Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 86


__ADS_3

"Julian, kamu dengar Ibu?" tanya wanita paruh baya itu dengan tegas.


Namun, lagi-lagi Julian diam dan tak bicara sepatah kata pun. Hingga sang ibu akhirnya melampiaskan kemarahannya kepada Herman.


"Heh, kamu!" Wanita itu menunjuk Herman dengan sangat tidak sopan. "Apa yang sudah kamu lakukan terhadap anakku, heh? Jangan bilang kalau kamu sudah memberikan sihir kepada Julian agar ia lupa akan istrinya dan kembali kepada Adikmu yang sudah tidak perawan itu, iya?!"


Herman menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum sinis. "Otak dan hati Anda sudah terlalu kotor, Nyonya Abram! Seperti yang sering Anda katakan, keluarga kami hanya keluarga miskin. Buat apa saya menghabiskan banyak uang hanya untuk membayar jasa seorang dukun dan mengirimkan sihir kepada anak lelaki Anda. Sementara untuk kebutuhan sehari-hari kami saja susah. Lagi pula, lebih baik saya menikahkan Dea dengan lelaki kota itu dari pada membiarkan Dea kembali bersama anak Anda," tegas Herman.


Susi bergegas menghampiri Herman kemudian berdiri di samping suaminya itu sambil tersenyum semringah. Ia begitu bahagia mendengar ucapan terakhir Herman yang mengatakan bahwa Herman lebih memilih menikahkan Dea dengan Alfa dari pada membiarkan Dea kembali kepada Julian. Itu artinya, usaha yang dilakukan oleh Susi beberapa hari terakhir tidak sia-sia.


"Anda dengar itu, Nyonya Abram!? Apa yang dikatakan oleh suami saya itu benar! Lebih baik Dea menikah dengan Tuan Alfa dari pada harus kembali kepada Julian!"


"Awas kamu, ya!" Wanita paruh baya itu semakin kesal dan berniat ingin menyerang Susi. Namun, Julian menahannya sembari berkata.


"Ini bukan salah mereka, Bu. Aku pergi dari rumah bukan karena sihir atau apa pun yang Ibu katakan, tapi ...." Julian menghentikan perkataannya kemudian menatap Reva yang masih saja terisak di dalam pelukan salah satu sepupunya.


Menyadari hal itu, Reva pun menggelengkan kepalanya dengan cepat. Matanya seolah mengiba dan meminta Julian agar jangan membuka aibnya di hadapan semua orang.


Namun, Julian tampak tidak peduli. Ia sudah terlanjur kecewa dan bertekad akan mengakhiri pernikahannya bersama Reva saat itu juga.


"Tapi apa, Julian?" tanya Ibunda Julian sambil memasang telinganya baik-baik.


"Apa Ibu tahu, ternyata selama ini Reva sudah—" Ucapan Julian mendadak terhenti karena tiba-tiba Reva berlari ke arahnya kemudian menyela ucapannya.


"Tidak, Julian! Jangan ceritakan hal itu di sini. Sebaiknya kita pulang dan ceritakan semuanya di rumah. Kumohon, Julian!" Reva terisak sambil menangkupkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Kalian ini bicara apa, sih? Ibu tidak mengerti," ucap Ibu Julian dengan alis yang saling bertaut.


Julian mendengus kesal kemudian melenggang pergi meninggalkan tempat itu. Sepeninggal Julian, yang lain pun bergegas menyusul termasuk wanita paruh baya itu.


Susi tertawa sinis. "Aku penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada lelaki itu. Kenapa dia tampak begitu membenci istri barunya."


"Sudahlah, jangan ikut campur urusan orang," ucap Herman sambil melenggang pergi dan masuk ke dalam rumahnya sembari mengajak Dea yang masih ketakutan.


"Memang benar, tapi entah kenapa aku sangat penasaran," gumam Susi lagi.


Di dalam rumah.


Herman mengajak Dea duduk di sofa ruang depan dan mencoba menenangkannya. "Sudahlah, kamu tidak usah takut lagi. Kakak bisa pastikan bahwa Julian tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi."


Dea mengangguk pelan tanpa menjawab sepatah kata pun. Susi masuk dan duduk tepat di samping Dea.


Herman mendengus kesal. Entah kenapa ia benar-benar tidak suka membicarakan masalah keluarga mantan suami Dea tersebut.


Dea terdiam sejenak dan di dalam pikiran gadis itu kembali terlintas kisah malam pertamanya yang berantakan. Di mana Julian mengamuk setelah mendengar pengakuannya. Tatapan mengerikan Julian barusan, sama persis seperti tatapan Julian pada malam itu.


Sementara itu.


Prank!


Julian yang sudah tidak bisa menahan emosinya, melemparkan sebuah gelas ke lantai, dekat kaki Reva yang menjuntai di lantai. Reva dan seluruh keluarga Julian tersentak kaget. Dengan gemetar, Reva menarik kakinya menjauh dari pecahan gelas tersebut.

__ADS_1


"Sekarang Ibu mengerti, kenapa aku meninggalkan wanita ini, kan?!" teriak Julian dengan wajah memerah.


Wanita paruh baya itu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan wajah kusut. Sementara keluarganya yang lain, menatap Reva dengan tatapan kesal mereka.


"Dengan siapa kamu melakukanya, Reva?" tanya Ibunda Julian dengan lesu.


"Kejadian itu sudah lama sekali, Bu. Saat masih remaja saya melakukannya bersama teman satu sekolah," lirih Reva dengan kepala tertunduk menghadap lantai.


"Menjijikkan!" sela Julian sambil mendengus kesal.


"Dan setelah itu apa kamu melakukannya lagi?" tanya wanita itu lagi.


"Jawab dengan jujur, Reva! Karena aku yakin kamu sudah sering melakukannya dari cara kamu bermain tadi malam!" Teriakan Julian menggema hingga ke langit-langit ruangan itu dan membuat nyali Reva menciut untuk berkata bohong.


"Ya," jawab Reva singkat dan membuat seluruh keluarga Julian mendengus kesal setelah mendengar pengakuan dari wanita itu.


"Mulai hari ini kita cerai, Reva! Sekarang kemasi barang-barangmu dan angkat kaki dari rumah ini!" ucap Julian dengan lantang dan disaksikan oleh seluruh keluarga besarnya.


Reva bangkit dari posisi duduknya kemudian tersenyum sinis menatap Julian.


"Baiklah, aku terima perceraian ini. Lagi pula aku lega setelah tahu lelaki seperti apa dirimu ini, Julian. Tidak lebih dari seorang bajingan berkedok mencari kesucian seorang wanita. Buktinya tadi malam saja kamu begitu menikmati permainan kita, bukan?!" sahut Reva kemudian melenggang dengan santainya meninggalkan tempat itu.


"Sialan!" umpat Julian sambil melemparkan tinju ke udara.


...***...

__ADS_1


Karena Author sudah tidak punya tabungan bab lagi, dengan terpaksa Author harus mulai nulis lagi per bab dan up-nya pun perbab. Jadi, harap sabar ya, Readers 😊😊😊


__ADS_2