Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 49


__ADS_3

Cecilia mengajak Alfa menuju sofa dan mendudukkan lelaki itu di sana. Cecilia kembali menaiki tubuh Alfa kemudian kembali duduk di pangkuannya.


Tangan gesit Cecilia mulai bermain di kancing kemeja Alfa. Melepaskan kancing yang masih berpaut hingga semuanya terlepas. Dengan penuh semangat Cecilia melepaskan jas, rompi kemudian kemeja yang Alfa kenalan.


Kini tubuh lelaki itu sudah setengah telanjaang. Dada bidang lelaki itu sudah terpampang begitu jelas di matanya. Cecilia mulai memberikan kecupan demi kecupan di dada lelaki itu. Tidak lupa, ia juga meninggalkan tanda-tanda merah di sana agar Alfa selalu ingat bahwa mereka sudah melakukan hal itu.


Suara desahaan Alfa semakin kencang. Apalagi ketika Cecilia mulai memainkan lidahnya di kedua puncak dadanya. Desahaan Alfa, membuat Cecilia semangat untuk menaklukkan lelaki itu.


"Mau tahu yang lebih dahsyat lagi, Sayang?" bisik Cecilia di samping telinga Alfa kemudian menggigitnya pelan.


Alfa menganggukkan kepalanya dengan cepat sambil menatap mata wanita itu lekat.


"Baiklah, tunggu sebentar!"


Cecilia turun dari pangkuan Alfa. Ia berjongkok di lantai dan kini tangannya mulai membuka celana lelaki itu lebih lebar lagi. Ia mengeluarkan junior milik Alfa yang kini tampak berdiri tegak di hadapannya.


Cecilia tersenyum nakal sambil mendongakkan kepalanya menghadap Alfa yang sudah tidak sabar menunggu Cecilia melakukan itu.


"Cepat Cecilia!"


Cecilia menyeringai. Entah kenapa Alfa sekarang lebih mudah diajak bersenang-senang dari pada Alfa yang sebelumnya. Sok suci dan selalu menolak jika ia menginginkannya.

__ADS_1


Cecilia membuka mulutnya lebih lebar dan memasukkan benda berukuran jumbo itu ke dalam mulutnya. Tak lupa ia juga memainkan bagian kepalanya dengan lidah. Tak ada rasa jijik, malah sebaliknya. Wanita itu begitu semangat melakukannya.


Suara desahaan Alfa semakin tak terbendung. David bahkan tidak berani mendekati ruangan itu lagi. Setelah puas melakukan itu, Cecilia bangkit kemudian melepaskan cd-nya.


"Aku mulai saja ya, Sayang!"


Alfa pun menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, cepatlah!"


Cecilia naik ke atas pangkuan Alfa dan menaikkan rok mininya. Ia meraih junior Alfa lalu mengarahkannya ke area pribadinya yang sudah basah. Ketika semua sudah dirasa pas, Cecilia pun bersiap menghentakkan benda itu agar masuk ke dalam miliknya.


Namun, tiba-tiba saja junior milik Alfa mengkerut dan kembali kebentuk asalnya. Mengecil dan lembek. Cecilia kesal bukan main, di saat ia sudah tidak sabar ingin menikmati waktunya bersama Alfa, benda itu malah loyo sebelum waktunya.


"Apa yang terjadi padamu, Alfa?! Kenapa dia loyo duluan," kesal Cecilia sembari bangkit dari posisinya dan menunjuk ke arah junior Alfa yang loyo.


Alfa pun bingung. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba saja benda itu loyo sebelum permainan mereka dimulai. Alfa menggelengkan kepalanya dan wajah lelaki itu tampak cemas ketika menatap Cecilia.


"Aku juga tidak tahu kenapa bisa begini, Cecil. Padahal aku tidak memikirkan apapun saat ini dan aku juga sangat menginginkannya," jawab Alfa. "Bagaimana kalau kita coba melakukan pemanasan untuk sekali lagi, ya," lanjut Alfa mencoba membujuk Cecilia yang benar-benar sudah kesal.


Cecilia mendengus kesal. Ia pun kembali menghampiri Alfa dengan wajah cemberutnya. Ia mulai melakukan pemanasan sama seperti sebelumnya dan ternyata ia berhasil membangkitkan benda itu lagi.


Alfa dan Cecilia tersenyum puas ketika melihat benda itu kembali tegak berdiri. Kini semangat Cecilia pun kembali seperti sebelumnya. Ia menaiki tubuh Alfa dan mencoba mengarahkan benda itu sekali lagi ke miliknya.

__ADS_1


Namun, entah kenapa kejadian yang sebelumnya terjadi lagi. Tiba-tiba benda itu loyo sebelum berperang. Hal itu membuat Cecilia meradang dan menjauh dari Alfa.


Sambil menggerutu, Cecilia meraih cd-nya kemudian membawanya ke kamar mandi. Ia membersihkan area pribadinya yang basah kemudian mengenakan cd itu kembali. Tidak lupa, ia juga mulai merapikan kemeja serta rok mininya yang tersingkap.


Sementara Alfa masih kebingungan di ruangan itu. Ia menyentuh juniornya kemudian mengelusnya dengan lembut. "Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Apakah aku memiliki gangguan pada juniorku? Bagaimana jika itu benar," gumamnya dengan wajah cemas.


Alfa kembali mengenakan setelan jasnya. Ketika ia selesai merapikan pakaiannya, pintu kamar mandi pun terbuka. Tampak Cecilia dengan wajah kesalnya keluar dari ruangan itu. Alfa menghampiri Cecilia dan mengajaknya duduk kembali ke sofa.


"Sayang, maafkan aku karena sudah membuatmu kecewa hari ini," lirih Alfa sambil menatap lekat wajah Cecilia yang sama sekali tidak ingin menoleh ke arahnya.


"Aku rasa tempat inilah yang menjadi penyebabnya, Cecilia. Aku rasa juniorku tidak ingin kita melakukannya di tempat ini."


Cecilia yang masih kesal, membuang pandangannya ke arah jendela. "Memangnya bisa begitu?"


"Ya, mungkin saja. Aku berjanji padamu. Kita akan mengulangnya lagi di tempat lain, bagaimana? Kali ini aku akan mempersiapkan segala-galanya dan aku berjanji tidak akan pernah mengecewakanmu lagi."


Cecilia pun akhirnya setuju. Ia menoleh kepada Alfa kemudian menganggukkan kepalanya. "Baiklah, tapi kali ini kamu harus serius dan jangan kecewakan aku lagi," jawab Cecilia.


"Ya, aku berjanji."


...***...

__ADS_1


__ADS_2