
"Benar 'kan! Ternyata firasatku benar. Gadis itu memang istrinya Tuan Alfa!" celetuk Betty dengan mata membesar menatap Cecilia.
Wajah Cecilia memerah. Ia benar-benar marah setelah mengetahui kebenaran itu. "Aku harus tahu kapan dan di mana ia bertemu dengan gadis itu."
"Sudahlah, Non Cecil. Jangan terlalu dipikirkan. Nanti Non Cecil malah jatuh sakit. Biarkan Tuan Alfa bahagia dengan pilihannya. Dan untuk Non Cecil, mending Non fokus pada karier Non saja. Sayang 'kan, karier yang dirintis sejak dari nol harus berakhir sia-sia," ujar Betty.
"Sebentar, Betty!"
Bukannya mendengarkan nasehat dari asistennya itu, Cecilia masih saja memikirkan rasa penasarannya terhadap hubungan Dea dan Alfa.
"Ada apa lagi, Nona?" Betty memasang wajah masam.
"Entah kenapa aku jadi curiga kepada gadis itu. Jangan-jangan dia hanya memanfaatkan keluguan Alfa. Alfa masih belum sadar bahwa dirinya impoten. Aku yakin sekali bahwa bayi itu bukan lah milik Alfa! Gadis itu hanya mengaku-ngaku saja. Aku benar 'kan, Betty?!"
"Oh ya, Tuhan! Sebaiknya tidak usah berpikiran hingga sejauh itu Non Cecil. Move on lah dan itu adalah jalan yang terbaik untuk Nona."
"Ck! Kamu ini sok tahu, Betty!" Cecilia berdecak sebal.
Tidak berselang lama mereka pun tiba di kediaman Cecilia. Setelah pak sopir menepikan mobil tersebut di salah satu sudut halaman rumahnya, Cecilia dan Betty pun segera keluar.
"Ya Tuhan, kenapa kepalaku terasa semakin berat saja!" keluh Cecilia sambil mempercepat langkahnya memasuki ruangan demi ruangan yang ada di rumahnya tersebut.
"Kan, kubilang juga apa. Nona gak pernah mau mendengar kalau dinasehati. Nona terlalu memikirkan Tuan Alfa yang jelas-jelas sudah tidak peduli sama Nona. Sekarang kepala Nona makin puyeng 'kan," celetuk Betty.
"Hhhh, diam!" bentak Cecilia dengan berteriak.
__ADS_1
Setibanya di kamar, Cecilia segera menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia sudah tidak sanggup menahan rasa sakit di kepalanya.
"Ya ampun, Betty! Kepalaku sakit sekali. Semua benda di kamar ini terasa bergerak semua," teriak Cecilia sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan.
Betty bergegas menghampiri Cecilia kemudian duduk di tepian ranjang, tepatnya di samping tubuh wanita itu. Ia membantu memijit kepalanya dengan lembut agar rasa sakit yang dirasakan oleh Cecilia saat itu dapat berkurang.
"Bagaimana, Non? Apa rasa sakitnya berkurang?" tanya Betty.
"Arghhh! Masih sama, Betty. Ya, ampun! Sebaiknya berikan aku obat sakit kepala sekali lagi," sahut Cecilia sambil berteriak-teriak tidak jelas di dalam ruangan itu.
Betty menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak ingin memberikan obat sakit kepada Cecilia untuk yang kedua kalinya.
"Saya panggilkan dokter saja ya, Non Cecil. Biar Dokter bisa memberikan penanganan yang tepat untuk Nona," ucap Betty kemudian.
"Baiklah!"
Betty pun bergegas menghubungi dokter langganan Cecilia. Setelah berbicara sebentar bersama dokter tersebut, Betty pun kembali memutuskan panggilannya.
"Bagaimana, Betty? Dan mana dokternya?" ucap Cecilia yang sudah tidak sabar menunggu kedatangan Dokter.
"Ya ampun, Non. Aku baru saja selesai menghubungi dokter itu. Tidak mungkin lah dia langsung cuss on the way! Paling jua dia baru bersiap-siap mau ke tempat ini," celetuk Betty sambil mendengus kesal.
"Ah, lama!" kesal Cecilia.
Setelah beberapa saat kemudian, dokter itu pun tiba di kediaman Cecilia. Betty bergegas menyambut kedatangan wanita itu sebab Cecilia sudah tidak sabar menanti kedatangannya.
__ADS_1
"Silakan masuk, Dok. Non Cecil ada di dalam. Ia sudah tidak sabar menanti kedatangan Anda," ucap Betty.
Dokter itu pun mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar sambil mengikuti langkah Betty dari belakang.
"Non Cecil. Ini Bu Dokternya sudah tiba," ucap Betty sambil menggoyang-goyangkan tubuh Cecilia yang ketiduran menahan rasa sakitnya.
Cecilia mengerjapkan matanya kemudian tersenyum. "Dok, tolong aku. Kepalaku rasanya sakit sekali," ucap Cecilia dengan wajah lemas.
Dokter itu tersenyum. "Sebaiknya kita periksa dulu ya, Nona."
Bu Dokter itu mulai melakukan berbagai pemeriksaan kepada Cecilia. Baik berupa tekanan darah, denyut nadi dan sebagainya.
"Kapan terakhir kali Nona menstruasi?" tanya Dokter dengan wajah serius menatap Cecilia
Cecilia menautkan kedua alisnya heran. "Menstruasi?"
"Ya, Non." Dokter masih menunggu jawaban dari Cecilia.
Cecilia nampak mengingat-ingat. "Sepertinya aku memang sudah telat selama sebulanan ini. Memangnya kenapa sih, Dok? Jangan buat aku takut!"
Dokter menghembuskan napas berat. "Setelah saya melakukan pemeriksaan kesehatan Non Cecil, ternyata semuanya baik-baik saja dan tidak ada masalah apa pun. Jadi menurut kesimpulan saya, saat ini Non Cecil sedang mengandung dan untuk memastikannya, kita bisa cek dengan menggunakan alat test kehamilan," jelas Dokter.
"Apa! Hamil?" pekik Cecilia dengan wajah yang memucat.
...***...
__ADS_1