Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 133


__ADS_3

Malam itu baik Susi maupun Herman tak bisa tidur. Begitu pula Virna, ia pun hanya bisa menangis sambil memanggil Ayah dan Ibunya.


Herman duduk termenung di sofa ruang depan sambil berpikir keras ke mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Sementara Susi hanya bisa menangis, menyesali setiap perbuatannya.


Beberapa saat kemudian.


Susi menghentikan tangisnya. Ia berjalan menghampiri Herman kemudian duduk di samping suaminya itu dengan mata sembab.


"Mas, tidak bisakah kamu meminta bantuan kepada Dea?" lirih Susi sambil memasang wajah memelas kepada suaminya itu.


"Apa?" pekik Herman. "Meminta bantuan kepada Dea? Apa kamu tidak malu, Susi. Bukankah kamu pernah bilang kepadaku bahwa Dea pernah memperingatkan kamu soal Virna. Namun, apa balasanmu? Kamu malah menganggapnya iri sama kamu, 'kan."


Herman benar-benar marah saat Susi memberinya ide tersebut. Ide yang menurutnya sangat memalukan.


Karena Herman menolak usulan darinya, Susi pun kembali ke kamarnya dan menangis di sana. Berjam-jam ia terisak di ruangan itu sambil mengerutuki dirinya sendiri.


"Jika Mas Herman tidak ingin membantuku, maka sebaiknya aku melakukannya sendiri. Biar lah Dea mengatakan apa pun tentangku, aku tidak peduli. Yang terpenting saat ini adalah nyawa anakku," gumamnya.


Tanpa sepengetahuan Herman, Susi menghubungi nomor ponsel Dea. Ketika Susi menghubunginya, Dea dan Alfa tengah bercengkrama bersama bayi mereka yang memang suka begadang.

__ADS_1


"Kamu lihat, Sayang. Devano itu Alfa kedua. Coba lihat senyumnya, sama 'kan dengan senyumanku," ucap Alfa dengan bangganya.


Ia berbaring di samping Devano kemudian tersenyum mengikuti gaya bayi mungilnya tersebut.


"Sudah, Mas. Jangan bikin aku ilfil dengan gayamu itu!" Dea memukul pelan lengan Alfa sambil menekuk wajahnya. Sementara lelaki itu malah tergelak sambil mencubit pipi Dea dengan gemas.


"Kamu tau, gak? Kamu itu semakin marah, semakin terlihat cantik," godanya.


"Hmm, bohong!"


"Serius! Ketika orang-orang jatuh cinta karena sebuah senyuman yang tampak begitu manis, berbeda halnya denganku. Aku jatuh cinta kepadamu saat aku melihatmu marah-marah kepadaku. Hampir tiap malam wajah menekukmu itu selalu menghantuiku," tutur Alfa sambil tersenyum hangat menatap Dea.


Mereka pun tertawa bersama dan tepat di saat itu, ponsel milik Dea bergetar di atas nakas. Sontak perhatian mereka teralihkan pada benda pipih tersebut.


"Siapa?" Alfa melirik jam dinding yang menggantung di salah satu sudut ruangan kamar mereka sambil mengerutkan alisnya heran.


Dea meraih ponselnya kemudian memperhatikan layarnya.


"Kak Susi, Mas. Ada apa, ya?" pekik Dea karena tidak biasanya Susi menghubungi nomor ponselnya.

__ADS_1


"Angkatlah."


Dea pun segera menerima panggilan itu.


"Ya, Kak. Ada apa?"


"Dea ...."


Susi terisak kemudian menceritakan semuanya kepada Dea. Dea tertegun untuk beberapa saat dan setelah itu ekspresi wajahnya pun berubah. Ia tampak panik dan cemas.


"Mas, coba dengarkanlah." Dea menyerahkan ponselnya kepada Alfa dan Alfa pun menyambutnya. Ia mendengarkan dengan seksama cerita Susi hingga akhirnya ia pun angkat bicara.


"Kalian tenang saja. Temui saja para penculik itu besok," titah Alfa.


Setelah mendengar penjelasan dari Alfa, Susi pun akhirnya bisa bernapas dengan lega. Berpuluh-puluh kali ia mengucap terima kasih kepada Alfa karena sudah bersedia membantunya.


"Bagaimana, Mas?" tanya Dea tampak panik.


"Kamu tidak usah khawatir. Aku akan minta Om David untuk mengurusnya." Alfa meraih tubuh Dea kemudian memeluknya dengan erat.

__ADS_1


...***...


__ADS_2