Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 134


__ADS_3

Keesokan harinya.


Susi dan Herman mendatangi tempat yang sudah dijanjikan oleh para penculik itu. Dengan berbekal sebuah tas ransel berwarna hitam mereka tiba di sana dan menunggu kedatangan para pria tersebut. Tas ransel itu berisi sejumlah uang milik Herman dan Susi yang dikumpulkan menjadi satu. Namun, jumlahnya masih jauh dari angka nominal yang disebutkan oleh para penjahat.


Tidak berselang lama, para penculik itu pun tiba. Mereka berdiri tepat di hadapan Herman dengan jarak yang cukup jauh.


"Bagaimana, Pak Herman? Kalian sudah membawa uang itu 'kan?" tanya salah satu dari pria itu.


"Sudah," jawab Herman singkat dengan tangan gemetar.


"Bagus kalau begitu. Sekarang serahkan uangnya!" titah pria itu sambil tersenyum lebar.


"Akan ku serahkan uang ini, tapi setelah kalian menyerahkan anakku!" tegas Herman.


"Owh! Tidak bisa begitu, Pak Herman." Pria itu menggeleng sambil tersenyum sinis.


"Aku tidak percaya pada kalian sebelum kalian menyerahkan anak ku," ucap Herman lagi.


Pria itu meminta salah satu temannya untuk mengeluarkan Virna dari dalam mobil. Susi menangis histeris ketika menyaksikan Virna dengan kondisi kaki serta tangan yang terikat. Mulut yang sengaja disumpal dengan sapu tangan agak tidak bisa berteriak.


"Virna, anakku!" Susi menjerit dan ingin menghampiri Virna. Namun, langkahnya terhenti ketika salah satu dari lelaki itu mengacungkan sebuah senjata rakitan ke arahnya dengan wajah yang begitu serius.


"Berhenti, Bu Susi. Serahkan dulu uangnya dan akan kami serahkan anakmu ini."


Susi menatap Herman dengan wajah cemas. Ia tahu jumlah uang yang ada di dalam tas ransel itu tidak seberapa. Jauh dari jumlah nominal yang diinginkan oleh para penjahat tersebut.

__ADS_1


"Mas," lirih Susi dengan wajah memelas menatap Herman.


Herman tampak pasrah. Ia berjalan beberapa langkah ke depan kemudian melemparkan tas ransel itu ke hadapan para pria tersebut.


"Kami hanya punya segini. Kami berjanji akan membayar sisanya kepada kalian asalkan kalian kembalikan putri kami. Kami mohon," lirih Herman.


Salah satu dari pria itu meraih tas tersebut kemudian mengecek isinya. Sementara yang lainnya masih berjaga-jaga.


"Apaan ini!" kesal lelaki itu sembari mengeluarkan semua uang dari dalam ransel dan menggelarnya di tanah.


"Bagaimana?" tanya yang lainnya.


"Uangnya tidak cukup! Dia membohongi kita!"


"Oh, jadi kalian ingin main-main ya, sama kita?" lelaki yang tadi memegang senjata api rakitan itu kembali mengacungkan senjatanya ke hadapan Herman dan Susi.


"Angkat tangan! Kalian sudah di kepung."


Sejumlah lelaki bertubuh besar, berpakaian preman mengacungkan sebuah pistol ke arah para penculik itu. Dari satu, dua, tiga hingga sekelompok lelaki itu keluar dari persembunyian kemudian berdiri dengan posisi mengelilingi mereka.


Herman begitu kaget. Ia melirik Susi kemudian bertanya dengan wajah heran.


"Siapa mereka?"


"Aku yakin mereka adalah orang-orang yang ditugaskan oleh Alfa untuk mambantu kita, Mas."

__ADS_1


Herman terdiam dan sejujurnya ia sangat lega dengan kehadiran para lelaki bertubuh besar itu.


"Sialan! Mereka membawa serta polisi ke sini!" pekik salah satu laki-laki yang tadi memegang senjata rakitan tersebut. Ia mengikuti jejak teman-temannya, mengangkat kedua tangan. Namun, senjata rakitan itu masih setia menempel di tangannya.


Susi memanfaatkan situasi itu untuk menjemput anak perempuannya. Setelah melepaskan ikatan yang ada di kaki dan tangan Virna, ia pun segera membawa Virna menjauh dari tempat itu menuju tempat yang lebih aman.


Ternyata lelaki yang memegang senjata rakitan itu begitu kesal dan marah kepada Herman dan Susi yang sudah menipunya. Dengan secepat kilat, lelaki itu menembakkan sebuah peluru ke arah Virna dan Susi yang masih melangkah menjauhinya.


Dorrr!


Peluru itu meluncur dengan cepat hingga akhirnya mengenai pundak Susi.


"Akh!" pekik Susi seiring dengan ambruknya ia ke tanah.


"Ibu!" teriak Virna. Begitu pula Herman, ia pun segera menghampiri Susi dan mencoba menolongnya.


Hanya beberapa detik setelah peluru yang bersarang di pundak Susi meluncur, sebuah peluru milik anggota polisi juga meluncur ke arah pria itu hingga mengenai tangannya.


Dorrr!


Senjata api rakitan itu jatuh ke tanah, sementara lelaki itu memekik kesakitan sambil memegangi tangannya yang terluka dan mengeluarkan banyak darah.


"Aw!" pekik lelaki itu.


Para penculik itu akhirnya berhasil dibekuk. Sementara Susi segera dilarikan ke Rumah Sakit untuk segera mendapatkan pertolongan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2