
Brakkk!
Hoeekkk!
Mendadak Dea muntah dan muntahannya mengenai jas milik seorang laki-laki yang baru saja ia tabrak. Untung hanya air liur yang keluar saat itu. Entah kenapa di indera penciuman Dea, ada sebuah bau amis yang sangat menyengat dan perutnya mendadak mual karena aroma tersebut.
Begitu pula minuman yang tadi Dea bawa. Semuanya terbalik dan mengenai pakaian lelaki tersebut. Semua orang di ruangan itu pun terperanjat. Terlebih David yang sejak tadi berjalan di samping Alfa.
"Astaga, apa yang kamu lakukan!" bentak David yang cemas melihat jas Alfa yang basah kuyup akibat terkena muntahan Dea dan juga minuman yang tumpah.
Dea mengangkat kepalanya dan kini tatapan gadis itu tertuju pada Alfa yang sedang berdiri tepat di hadapannya. Ia menatap Alfa dengan penuh kebencian. Dadanya bergetar hebat dan tangannya terasa sangat gatal. Gatal ingin menampar wajah tampan itu kemudian memakinya di hadapan seluruh karyawan. Namun, sebenci apa pun ia dengan lelaki itu, ia masih memiliki hati nurani untuk tidak melakukannya.
Jika Dea terlihat begitu benci saat bersitatap dengan Alfa. Namun, berbeda dengan Alfa. Lelaki itu terpesona melihat kecantikan alami yang dimiliki oleh Dea. Ia bahkan tidak bisa berkata apa-apa ketika menatap wajah polos tanpa make up tersebut. Tanpa sadar, Alfa menyunggingkan sebuah senyuman hangat ketika bersitatap dengannya.
"Heh! Kenapa kamu menatap Tuan Muda Alfa dengan tatapan seperti itu? Sekarang, minta maaf!" ucap David lagi dengan penuh kesal menatap Dea.
"Apa? Minta maaf Anda bilang?" Dea menyahut ucapan David dengan ketus. "Saya tidak perlu meminta maaf kepada lelaki ini! Malah sebaliknya, dia lah yang seharusnya meminta maaf dan bertekuk lutut kepadaku!" sambung Dea sembari melangkah pergi.
"Heh, jaga ucapanmu! Kamu tidak tahu sedang bicara dengan siapa," sambung David dengan setengah berteriak. Ia kesal karena Dea begitu lancang terhadapnya.
__ADS_1
Dea yang tadinya melangkah pergi, mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik kemudian kembali menatap Alfa dan David.
"Ya, saya tahu dengan siapa saya bicara. Yang Mulia Tuan Muda Alfa Alexander Graham. Putra tunggal dari pemilik perusahaan ini. Tapi, sayangnya saya tidak takut. Walaupun Anda akan memecat saya sekalipun."
Dea kembali melangkahkan kakinya dengan cepat, keluar dari ruangan itu.
"Heh, tunggu!" teriak David lagi.
"Sudah lah, Om. Biarkan saja dia." Alfa meraih tangan David yang ingin menyusul Dea.
"Tapi Tuan, gadis itu sudah keterlaluan."
Lagi-lagi Alfa menggelengkan kepala dan tatapannya masih tertuju pada Dea yang kini menghilang dari balik pintu ruangan.
"Apa gadis itu sedang sakit?" Para karyawan itu mulai bertanya-tanya.
"Entahlah!"
David memperhatikan pakaian Alfa dan ia begitu khawatir kalau lelaki itu akan meradang. Namun, ternyata malah sebaliknya. Lelaki itu tampak tenang dan seakan tidak terjadi apa-apa.
__ADS_1
"Biar saya bantu, Tuan."
David membantu Alfa melepaskan jas serta rompi yang basah kemudian menyerahkannya kepada salah seorang karyawan agar segera di bersihkan. Setelah itu, mereka pun kembali melangkah menuju ruangannya.
Di dalam ruangan pribadi Alfa.
"Tuan Muda, apakah saya harus memecat gadis itu?" tanya David dengan ekspresi wajah yang masih terlihat kesal.
Alfa menggelengkan kepalanya lagi. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan tatapan menerawang.
"Tidak perlu, Om. Biarkan dia. Entah kenapa aku merasa pernah bertemu dengan gadis itu. Tapi tidak tahu di mana? Wajahnya benar-benar tidak asing. Apakah aku pernah mengenal gadis itu sebelumnya, Om?"
Alis David berkerut. Ia benar-benar tidak tahu apakah Alfa pernah berteman dengan gadis itu atau tidak. "Maafkan saya, Tuan. Saya kurang tahu soal itu."
"Aku butuh informasi tentang gadis itu. Bisakah Om memberikannya kepadaku?" pinta Alfa.
"Baik, Tuan. Tentu saja," jawab David.
David pun segera beranjak dari ruangan itu. Sementara Alfa masih duduk di sana sambil membayangkan wajah cantik Dea yang menatapnya dengan penuh kebencian.
__ADS_1
"Dari tatapan gadis itu, sepertinya dia sangat membenciku. Apalagi saat aku mendengar kata-kata yang keluar dari bibirnya. Apakah aku pernah melakukan kesalahan kepadanya hingga ia begitu membenciku?" gumam Alfa dalam hati.
...***...