Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 124


__ADS_3

Karena merasa dirinya baik-baik saja, Dea pun kembali mengajak Alfa untuk menemui Nadia dan Ervan yang berdiri di atas pelaminan.


"Yakin kamu baik-baik saja?" tanya Alfa yang masih tampak panik.


"Iya, Mas. Aku baik-baik saja," jawab Dea.


"Baiklah kalau begitu." Alfa pun kembali menuntun Dea naik ke atas pelaminan untuk menemui Ervan dan Nadia.


"Aakh, Bumil kesayanganku!" pekik Nadia ketika melihat Dea datang mendekat ke arahnya.


Dea pun bergegas menghampirinya kemudian mereka pun berpelukan dengan erat dengan mata berkaca-kaca.


"Selamat ya, Nad. Semoga kalian selalu bahagia hingga maut memisahkan. Dan tidak lupa, aku doakan semoga kamu cepat mendapatkan momongan," ucap Dea sembari melerai pelukan mereka.


"Terima kasih, Sayangku!"


"Sama-sama. Oh ya, ini ada hadiah untukmu. Ya, mungkin harganya tidak seberapa, tapi hadiah itu benar-benar istimewa menurutku," ucap Dea sembari menyerahkan kado spesialnya untuk Nadia.


"Untukku? Wah, terima kasih. Boleh kubuka sekarang?" Nadia sudah tidak sabar ingin mengetahui hadiah apa yang ia terima dari sahabatnya itu.


"Tentu saja, buka lah."


Nadia membuka kado pemberian Dea dengan sangat antusias dan setelah kado tersebut terbuka, Nadia pun kembali memeluk Dea sambil menitikkan air matanya. Sebuah foto dirinya bersama Dea saat mereka masih sama-sama berjuang menjadi CS di perusahaan milik Alfa. Foto itu tampak cantik setelah diberikan bingkai foto berwarna gold tersebut.


"Terima kasih, Dea. Aku suka!"

__ADS_1


"Aku ingin kamu selalu mengingat persahabatan kita, Nad. Di mana kita berjuang bersama-sama," ucap Dea.


"Ya, tentu saja, Dea. Aku tidak akan pernah melupakannya. Kita akan tetap menjadi best friend hingga kita menjadi nenek-nenek."


Alfa dan Ervan saling tatap. "Kenapa kamu tidak memberikan aku hadiah yang seperti itu, Al? Bukankah katamu aku adalah sahabat sejatimu?" protes Ervan kepada Alfa.


"Aku tidak akan memberikan hadiah yang seperti itu. Aku hanya akan memberikan kamu hadiah ini, sebuah multivitamin untuk menambah staminamu menyambut malam pertama kalian," sahut Alfa sambil berbisik kepada sahabatnya itu. Ia menyerahkan sesuatu ke tangan Ervan.


"Apa ini?" Ervan memperhatikan benda kecil yang kini ada di atas telapak tangannya dengan alis yang berkerut.


Setelah menyadari benda apa yang baru saja diberikan oleh Alfa, ia pun memasang wajah saat menatap wajah sahabatnya itu.


"Apa kamu sudah gila? Ini 'kan malam pertama kami, Alfa. Masa kamu kasih aku beginian. Yang ada Nadia pingsan karena tidak bisa menahan nafsuku yang teramat besar," protes Ervan.


"Sudahlah, simpan saja. Kalau tidak ingin menggunakannya malam ini, kamu bisa menggunakannya di malam-malam berikutnya."


Alfa membulatkan matanya dengan sempurna. Ia bahkan tidak menyadari akan hal itu. "Ya, Tuhan! Aku tidak memperhatikannya, Van. Maafkan aku, tapi sumpah! Kamu terlihat jauh lebih keren dengan kaki barumu," ucap Alfa.


"Ya, butuh waktu untuk membiasakan tubuhku menerima benda ini. Pada awalnya aku menyerah, tetapi semangat yang terus diberikan oleh Nadia kepadaku, membuat aku berhasil menaklukkannya." Ervan meraih tangan Nadia kemudian menciumnya.


"Oh, manis sekali!" ucap Dea sambil menyandarkan kepalanya di lengan kekar Alfa.


"Heh, aku jauh lebih manis dari pria ini." Alfa protes.


"Iya, iya, baiklah. Terserah Mas saja," ucap Dea sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


"Oh ya, sebaiknya kita segera turun. Apa kamu lihat antriannya semakin panjang karena kita kelamaan ngobrol di sini bersama mereka," lanjut Alfa.


"Iya. Mas benar."


Alfa dan Dea pun segera pamit kepada pasangan pengantin itu. Dengan hati-hati sekali, Alfa menuntun Dea menuruni anak tangga yang hanya berjumlah 4 buah tersebut. Namun, tiba-tiba sesuatu yang tidak di sangka-sangka pun terjadi. Dea merasakan perutnya sakit dan ia tampak meringis kesakitan saat itu.


"Kamu kenapa, Sayang? Perutmu sakit lagi?"


Dea mengangguk pelan. "Iya, kali ini benar-benar sakit," sahut Dea.


"Ya ampun, Sayang! Sebaiknya kita segera ke Rumah Sakit. Siapa tahu sudah saatnya kamu melahirkan," ucap Alfa.


"Tapi ... kata dokter aku akan melahirkan sekitar satu atau dua minggu lagi," sahut Dea sambil menahan rasa sakit.


"Itu hanya prediksi dari dokter, Sayang. Kapan pastinya bayi ini akan lahir, hanya Tuhan yang tahu," jawab Alfa.


"Kamu bisa jalan sendiri atau aku bopong saja?" lanjut Alfa yang siap mengangkat tubuh Dea.


"Aku bisa berjalan sendiri, Mas." Dea mencoba berjalan sambil menahan rasa sakit.


Alfa menuntun Dea berjalan dengan sangat perlahan keluar dari ruangan itu. Namun, karena Alfa sudah tidak sabar lagi, maka ia pun memilih membopong tubuh Dea dan membawanya keluar dari hotel tersebut.


"Tahan sebentar, ya! Kita akan segera ke Rumah Sakit."


...***...

__ADS_1


Maaf ya, Readers. Late Up date 😭 jaringan wifi di tempat otor gangguan terosss 🤧🤧🤧


__ADS_2