
Julian yang tidak berpengalaman soal itu, terus melanjutkan aksinya. Menghujamkan senjatanya ke area pribadi milik Reva sambil mendesis nikmat.
"Ehm akh ...." Julian mendesahh. Menikmati setiap detik permainan panasnya bersama Reva, begitu pula sebaliknya. Reva pun begitu bersemangat menikmati malam pertamanya bersama Julian.
Di tengah permainan panas mereka, Reva mengambil alih permainan. Ia mengganti posisi bermain mereka. Yang tadinya Reva berada di bawah Julian, kini ia berada di atas tubuh lelaki itu.
Julian tampak bingung karena Reva terlihat begitu berpengalaman. Tidak pernah terpikirkan oleh Julian sebelumnya bahwa Reva akan se-pro itu dalam permainan perdana mereka.
Setelah memasukkan benda panjang itu ke dalam intinya, Reva pun bermain liat di atas tubuh Julian. Ia terus memompa tubuhnya turun naik dengan irama yang teratur. Tidak hanya sampai di situ, Reva juga mengajak Julian bermain lewat belakang ala doggyy-stylee.
"Terus, Mas! Terus," desahh Reva.
Walaupun bingung dengan prilaku Reva saat itu, tetapi karena sudah kepalang tanggung, Julian pun meneruskan permainannya. Ada sedikit rasa curiga yang terbesit di hati Julian saat itu kepada Reva. Namun, ia mencoba menepisnya dan berpikir positif.
Julian memompa tubuhnya dengan gerakan cepat, semakin cepat dan semakin cepat. Hingga akhirnya ia dan Reva mengerang secara bersamaan. Julian menebarkan benihnya ke dalam rahim wanita itu. Sementara Reva jatuh dengan tubuh lemas dan napas yang tersengal-sengal.
Setelah menyelesaikan permainan mereka, Julian segera bangkit dan berdiri di samping tempat tidur. Ia tampak mencari-cari sesuatu di atas tempat tidur tersebut. Reva yang sejak tadi memperhatikan Julian pun turut kebingungan dibuatnya.
"Kamu nyari apa sih, Mas?" tanya Reva sembari bangkit dari posisi nyamannya. Ia duduk di tepian ranjang dengan tatapan yang tertuju pada sprei tempat tidur.
"Mana, Reva?" Bukannya menjawab pertanyaan Reva, Julian malah bertanya balik kepada wanita itu.
__ADS_1
"Apanya yang mana?" Reva menautkan kedua alisnya heran. Ia berdiri di samping Julian dan turut mencari sesuatu yang sedang dicari oleh lelaki itu.
"Noda darah itu, Reva! Noda darah keperawananmu! Ini adalah malam pertama kita, seharusnya noda itu terlihat di sprei ini!" ucap Julian sembari menarik sprei yang menutupi tempat tidur mereka dengan kasar.
Bantal, guling serta selimut yang ada di atas ranjang tersebut jatuh dan menghambur di lantai.
Reva tersentak kaget. Matanya melotot sempurna menatap Julian. Ia tidak percaya bahwa ternyata Julian tengah mencari noda darah keperawanan miliknya. Ia pikir lelaki itu tidak akan pernah mempersoalkan hal itu, tapi ternyata ia salah.
Tentu saja Julian tidak akan pernah menemukannya di mana-mana karena pada kenyataannya Reva memang bukan gadis perawan. Keperawanannya sudah ia lepaskan untuk kekasih pertamanya. Maklum, Reva tinggal di kota dan kehidupannya sedikit lebih bebas dari pada di desa.
"Jawab aku, Reva! Jangan diam saja," kesal Julian dengan setengah berteriak di hadapan Reva.
"Ehm, itu ... aku ...." Reva tampak bingung sekaligus ketakutan melihat ekspresi Julian yang begitu menakutkan.
"Itu apa, Reva? Katakan!"
Julian melemparkan seprei yang masih ada di dalam genggamannya ke sembarang arah. Ia meraih kedua pundak Reva kemudian menggoncang-goncangkan tubuh wanita itu dengan kasar.
"Jangan bilang kalau kamu memang sudah tidak perawan lagi, Reva!" Julian melepaskan cengkramannya kemudian mendorong tubuh Reva hingga terjatuh ke atas tempat tidur dengan posisi terlentang.
"Akh! Sakit, Mas," rintih Reva dengan wajah sedih.
__ADS_1
Reva kembali bangkit kemudian duduk di tepian tempat tidur. Ia memasang wajah memelas di hadapan Julian dan berharap lelaki itu iba kepadanya.
"A-aku masih perawan, Mas. Percayalah!"
Reva memilih berbohong karena ia takut kehilangan Julian. Ia takut Julian marah kemudian menceraikannya. Reva tidak ingin hal itu terjadi sebab ia sudah terlanjur mencintai lelaki itu dengan sepenuh hatinya.
"Perawan katamu! Jika benar kamu masih perawan, lalu mana noda darah itu? Coba jelaskan padaku," tegas Julian.
Reva tertunduk menghadap lantai. Tubuh polosnya bergetar hebat karena wanita itu tengah terisak di sana.
"Pantas saja kamu begitu lincah ternyata kamu sudah berpengalaman dan sering melakukan itu. Iya?!" teriak Julian lagi.
"M-maafkan aku, Mas," lirih Reva sembari mengangkat kepala dan menatap Julian yang masih berdiri di hadapannya sambil bertolak pinggang.
"Kamu benar-benar menjijikkan, Reva. Aku pikir kamu adalah gadis baik-baik. Ternyata kamu tidak lebih baik dari Dea! Ya, setidaknya Dea berkata jujur tentang dirinya," kesal Julian.
Julian meraih kemeja serta celana yang tergeletak di lantai kamar kemudian mengenakannya. Ia melenggang pergi dan meninggalkan Reva yang masih terisak di ruangan itu.
Untuk kedua kalinya Julian harus menelan pil pahit kehidupan. Di mana ia kembali memperistri seorang wanita yang sudah tidak perawan. Memang benar, bagi sebagian orang keperawanan bukanlah hal yang penting. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Julian. Baginya, keperawanan seorang wanita itu sangatlah penting.
...***...
__ADS_1