Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 89


__ADS_3

"Mau ke mana kamu, Nak?" tanya Nyonya Kharisma kepada Alfa yang tengah merapikan kerah kemeja mahalnya. Lelaki itu terlihat begitu tampan dengan setelan kemeja berwarna navy dengan celana formal yang kini menutupi kaki jenjangnya.


"Aku ingin mengunjungi teman lamaku yang tinggal di luar kota, Mom. Mungkin aku akan menginap di sana untuk satu atau dua hari. Tapi Mommy tidak usah khawatir, aku pasti akan selalu kasih kabar ke Mommy, kok." sahut Alfa yang kini sudah selesai merapikan kerah kemejanya.


"Memangnya ada keperluan apa, Nak? Sepertinya penting sekali," tanya Nyonya Kharisma dengan penuh selidik.


"Ehm, hanya masalah bisnis."


Alfa tidak mungkin mengaku bahwa sebenarnya ia ingin pergi ke desa Muara Asri untuk menemui Herman dan keluarga kecilnya. Tidak mungkin pula bagi Alfa mengakui bahwa dirinya tengah merencanakan sebuah pernikahan yang begitu tiba-tiba bersama salah seorang gadis dari desa itu.


Namun, tidak semudah itu pula bagi Nyonya Kharisma percaya dengan kata-kata anak lelakinya itu. Dalam hati kecilnya berkata bahwa ia akan mengutuskan mata-mata yang sudah ia sewa untuk membuntuti ke manapun Alfa pergi.


"Baiklah, sebaiknya aku berangkat sekarang ya, Mom. Aku tidak ingin terlambat," ucap Alfa sembari melabuhkan ciuman hangat di kedua pipi sang mommy.


"Ya. Hati-hati di jalan ya, Nak. Jangan ngebut dan jangan lupa akan janjimu pada Mommy, bahwa kamu tidak akan pernah sentuh minuman haram itu lagi," ucap Nyonya Kharisma dengan penuh harap.


"Ok, Mom!" Alfa mengangguk pelan kemudian melenggang menuju halaman depan.


Nyonya Kharisma mengikuti langkah Alfa dari belakang hingga mereka tiba di halaman depan, di mana mobil milik Alfa sudah terparkir di sana dan siap meluncur ke jalan raya.


"Bye, Mom! Jangan lupa sampaikan salamku buat Daddy," ucap Alfa sembari melambaikan tangannya kepada Nyonya Kharisma.


"Apa tidak sebaiknya kamu tunggu saja Daddy-mu? Paling sebentar lagi dia pasti akan kembali," jawab Nyonya Kharisma.


"Tidak, Mom. Aku tidak ingin terlambat."


Dengan sangat terpaksa, Nyonya Kharisma pun mengangguk dan membiarkan Alfa pergi sebelum bertemu dengan Tuan Harry yang sedang berlari pagi bersama salah satu ajudannya.


Beberapa menit setelah kepergian Alfa, Tuan Harry pun tiba di kediaman mewahnya itu dengan tubuh penuh cucuran keringat. Ia tersenyum manis sembari menyapa Nyonya Kharisma yang terlihat sangat cantik, walaupun wajah istrinya itu tampak sedikit kusut.

__ADS_1


"Sayang, kenapa wajahmu ditekuk begitu? Apa ada yang salah denganku," tanya Tuan Harry sembari menghampiri Nyonya Kharisma.


"Sayang, sebaiknya hubungi detektif-mu itu. Alfa baru saja pergi dan dia bilang ingin mengunjungi salah satu teman lamanya di kota. Aku tidak percaya, Sayang. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk kepadanya," tutur Nyonya Kharisma dengan cemas.


"Ya, ampun, Alfa!"


Tanpa pikir panjang, Tuan Harry merogoh saku celana sport shorts yang tengah ia kenakan saat itu. Ia mencoba menghubungi laki-laki yang sudah ia tugaskan untuk memata-matai kegiatan Alfa. Tidak butuh waktu lama, panggilannya pun dijawab oleh lelaki itu.


"Ya, Tuan."


"Anakku baru saja pergi dan aku minta kamu agar segera mengikutinya," titah Tuan Harry.


"Ya, saya sudah tahu, Tuan. Dan ini kami sedang di perjalanan mengikuti Tuan Alfa," jawab lelaki itu.


"Bagus kalau begitu. Jangan sampai kalian kehilangan jejak dan jangan lupa, pastikan Alfa baik-baik saja."


Tuan Harry memutuskan panggilannya bersama lelaki itu sambil tersenyum semringah. Ia begitu senang karena lelaki itu bergerak dengan sangat cepat.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Nyonya Kharisma dengan harap-harap cemas.


"Tidak salah aku menugaskan lelaki itu untuk mengawasi gerak-gerik Alfa. Bahkan sebelum dikasih tau pun, ia sudah bergerak lebih dulu."


"Benarkah? Jadi saat ini lelaki itu sudah mengikuti ke mana Alfa pergi?"


"Ya," jawab Tuan Harry sambil tersenyum puas.


Akhirnya Nyonya Kharisma bisa bernapas dengan lega. Ia merasa lebih tenang setelah mendengar bahwa detektif yang mereka sewa sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik.


***

__ADS_1


Beberapa jam kemudian.


Kini Alfa sudah tiba di depan kediaman Susi dan Herman. Setelah memarkirkan mobilnya, ia pun bergegas menghampiri pintu rumah sederhana itu.


Tok ... tok ... tok!


"Itu sepertinya Tuan Alfa. Ayo, Mas! Cepat, bukain pintunya," ucap Susi dengan sangat antusias menyambut kedatangan lelaki itu.


"Ck! Sebentar," sahut Herman sambil berdecak kesal.


Tidak seperti Susi yang begitu antusias menyambut kedatangan Alfa, Herman malah sebaliknya, ia tampak begitu malas. Herman bahkan tidak akan pernah sudi menemui lelaki yang sudah menghancurkan kehidupan adiknya itu, jika saja keadaannya tidak mendesak seperti ini.


Sementara Herman dan Susi berjalan menghampiri pintu utama, Dea lebih memilih bersembunyi di dapur dan duduk di sana bersama Virna.


"Tante Dea," panggil Virna.


Dea menoleh dan menatap keponakannya itu dengan wajah malas. "Ya?"


"Kata ibu, Tante Dea akan menikah lagi, ya? Sama pria tajir yang berasal dari kota," ucap Virna sambil tersenyum semringah menatap Dea.


"Memangnya kenapa kalau itu benar?"


"Nanti kalau Tante sudah menikah sama orang kota, sekali-sekali ajak Virna ke kota ya, Tante."


"Malas!" jawab Dea sambil membuang muka.


"Ish, Tante!" Virna menekuk wajahnya kesal.


...***...

__ADS_1


__ADS_2