
Tanpa mempedulikan bagaimana perasaan Cecilia saat itu, Mateo segera pergi dari kafe tersebut setelah membayar makanan dan minuman yang sudah ia pesan sebelumnya.
"Mateo, tunggu! Kamu harus bertanggung jawab, Mateo!" panggil Cecilia.
Namun, lelaki itu tetap tidak peduli. Ia terus melenggang keluar dari kafe tersebut sambil tersenyum sinis. Cecilia mencoba menyusul, tetapi ia terlambat. Mateo sudah melaju bersama mobilnya meninggalkan tempat itu ketika ia tiba di halaman kafe.
"Sialan!" hardiknya.
"Pak Sopir. Ayo, kita pulang!" titah Cecilia sembari menjatuhkan dirinya ke atas jok mobil bagian belakang.
"Baik, Nona."
Mobil milik Cecilia pun melaju memecah keramaian kota. Di sepanjang perjalanan menuju tempat tinggalnya, Cecilia hanya bisa menangis dan menyesali perbuatannya selama ini.
Namun, ketika ia melewati perusahaan besar milik Alfa, tiba-tiba ia memiliki sebuah ide untuk mengacaukan hubungan lelaki itu.
"Aku akan buka matamu, Alfa! Agar kamu menyadari kebenarannya," gumam Cecilia sambil menyeka air matanya.
"Pak, berhenti di sana!" titah Cecilia sembari menunjuk ke arah gedung tinggi dan megah tersebut.
Pak sopir sempat melongokkan kepala menatap gedung tersebut sebelum ia menghentikan laju mobil tersebut. Setelah Pak Sopir menepikan mobilnya, Cecilia pun bergegas masuk ke dalam perusahaan itu.
"Selamat pagi, Nona," sapa salah satu penjaga keamanan yang berjaga di depan. Mereka belum tahu bahwa Cecilia dan Alfa sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi.
"Pagi. Apa Alfa sudah datang?"
"Sudah, Non. Tuan Alfa sudah berada di ruangannya."
__ADS_1
"Baik, terima kasih."
Cecilia pun bergegas masuk. Ia begitu senang karena ternyata seluruh karyawan di perusahaan itu terlihat begitu menghormatinya.
"Ternyata seperti ini lah rasanya menjadi nyonya besar. Namun, sayangnya hal itu tidak akan pernah terjadi kepadaku. Jika aku tidak bisa menjerat Alfa dengan kebohonganku, maka gadis itu pun tidak boleh!" gumam Cecilia sambil terus melangkahkan kakinya.
Tidak berselang lama, Cecilia akhirnya tiba di lantai puncak, di mana ruangan Alfa berada. Sebelum memasuki ruangan tersebut, seorang wanita mencoba mencegatnya.
"Maaf, apa Nona sudah membuat janji kepada Tuan Alfa sebelumnya?" tanya wanita itu.
"Heh! Kamu tidak tahu ya, siapa aku? Aku adalah Cecilia Romano! Kekasih Tuan Alfa Alexander Graham! Atau kamu memang tidak masuk ketika Alfa memperkenalkan aku kepada seluruh karyawannya di perusahaan ini, iya?!" kesal Cecilia.
Wanita itu tersenyum sembari mengangguk pelan. "Ya. Saya tahu, Nona. Tetapi saya sudah mendapatkan perintah dari Tuan Alfa. Beliau bilang tidak boleh membiarkan siapa pun masuk kecuali sudah membuat janji padanya."
Mendengar penjelasan dari wanita itu, Cecilia pun meradang. Ia mendorong wanita itu dengan kasar hingga tubuhnya jatuh ke lantai. Melihat hal itu, Cecilia pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Alfa! Alfa, di mana kamu!" teriak Cecilia sembari melenggang masuk.
"Cecilia! Untuk apa kamu ke sini!" Wajah Alfa tampak kesal ketika Cecilia masuk ke ruangannya tanpa izin.
"Ada yang ingin aku bicarakan padamu dan ini penting!"
"Maafkan saya, Tuan. Dia mendorong saya kemudian menyerobot masuk," ucap wanita itu dengan wajah bersalah menatap Alfa.
Alfa mengibaskan tangannya kepada wanita itu sambil mengangguk pelan. Wanita itu pun segera pergi dan meninggalkan Cecilia bersama Alfa di ruangan itu.
"Ada apa?" tanya Alfa dengan wajah tampak malas.
__ADS_1
Cecilia melemparkan test pack bergaris dua miliknya ke atas meja kerja Alfa seraya berkata kepada lelaki itu.
"Aku hamil dan itu anakmu!"
Alfa melirik test pack tersebut tanpa berkeinginan menyentuhnya. Setelah melihat garis dua di benda tersebut, Alfa pun tergelak.
"Kamu itu bodoh atau apa, Cecilia? Apa kamu sudah lupa bahwa kita tidak pernah berhasil melakukan itu dan aku yakin bayi itu adalah milik Mateo. Bukan kah kalian sering sekali melakukannya? Di depan mataku saja sudah dua kali kali melakukan hal itu, apa lagi di belakangku."
"Oh ya, jangan coba bermain-main denganku, Cecilia. Karena kamu belum tahu siapa aku yang sebenarnya. Jika kamu masih bersikeras mengatakan bahwa bayi itu adalah milikku, maka hari ini juga aku akan membawamu ke dokter untuk melakukan tes DNA. Dan jika aku benar, maka aku tidak akan segan-segan menuntutmu ke jalur hukum karena sudah memfitnah dan mencemarkan nama baikku," sambung Alfa dengan wajah serius menatap Cecilia.
Cecilia tersenyum sinis.
"Oh, ternyata kamu sadar juga bahwa kamu tidak bisa melakukan hubungan itu bersamaku. Apa kamu tahu maksud kedatanganku ke tempat ini, Alfa? Sebenarnya aku hanya ingin mengingatkan siapa dirimu. Kamu itu impoten! Dan sampai kapan pun kamu tidak akan bisa berhubungan bersama wanita mana pun di dunia ini. Namun, kenapa kamu masih begitu bodoh dan mengakui bahwa bayi di dalam kandungan gadis itu adalah milikmu?!" kesal Cecilia.
Alfa terkekeh sambil mengusap wajahnya dengan kasar. "Oh, ternyata kamu sudah tahu soal Dea," ucap Alfa yang kini kembali menatap Cecilia dengan serius.
"Asal kamu tahu, ya, Cecilia. Aku tidak impoten dan anak yang ada di dalam kandungan gadis itu memang anakku, darah dagingku. Sekarang kamu sudah puas? Sebaiknya kamu pulang dan jangan pernah berpikir untuk mengganggu hubungan kami lagi. Sebab aku tidak akan pernah membiarkannya! Camkan itu," tegas Alfa sembari menunjuk ke arah pintu.
Cecilia benar-benar merasa malu sekaligus kesal dan marah. Ia mengepalkan tangannya dengan erat kemudian melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah Cecilia beranjak dari posisinya, tiba-tiba Alfa kembali memanggilnya.
"Ambil punyamu ini, siapa tahu alat ini masih berguna untuk mengikat korbanmu yang lain," ucap Alfa, tanpa berkeinginan menyentuh benda itu.
"Brengsek!" Cecilia kembali menghampiri meja Alfa kemudian meraih benda itu dan menyimpannya. Setelah itu ia pun kembali melenggang pergi sambil terus menggerutu.
"Huft! Ini salahku. Besok aku akan berikan pengumuman untuk seluruh karyawan bahwa aku sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi dengan wanita itu," gumam Alfa.
Tiba-tiba Alfa teringat akan apa yang dikatakan oleh Cecilia tentang dirinya. "Ya Tuhan, kenapa aku jadi takut. Bagaimana jika aku masih belum bisa melakukan itu? Lalu bagaimana nasib Dea? Apakah aku harus mengetesnya bersama Dea malam ini untuk mengetahuinya?" lanjutnya dengan alis berkerut.
__ADS_1
...***...