
Keesokan harinya.
"Non Cecil."
Cecilia yang sedang duduk termenung di sofa yang ada di ruang televisi, segera menoleh ke arah asal suara. Ia sempat terkejut melihat sosok Betty yang tampak berbeda dari biasanya.
Lelaki bertulang lunak itu mengenakan kemeja lelaki berwarna hitam yang ia padukan dengan celana jeans berwarna biru malam. Wajah cantiknya yang selalu ia rias dengan berbagai polesan, kini tampak mulus tanpa adanya polesan apa pun.
"Betty, kamu mau ke mana?" tanya Cecilia heran karena saat itu Betty tengah memegang gagang sebuah koper besar yang berisi barang-barang miliknya.
"Namaku Betrand, Nona. Dan hari ini aku ingin pamit sama Nona. Aku ingin berhenti menjadi assisten Nona dan kembali ke kampung halamanku," jawab lelaki itu sambil tersenyum getir menatap Cecilia.
"Berhenti? Ta-tapi kenapa, Betty ... ehm maksudku Betrand?" tanya Cecilia yang kini tampak cemas.
Lagi-lagi Betrand tersenyum. "Aku rindu kampung halamanku."
"Kalau hanya sebatas rindu kampung halamanmu, kamu bisa pulang sebentar dan kembali lagi sama seperti biasanya. Aku butuh kamu, Betty. Selama ini hanya kamu yang selalu ada di sampingku dan menjadi orang pertama yang memberikan aku semangat ketika aku terjatuh," tutur Cecilia.
Betrand menggeleng pelan. "Tapi kali ini tidak, Nona. Aku akan pulang dan tidak akan kembali lagi ke sini. Nona bisa cari penggantiku. Aku yakin banyak orang yang berminat menggantikan posisiku di sini," jawab Betrand.
Setelah mengucapkan hal itu, Betrand pun kembali melanjutkan langkahnya menuju halaman depan sambil menyeret koper berisi barang-barang miliknya.
Sementara Cecilia masih terdiam di ruangan itu dengan wajah panik. "Bagaimana ini? Dia tidak boleh pergi! Aku butuh dia," pekik Cecilia.
__ADS_1
Setelah berpikir keras, Cecilia pun segera berlari menyusul Betty alias Betrand yang kini sudah berada di halaman depan rumahnya.
"Betty, tunggu! Kumohon," teriak Cecilia dari dalam rumah.
Teriakan wanita itu sama sekali tidak terdengar oleh Betrand. Ia meneruskan langkah gontainya hingga ia berada tepat di depan pagar.
"Selamat tinggal, Nona Cecilia. Semoga saja setelah ini hidupmu akan menjadi lebih baik," gumamnya sebelum meraih gagang pagar.
"Betty, berhenti! Kumohon," teriak Cecilia lagi dengan napas yang terengah-engah.
Betrand yang ingin melanjutkan langkahnya, tiba-tiba terdiam. Ia mengurungkan niatnya menarik gagang pagar tersebut. Lelaki itu berbalik dan kini tatapannya tertuju pada Cecilia yang sedang berlari ke arahnya.
"Betty, berhenti ...." Kini Cecilia berdiri tepat di hadapan Betrand. Ia mencoba mengatur napasnya yang tengah berpacu dengan sangat cepat.
Betrand pun menunggu dengan sabar. Ia memperhatikan Cecilia yang masih kesusahan mengatur napasnya.
"Betty! Ehm, bukan ... maksudku Betrand! Tetaplah di sini, aku mohon!" lirih Cecilia dengan mata berkaca-kaca menatap lelaki itu.
"Aku tidak memiliki siapa pun lagi selain dirimu, Betrand. Dan ya! Aku bersedia menerimamu jika kamu serius ingin merawat bayi ini bersamaku. Bagaimana?" Cecilia menatap lelaki yang berdiri di hadapannya itu dengan raut wajah penuh harap.
Akhirnya Betrand menyunggingkan sebuah senyuman di wajahnya. Ia begitu bahagia sekaligus terharu mendengar penuturan Cecilia barusan.
"Ka-kamu serius, Non Cecil? Kamu tidak sedang mempermainkan aku, 'kan?" tanya Betrand balik.
__ADS_1
Cecilia menggelengkan kepalanya pelan. "Sama sekali tidak, Betrand. Aku serius dan aku harap kamu tidak akan pernah meninggalkan aku," sahut Cecilia.
Mata lelaki itu berkaca-kaca. Buliran bening itu kini tampak menggenangi pelupuk matanya. "Ya, Nona. Baiklah, aku tidak akan pergi."
Cecilia refleks memeluk tubuh Betrand. Begitu pula lelaki itu. Ia pun tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia membalas pelukan Cecilia dan sesekali melabuhkan ciuman hangatnya di puncak kepala wanita itu.
"Betty, ternyata tubuhmu kekar juga, ya?"
Cecilia melerai pelukannya bersama lelaki itu kemudian mengangkat kemeja yang dikenakan oleh Betrand hingga sebatas dada. Cecilia menggelengkan kepalanya karena selama ini ia bahkan tidak pernah menyadari bahwa Betty memiliki tubuh yang cukup berisi.
"Kamu menyukainya, Nona?" tanya Betrand.
Cecilia mengangguk pelan. "Baumu juga enak. Aku suka!" lanjut Cecilia sembari menciumi aroma maskulin yang berasal dari tubuh lelaki itu.
"Jadi ... kapan kamu akan menikahiku?" tanya Cecilia tanpa basa basi sambil menggandeng tangan Betrand.
"Apakah Nona siap hidup sederhana bersamaku? Jika Nona siap, maka aku akan segera mengurus semuanya," jawab Betrand mantap.
Cecilia mengangkat kepalanya sambil tersenyum manis. "Ya. Aku siap! Dan apakah kamu siap menerima diriku apa adanya? Ya, siapa tahu setelah ini aku sepi job dan—"
"Ya. Aku siap!" sela Betrand dengan cepat.
"Oh, terima kasih, Betrand!" ucap Cecilia sambil bergelayut manja di lengan lelaki itu.
__ADS_1
...***...