
"Ayo, Dea. Sebaiknya kita pulang," ajak Susi kepada Dea.
"Pulang?" Dea mengernyitkan dahinya.
"Ya, pulang ke rumah! Apa kamu ingin terus di sini bersama Tuan Alfa hingga kalian digerebek warga, begitu?" ketus Susi.
Dea terdiam sejenak. Namun, tatapan gadis itu masih tertuju pada Susi. Ia heran kenapa sekarang Susi malah berlagak baik dan ingin mengajaknya kembali. Padahal Susi adalah orang pertama yang mengusirnya dari rumah.
Susi tampak kesal karena Dea masih bergeming. Ia menghampiri Dea kemudian menarik tangannya dengan kasar.
"Hayo! Sebaiknya kita pulang," ucap Susi sembari mengajak Dea untuk mengikutinya.
"Apa yang Kakak bicarakan kepada lelaki itu?" tanya Dea sembari mensejajarkan langkahnya bersama Susi.
"Soal pernikahan kalian. Aku meminta Tuan Alfa agar memberikan mahar yang besar untukmu. Kita akan adakan pesta pernikahan yang sangat-sangat meriah. Bahkan jauh lebih meriah dari pernikahan Julian," sahutnya dengan sangat antusias.
Dea mendadak menghentikan langkahnya. "Apa! Menikah?" pekik Dea dengan wajah kesal.
__ADS_1
Susi berbalik kemudian menatap waha kesal Dea. "Kenapa, kamu mau protes? Heh, apakah salah jika aku merencanakan pernikahanmu bersama Tuan Alfa? Apa kamu sudah lupa bahwa saat ini ada bayi yang membutuhkan sosok Ayah. Bukan hanya itu, aku melakukan ini untuk membersihkan nama kita yang sudah tercoreng akibat perbuatan lelaki itu, Dea." Susi menepuk pelan perut Dea yang tampak menonjol.
"Bagaimana dengan Kak Herman?"
Susi tersenyum miring. "Soal Herman, tidak usah kami khawatirkan. Dia akan selalu menuruti apa pun yang aku katakan," jawabnya dengan penuh keyakinan.
Setelah mengucapkan hal itu Susi pun kembali melanjutkan perjalanannya. Sementara Dea mengikuti dari belakang dengan wajah bimbang. Di tengah perjalanan Dea dan Susi berpapasan dengan mantan mertua Dea, ibunya Julian.
Wanita itu tersenyum sinis ketika berpapasan dengan Susi dan Dea. Ia tidak percaya bahwa ternyata Dea masih berani menampakkan wajahnya di desa itu.
"Wah, ternyata kamu sudah kembali ya, Dea. Dan kulihat kamu semakin semok saja, terutama di bagian perut." Wanita paruh baya itu tertawa lantang, menertawakan perut Dea yang membuncit.
"Kak, sudahlah!" Dea mencoba menyudahi perbedebatan kedua wanita itu. Namun, sepertinya baik Susi mau pun Ibunda Julian sama-sama tidak mau mengalah.
Wanita itu mencebikkan bibir. Hatinya kesal saat mendengar jawaban dari Susi barusan. "Hhh, memangnya lelaki mana yang bersedia menikahi gadis yang sudah tidak perawan? Mana dalam keadaan hamil lagi. Yang benar saja," celetuk Ibunda Julian sembari memutarkan kedua bola matanya.
"Ya, terserah kalau Anda tidak percaya!"
__ADS_1
Susi meraih tangan Dea dan membawanya agar segera menjauh dari wanita itu.
"Hei, jangan lupa datang di pernikahan Julian, ya!" ucap wanita itu dengan setengah berteriak karena Dea dan Susi sudah berada di jarak yang cukup jauh darinya.
"Dasar wanita sombong! Sudah tua, masih saja sombong!" kesal Susi sambil terus menggerutu di sepanjang perjalanan.
Sementara itu, di Puskesmas Desa.
David tiba di tempat itu kemudian segera menemui Alfa yang masih terbaring di atas bed pasien. David begitu syok dan tampak panik setelah melihat kondisi Alfa yang sebenarnya.
"Tu-Tuan Alfa, Anda kenapa? Bagaimana ini bisa terjadi?" pekik David.
"Om, tolong dengarkan aku! Aku mohon kepadamu, jangan sampai mommy dan daddy tahu tentang kejadian ini. Aku tidak ingin menambah beban mereka. Selama ini aku sudah cukup menyusahkan mommy dan daddy. Jadi kali ini, biarkan aku yang mengurus semuanya," tutur Alfa sembari mencoba meyakinkan David.
"Tapi, Tuan!"
Alfa mengangkat tangannya sebagai isyarat bahwa ia tidak ingin membahas masalah itu lebih jauh lagi. David pun akhirnya diam dan memutuskan untuk tidak membahasnya lebih jauh lagi.
__ADS_1
...***...