu sudah datang!" ucap Susi kepada Dea yang sedang duduk termenung di dalam kamarnya sendirian.


Setelah kedua wanita yang tadi melayaninya selesai melakukan tugas mereka, mereka pun segera pamit. Sementara Dea memilih diam di kamarnya tanpa berkeinginan melakukan apa pun.


Susi masuk ke dalam ruangan itu dengan tergesa-gesa. Ia menghampiri jendela kemudian melongok ke arah luar.


"Lihatlah, betapa beruntungnya dirimu, Dea. Kehilangan Julian, tetapi mendapatkan pengganti yang jauh-jauh lebih baik dari lelaki sombong itu. Lebih kaya, lebih ganteng dan yang pastinya masa depanmu lebih terjamin bersamanya," ucap Susi.


Dea tidak menanggapi ucapan Susi barusan. Ia ikut menoleh ke arah luar dan ternyata benar, Alfa sudah tiba di sana dengan penampilan yang sama seperti biasanya. Tampak begitu keren dan wanita mana pun yang melihatnya akan susah untuk mengedipkan mata mereka.


Dea masih menatap Alfa dari kejauhan sambil mengelus perutnya yang sudah menonjol itu dengan sangat lembut. Dulu Dea sempat tidak mempedulikan bayi yang sedang tumbuh dalam rahimnya tersebut.


Namun, seiring waktu nalurinya sebagai seorang ibu pun tergerak dan akhirnya rasa sayang itu tiba-tiba muncul tanpa ia sadari dan sebagai seorang ibu, ia pun menginginkan yang terbaik untuk bayinya itu.


"Bayimu memang sangat beruntung, Dea. Siapa sangka, ternyata ayahnya adalah seorang sultan dengan kekayaan yang melimpah ruah!" pekik Susi dengan wajah semringah.


"Bayi yang sangat beruntung?" Dea tersenyum sinis dengan tatapan yang masih tertuju pada Alfa yang tengah asik berbincang dengan Herman di halaman depan.

__ADS_1


Susi sontak menoleh kepada Dea dan senyuman yang sejak tadi terus mengembang di wajahnya, mendadak sirna. Kini ia menatap Dea kening yang berkerut.


"Apa Kakak sudah lupa dengan apa yang Kakak katakan dulu tentang bayi ini?"


"Apa maksudmu, Dea?" tanya Susi balik dengan wajah menekuk.


"Bukankah Kakak selalu bilang bahwa bayi ini adalah anak haram dan hanya akan membawa kesialan untuk keluargamu. Lalu kenapa sekarang Kakak malah menyebutnya dengan sebutan bayi beruntung?" tutur Dea dengan wajah datar.


Susi mendengus kesal. Ia tidak menyangka bahwa Dea masih saja mengingat kata-kata umpatannya itu.


"Heh, itu 'kan dulu. Saat aku tidak tahu bahwa ternyata ayah bayi ini adalah seorang pewaris tunggal. Kalau sejak dulu aku tahu, tidak mungkin 'kan aku mengatakan hal jelek itu kepadamu dan juga calon bayimu ini," sahut Susi, mencoba membela diri.


"Halahhh, terserah kamu saja lah! Dasar gadis tidak tahu berterima kasih!" gerutu Susi.


Susi bergegas keluar dari kamar itu sambil menggerutu. Ia kesal karena Dea sudah mulai berani kepadanya.


"Seandainya tidak ada campur tangan dariku, pernikahan ini tidak mungkin terjadi dan selamanya bayi itu akan menjadi bayi tanpa status," umpat Susi dengan wajah menekuk.

__ADS_1


Sementara itu di halaman depan, di mana Alfa dan Herman tengah berbincang sambil memperhatikan para tim Wedding Organizer yang sedang bekerja.


"Maafkan aku, Alfa, jika pertanyaanku ini menyinggung perasaanmu. Sebenarnya di mana kedua orang tuamu? Apakah mereka masih hidup?" tanya Herman yang akhirnya sadar bahwa Alfa datang tanpa kedua orang tuanya.


Sejak pertama kali ia berkunjung ke kediamannya, melamar Dea dan sekarang di acara pernikahan mereka pun lelaki itu masih sendiri, tanpa kedua orang tuanya.


Alfa sempat terdiam untuk beberapa saat sambil berpikir keras. Memikirkan jawaban seperti apa yang harus ia berikan kepada Herman agar lelaki itu percaya pada ucapannya.


"Ehmmm, sebenarnya ...." Alfa mengelus tengkuknya. "Kedua orang tuaku masih hidup, Mas. Hanya saja usia mereka yang sudah tidak muda lagi, membuat aktivitas mereka terbatas. Mereka sudah tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Itu lah sebabnya Mommy dan Daddy tidak bisa ikut bersamaku. Namun, Mas tenang saja. Aku datang ke sini dengan restu dari mereka berdua," jawab Alfa sambil menyunggingkan sebuah senyuman hangat kepada Herman yang kini tengah menatapnya lekat.


Herman mengangguk pelan dan ia percaya-percaya saja dengan apa yang diucapkan oleh calon adik iparnya tersebut. Sementara Alfa tersenyum lega. Ia merasa sedikit tenang karena ternyata Herman percaya begitu saja dengan omongannya barusan.


"Lalu siapa pria itu?" Herman menunjuk David yang baru saja selesai memarkirkan mobilnya dan kini berjalan ke arah mereka.


"Oh, itu Om David. Dia salah satu kerabat dan orang kepercayaan Daddy. Om David akan menjadi salah satu saksi dari pihakku, Mas," sahut Alfa dengan wajah semringah.


David yang kini sudah berdiri di depan mereka, segera memperkenalkan dirinya kepada Herman dengan sangat hormat.

__ADS_1


...***...


__ADS_2