
"Aw! Kakiku terjepit! Kakiku kesemutan!" pekik Dea yang baru saja terbangun dari tidurnya. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Alfa yang masih tertidur lelap di sampingnya.
"Alfa! Bangunlah, kumohon!" ucap Dea sambil meringis.
Alfa menggeliatkan tubuhnya. Samar-samar ia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia membuka matanya perlahan sambil memperhatikan Dea yang masih meringis di sampingnya.
"Kamu kenapa, Dea?" tanya Alfa yang masih mencoba mengumpulkan nyawanya.
"Singkirkan kakimu! Kakiku terjepit dan kesemutan!"
"Hah?!" pekik Alfa dengan mata membulat.
Alfa menoleh ke bawah dan ternyata benar. Kaki Dea berada di antara kedua kakinya. Entah sejak kapan kaki gadis itu ia apit layaknya sebuah guling. Dea bahkan bisa merasakan gundukan yang tengah mengeras mengenai kakinya tersebut.
"Ah, maaf!"
Alfa bergegas melepaskan kaki Dea dan membantu gadis itu memijitnya.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja."
Dea memperhatikan sekeliling ranjang dan ternyata guling yang sempat menjadi pembatas wilayah di antara mereka sudah tergeletak di lantai ruangan. Tepatnya di bawah
Alfa tersenyum getir. "Gulingnya nakal. Lihatlah, dia mangkir dari tugasnya."
Dea sempat melirik Alfa dengan mata memicing. Namun, hanya sesaat. Setelah kakinya sudah agak enakkan, Dea pun segera bangkit dari tempat tidur mewah tersebut.
"Sebaiknya aku mandi dulu," ucap Dea sembari melenggang pergi.
Alfa hanya bisa tersenyum sambil memperhatikan Dea yang kini sudah menghilang dari balik pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Ah, semoga suatu saat nanti ia bisa membuka sedikit hatinya untukku," gumam Alfa.
Tiba-tiba Alfa merasa ada sesuatu yang bergerak liar di area bagian bawahnya. Padahal sudah beberapa lama ia tidak merasakannya. Terakhir kali saat ia bersama Cecilia dan mengalami kegagalan ketika ingin bermain panas bersama wanita itu.
"Hei! Ternyata kamu masih bisa 'On' juga, ya." Alfa terkekeh sambil mengelus benda pusakanya yang masih tertutup celana tersebut.
"Tapi ... bagaimana jika nanti Dea meminta jatah padaku? Apa dia sanggup berdiri tegak hingga permainan selesai?" lanjut Alfa dengan wajah sedikit cemas.
Setelah beberapa jam kemudian.
Di ruang makan.
"Mari sini, Nak! Duduklah di sini, di samping Mommy." Nyonya Kharisma bergegas menghampiri Dea dan mengajaknya duduk di salah satu kursi yang berada tak jauh darinya.
Dea tersenyum penuh terharu. Ia tidak menyangka bahwa Mommy memang seorang mertua yang sangat baik dan begitu peduli pada dirinya. Padahal sebelumya Dea sempat berpikir bahwa Nyonya Kharisma akan sama saja seperti Ibunda Julian.
"Ya, Mommy-mu benar, Nak. Jangan pernah merasa asing di rumah ini karena bagi kami, kamu sudah seperti anak perempuan kami sendiri," sambung Tuan Harry.
"Terima kasih, Mom, Dad," sahut Dea dengan mata berkaca-kaca menatap pasangan paruh baya itu secara bergantian.
"Sama-sama." Nyonya Kharisma mengelus lembut punggung Dea.
Dea melirik Alfa yang ternyata juga tengah memperhatikan dirinya sejak sedari tadi. Lelaki itu terus tersenyum padanya. Dea bahkan sampai lupa bagaimana bentuk wajah Alfa tanpa tersenyum.
Beberapa menit kemudian.
Sarapan pagi nan hangat itu pun selesai.
"Oh ya, hari ini Mommy ingin mengajakmu ke dokter kandungan langganan Mommy. Kita periksakan bagaimana kondisi kandunganmu serta bagaimana kondisi calon cucu Mommy di dalam sana. Bagaimana, Dea?" ucap Nyonya Kharisma tiba-tiba.
__ADS_1
Alfa mengangguk dengan cepat. "Ya, aku setuju, Mom. Aku memang ingin mengajak Dea memeriksakan kandungannya tapi ...." Alfa menghentikan ucapannya sambil mengelus tengkuknya.
Lelaki itu memang berniat mengajak Dea memeriksakan kandungannya ke dokter. Namun, ia ragu mengutamakan maksudnya tersebut. Ia takut Dea tidak setuju dan malah marah kepadanya.
"Hhh, tapi-tapi!" Nyonya Kharisma memasang wajah masam menatap Alfa.
"Apa kamu sudah pernah memeriksakan kandunganmu sebelumnya, Dea?" tanya Nyonya Kharisma lagi.
Dea menggeleng pelan. Sejak pertama ia tahu bahwa dirinya hamil bahkan hingga sekarang, ia tidak pernah memeriksakan kandungannya barang sekalipun.
"Nah, kan!" seru Nyonya Kharisma.
Tuan Harry melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sebaiknya kita bersiap."
Alfa menautkan kedua alisnya. "Daddy juga mau ikut?"
"Ya, iyalah! Daddy 'kan juga ingin tahu bagaimana kondisi calon pewaris kekayaan Daddy," sahut Tuan Harry dengan wajah menekuk menatap Alfa.
Alfa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dokternya pasti bingung, yang cek cuma satu, yang kepo satu keluarga."
"Memangnya kenapa? Kamu keberatan?" Tuan Harry mendengus kesal.
"Ah, tidak-tidak, Dad! Aku tidak keberatan," sahut Alfa.
Dea hanya bisa tersenyum kecut melihat perdebatan kecil yang terjadi antara Alfa dan kedua orang tuanya.
Setelah acara sarapan selesai, mereka pun segera kembali ke kamar mereka masing-masing untuk bersiap-siap.
...***...
__ADS_1