Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 57


__ADS_3

Di perusahaan besar Algra Group.


"Seandainya aku punya pekerjaan lain, aku akan berhenti bekerja di sini, Nad."


Nadia mengelus lembut punggung Dea yang kini duduk di sampingnya. Ia mengerti bagaimana perasaan sahabatnya itu.


"Bertahanlah beberapa bulan lagi di sini. Kita bisa bekerja sambil mencari lowongan pekerjaan di tempat lain. Aku pun sama, Dea. Aku merasa ilfil bekerja di perusahaan ini setelah tahu apa yang diperbuat oleh Tuan Bajing*n itu kepadamu."


Dea menghembuskan napas berat. "Ya, kamu benar. Nad." Dea terdiam sejenak. "Entah kenapa aku sempat berpikir ingin mengumpulkan uang yang banyak dan menggunakan uang itu untuk menyingkirkan bayi ini."


Sontak saja Nadia menggelengkan kepalanya dan menggoyangkan tubuh Dea pelan. "Jangan bicara seperti itu, Dea. Jangan!"


Dea menoleh pelan dengan wajah sendu. "Tapi aku malu, Nad. Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang jika tahu bahwa anak ini adalah anak haram?"


Nadia menghembuskan napas panjang. "Dea, maafkan aku. Aku tidak bermaksud sok suci atau apapun itu. Namun, bayi ini bukanlah anak haram. Yang haram itu perbuatan Ayahnya! Kutuk saja perbuatan Ayahnya yang lakn*t itu. Tapi jangan kutuk bayi ini. Jangan sakiti dia, Dea. Berikan dia kesempatan untuk melihat dunia, sama seperti anak lainnya," tutur Nadia.


Bibir Dea bergetar dan buliran bening itu kembali merembes di kedua sudut matanya. "Andai semua orang memiliki pemikiran yang sama seperti dirimu, Nadia. Mungkin aku tidak perlu mencemaskan bagaimana nasibku dan juga bayi ini," ucap Dea.


Nadia merengkuh pundak Dea kemudian memeluknya dengan erat. "Aku sangat menyayangimu, Dea. Sangat. Kamu sudah kuanggap seperti adik perempuan bagiku."

__ADS_1


"Terima kasih, Nad. Terima kasih banyak." Dea pun membalas pelukan sahabatnya itu.


"Woy! Kalian itu ingin bekerja atau ngerumpi, sih?" Tiba-tiba terdengar suara teriakkan yang melengking dan membuat kedua sahabat itu terkejut dan segera melerai pelukan mereka.


"Kalau mau ngerumpi itu di rumah saja. Duduk di teras dan gosip kan aib para tetanggamu," celetuk wanita itu lagi sambil tertolak pinggang menatap Dea dan Nadia.


"Maaf, Bu. Maaf," lirih Nadia dengan wajah penuh penyesalan. Sementara Dea tidak bicara apa-apa. Ia hanya menunduk sambil menyeka air matanya.


"Sekarang bubar dan lakukan pekerjaan kalian! Kalau aku lihat kalian ngerumpi lagi, aku tidak akan segan-segan melaporkan kalian ke atasan. Biar kalian di pecat!" lanjut wanita itu.


"Ehm, baik, Bu. Baik," jawab Nadia.


Kedua sahabat itu pun kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Begitu pula wanita itu, ia pergi ke ruangan lain untuk memeriksa anak buahnya yang lain.


Kini Alfa tiba di perusahaannya dengan wajah semringah. Ia begitu senang karena hasil pemeriksaan kesehatannya benar-benar memuaskan. Ia dinyatakan sehat dan baik-baik saja. Apa yang dikatakan oleh Cecilia kepadanya ternyata salah. Ia tidak impoten dan ia lelaki normal, sama seperti laki-laki lainnya.


Ketika Alfa melangkah memasuki perusahaan besarnya itu, seluruh karyawan yang ia lewati membungkuk hormat. Karena suasana hatinya sedang sangat bagus, ia pun membalas penghormatan seluruh karyawannya itu dengan tersenyum hangat.


Kini Alfa berdiri di depan pintu lift khusus untuk petinggi di perusahaan tersebut. Tanpa disengaja, ia bertemu David yang kebetulan juga ingin menuju lantai yang sama seperti Alfa.

__ADS_1


"Tuan Alfa? Anda sudah kembali? Kenapa Anda tidak menghubungi saya? Saya 'kan bisa menjemput Anda," ucap David dengan alis berkerut.


"Aku tidak ingin merepotkanmu, Om. Lagi pula aku masih punya sopir yang nganggur di rumah. Aku tidak ingin mereka makan gaji buta," celetuk Alfa sambil tertawa pelan.


David pun menganggukkan kepalanya dan tepat di saat itu, pintu lift pun terbuka. Alfa dan David segera masuk ke dalam lift tersebut kemudian naik menuju lantai puncak, di mana ruangan Alfa berada.


Namun, baru setengah jalan, tiba-tiba lift berhenti dan pintunya pun terbuka. Melihat ada yang tidak beres pada lift tersebut, Alfa dan David pun bergegas keluar dari ruangan sempit tersebut. David terlihat kesal, ia menekuk wajahnya sambil menggerutu.


"Terjadi lagi! Ini para teknisi bagaimana? Seharusnya mereka sudah membereskan masalah lift ini!" gerutu David.


"Sudahlah, Om. Tidak apa. Biar kita menggunakan lift para karyawan saja," ucap Alfa.


David pun mengangguk pelan kemudian mengikuti langkah Alfa dari belakang. Saat itu mereka tengah berada di lantai 15, tepat di mana Dea sedang bekerja. Ketika Alfa dan David melewati ruangan itu, semua mata karyawan dan karyawati tertuju pada mereka.


Kehadiran Alfa dan David benar-benar menjadi pusat perhatian seluruh mata di ruangan itu. Terutama Alfa. Ketampanan wajah lelaki itu membuat seluruh karyawati yang menatap ke arahnya, seolah tersihir dan lupa diri.


Tepat di saat itu, Dea tengah berjalan sambil memegang erat nampan yang berisi beberapa gelas minuman. Ia berniat mengantarkan minuman itu kepada karyawan dan karyawati yang tadi memintanya membawakan minuman tersebut.


Dengan tatapan fokus ke arah nampan, Dea berjalan tanpa melihat situasi di depannya. Hingga ....

__ADS_1


Brakkk!


...***...


__ADS_2