Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 21


__ADS_3

Dengan posisi masih bersimpuh di hadapan Julian, Dea mencoba menjelaskan semuanya. Ia pasrah walaupun lelaki itu tidak akan pernah mempercayai kata-katanya.


"Kejadian itu terjadi tepat di saat aku ingin menemuimu di dermaga. Malam itu ada tiga orang laki-laki yang sedang berkemah di pinggir pantai. Ketiga lelaki itu dalam kondisi mabuk, Mas. Mereka mengerjai ku dan salah satu dari mereka berhasil merenggut kesucianku. Dan ketika lelaki ke dua ingin mengerjai ku, tiba-tiba terdengar suara Mas Julian memanggil namaku. Mereka bertiga ketakutan dan akhirnya kabur dari tempat itu. Aku masih dalam keadaan sadar ketika Mas berada tak jauh dariku, tetapi karena kondisiku yang sudah lemah, aku bahkan tidak mampu memanggilmu," jelas Dea sambil menitikkan air matanya.


Julian tersenyum sinis sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak percaya! Jelas-jelas malam itu kamu tidak datang, Dea!" tegas Julian. Pelan tetapi penuh dengan penekanan.


"Demi Tuhan, Mas! Aku bersungguh-sungguh! Aku tidak bohong," lirih Dea yang mencoba meyakinkan Julian.


Aakkh!


Julian yang kalap, melemparkan bantal, guling dan selimut ke arah gadis malang itu. Sementara Dea hanya bisa terisak dengan kepala tertunduk menghadap lantai kamar.


"Mulai detik ini, kamu Dea Anindya, aku ceraikan! Di antara kita sudah tidak ada lagi hubungan apapun lagi!" tegas Julian dengan wajah memerah.


Dea menggeleng dengan cepat. "Jangan, Mas! Jangan cetaikan aku! Aku mohon," lirih Dea.


"Sekarang kembalilah ke rumah Kakakmu dan katakan pada mereka bahwa aku sudah menceraikanmu!" sahut Julian.


Emosi lelaki itu sudah tidak bisa dibendung lagi. Ia bahkan merasa jijik melihat sosok Dea yang masih bersimpuh di hadapannya. Ia meraih kemeja yang tadi diletakkan di samping tempat tidur kemudian mengenakannya kembali.

__ADS_1


Sambil memasang kancing kemejanya, Julian melangkah dengan cepat keluar dari kamarnya tersebut. Melihat hal itu, Dea pun segera bangkit dari posisinya. Dengan tubuh bergetar, ia meraih setelan baju baru yang diberikan oleh pihak Julian untuknya.


Selesai berpakaian, Dea pun berlari menyusul Julian yang pergi entah kemana. Ketika Dea membuka pintu utama, ia sempat berpapasan dengan Ibu mertuanya. Wanita paruh baya itu tampak heran melihat wajah pucat Dea ketika melewatinya.


"Dea, kamu mau kemana, Nak?" tanya wanita itu.


"Menyusul Mas Julian, Bu," sahut Dea sambil membuka pintu dan kembali berlari tanpa peduli bagaimana reaksi Ibu mertuanya.


"Menyusul Julian? Memangnya anak itu mau kemana malam-malam begini?" Ibunya Julian membuka pintu dan mencari keberadaan pasangan itu. Namun, sayangnya baik Julian maupun Dea sudah tidak ada di sana.


Sementara itu,


"Itu dia! Ya, Tuhan, sebenarnya mau apa dia ke sana?" gumam Dea dengan cemas.


Ternyata saat itu Julian menuju rumah yang baru ia bangun, yang rencananya akan mereka tinggali beberapa hari lagi. Dengan wajah merah padam, Julian melenggang memasuki rumah tersebut.


Rumah itu masih kosong melompong. Tidak ada perabot atau barang berharga lainnya di rumah itu. Julian berjalan menuju ruang dapur, di mana ia menyimpan peralatan tukangnya seperti palu, gergaji dan sebagainya di sana. Julian meraih sebuah palu kemudian membawanya ke ruang utama rumah tersebut.


Prank!

__ADS_1


Terdengar suara kaca yang pecah akibat dipukul dengan benda keras. Dea yang barru saja tiba di tempat itu, begitu terkejut dan ketakutan. "Su-suara apa itu?"


Walaupun takut, tetapi Dea tidak ingin menghentikan langkahnya. Ia ikut masuk je dalam rumah itu untuk menyusul Julian. Baru saja Dea menginjakkan kakinya di ruang depan, tiba-tiba terdengar lagi suara kaca yang pecah untuk ke dua kalinya.


Prank!


"Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Mas Julian," gumam Dea sambil meremass-remass kedua tangannya secara bergantian.


"M-mas ...," panggil Dea dengan bibir bergetar.


Mendengar suara Dea di tempat itu, emosi Julian pun semakin mendidih. Ia bergegas menuju ke arah suara, masih dengan palu besar di tangannya.


"Mau apa lagi kamu ke sini, ha! Dasar wanita tidak tahu malu! Seharusnya kamu malu menampakkan wajah kotormu itu ke hadapanku!" geramnya dengan dada turun naik, menandakan bahwa lelaki itu tengah bernapas lebih cepat dari biasanya.


"Ma-maafkan aku, Mas!" lirih Dea dengan kedua tangan yang saling bertaut di hadapannya.


"Tidak ada kata maaf untuk wanita kotor seperti dirimu! Sekarang enyah dari hadapanku!" teriaknya lagi, tepat di samping telinga Dea.


...***...

__ADS_1


__ADS_2