
"Kalian akan menginap di sini 'kan?" tanya Dea kepada Herman dan Susi serta Virna yang sedang jalan-jalan mengelilingi rumah megah milik keluarga Tuan Harry.
Kalau saat itu Nyonya Kharisma tengah sibuk mengatur para pelayan yang sedang menyiapkan makan malam untuk mereka semua, Tuan Harry dan Alfa sedang asik membahas soal perusahaan mereka bersama David di dalam ruangan pribadi lelaki tua itu.
"Ya, iyalah, Dea. Kami tidak mungkin pulang sekarang, 'kan. Perjalanan yang ditempuh menuju desa lumayan jauh dan cukup melelahkan," sahut Susi.
"Kami benar-benar berhutang budi kepada Alfa dan keluarga besarnya, Dea. Dengan uang yang diberikan oleh Tuan Harry dulu, Kakak bisa membeli sebuah kapal bekas. Sekarang Kakak tidak perlu ikut kerja dengan orang lain. Sementara Kak Susi, sekarang dia sudah punya usaha kecil-kecilan di depan rumah dan hasilnya pun lumayan."
"Oh ya, Dea! Apa kamu tahu, sekarang keluarga besar Julian sedang dalam kondisi terpuruk. Sekarang terbukti 'kan? Roda kehidupan itu terus berputar. Tidak selamanya mereka selalu berada di atas dan tidak selamanya pula kita terus berada di bawah," sambung Susi sambil tersenyum puas.
"Hush! Sudah, jangan membicarakan masalah orang lain di sini," sela Herman yang tidak suka ketika Susi membahas masalah yang saat ini menimpa keluarga besar Julian.
"Ish, Mas Herman! Aku 'kan cuma kasih tau Dea soal Julian saja!" Susi menekuk wajahnya kesal.
Ternyata Dea pun saat itu ikut penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada mantan suaminya itu.
"Memangnya Mas Julian kenapa, Kak?" tanya Dea heran.
"Julian menderita gangguan jiwa setelah pernikahan ke-duanya gagal. Kedua orang tuanya sudah mencoba mengobati Julian dengan membawanya ke mana-mana. Ke dukun, ke orang pintar, ke dokter juga, tapi hasilnya nihil! Yang ada harta kekayaan mereka semakin terkeruk," jelas Susi dengan sangat serius.
__ADS_1
"Ya, ampun! Kasihan dia," sahut Dea.
"Tidak usah dikasihani! Mereka patut mendapatkannya karena sudah mempermalukan seluruh keluarga kita," sambung Susi.
"Sudah-sudah! Berhentilah membicarakan mereka," sela Herman lagi.
"Iya-iya, baiklah!" Susi mendengus kesal dan membuang wajahnya ke arah lain.
"Bu, coba lihat itu!" pekik Virna sambil menunjuk ke sebuah kolam renang berukuran besar yang berada di salah satu sisi rumah megah tersebut.
"Wah! Kolam renang!" pekik Susi dengan mata membulat.
"Tentu saja boleh, Vir," sahut Dea sembari memperhatikan penampilan bocah perempuan itu dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
"Kak, kenapa Virna di kasih perhiasan mahal seperti itu? Apa perhiasan itu dipakai setiap hari?" tanya Dea dengan wajah heran menatap Susi.
Ya, saat itu Virna tampak seperti toko perhiasan berjalan. Dari leher, pergelangan tangan, jari-jari tangan, hingga pergelangan kaki pun di hiasi dengan berbagai perhiasan mas. Bukan hanya Virna, tetapi Susi pun sama.
"Iya. Memangnya kenapa? Biar seluruh warga desa tahu bahwa sekarang kami pun mampu beli perhiasan mahal! Bukan hanya keluarga Julian yang bisa," jawab Susi tampak acuh.
__ADS_1
Dea menghembuskan napas berat. "Takutnya nanti malah membahayakan Virna, Kak."
"Ah, tidak mungkin! Lagi pula Virna tidak ke mana-mana, kok! Paling juga dia main tak jauh dari rumah bersama teman-temannya," jawab Susi tampak kesal.
Dea kembali membuang napas berat. Ia pun memilih diam karena berbicara pun tidak mungkin di dengar oleh kakak iparnya itu.
Susi melirik Dea. Tak satu pun perhiasan yang melekat di tubuhnya. Hanya ada satu cincin yang menghiasi jari manis Dea saat itu. Itu pun hanya cincin kawin. Cincin berlian yang diberikan oleh Nyonya Kharisma kepadanya ketika ia dan Alfa menikah.
"Oh ya, Dea. Bukankah suami dan mertuamu orang kaya tajir melintir, tapi kenapa kamu tidak mengenakan satu perhiasan pun? Jangan bilang suami dan kedua mertuamu itu pelit, ya! Sampai-sampai menantu kesayangannya tidak di kasih perhiasan," celetuk Susi.
Dea terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Untungnya mas Alfa dan kedua mertuaku sangat baik dan tidak pelit, Kak. Mereka memberikan banyak perhiasan kepadaku, tetapi semuanya disimpan dan hanya sesekali dikenakan. Selain itu, memakai perhiasan secara berlebihan itu bahaya, Kak."
Susi mencebikkan bibirnya seolah tidak percaya dengan ucapan adik iparnya tersebut. "Hmm, jangan bilang kamu iri, ya!"
Dea tertawa pelan kemudian merengkuh pundak Susi dan mengelusnya dengan lembut. "Ya, ampun, Kak. Sejak kapan aku punya sifat iri? Aku hanya mengingatkan saja, takut terjadi apa-apa kepada Virna. Itu saja," jelas Dea.
"Hhhh," sela Susi sambil mendengus kesal.
...***...
__ADS_1