Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 91


__ADS_3

Sementara Alfa dan keluarga kecil Dea tengah sibuk berdiskusi tentang acara pernikahan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat, di luar rumah Susi tampak seorang laki-laki misterius tengah mengintip sambil menguping pembicaraan mereka.


Setelah mengetahui apa rencana Alfa yang sebenarnya, lelaki misterius itu pun bergegas kembali ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari kediaman Susi.


Lelaki itu membuka pintu mobil kemudian duduk di jok samping pengemudi sambil menyunggingkan sebuah senyuman tipis di wajah brewoknya.


"Bagaimana? Apa kamu sudah mendapatkan jawabannya?" tanya salah satu lelaki yang merupakan anggotanya.


"Ya. Dan aku sangat yakin Tuan Harry pasti akan senang mendengar berita bagus ini," jawabnya.


"Sebaiknya kamu beritahu saja mereka sekarang." Lelaki itu mencoba memberikan saran.


Lelaki brewok itu pun mengangguk pelan sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jaket kulit yang sejak tadi menempel di tubuhnya.


Setelah berhasil menemukan nomor ponsel milik Tuan Harry, lelaki brewok itu pun segera menghubunginya.


Sementara itu di kota.


"Apa sudah ada kabar dari lelaki itu, Sayang?" tanya Nyonya Kharisma kepada Tuan Harry yang sedang duduk tenang di sampingnya.


Sudah hampir seratus kali dalam beberapa jam terakhir, wanita paruh baya itu menanyakan hal yang sama kepada Tuan Harry. Sebenarnya Tuan Harry sudah bosan mendengar pertanyaan yang sama, yang terus diluncurkan oleh istrinya itu. Namun, ia tidak berani mengindahkannya. Bisa-bisa wanita paruh baya itu marah dan ia tidak takut akan hal itu.


"Belum, Sayang. Jika ia sudah mendapatkan kabar terbaru tentang Alfa, dia pasti akan menghubungiku dan ponselku ini pasti akan berdering," sahut Tuan Harry sambil membuang napas berat.

__ADS_1


Nyonya Kharisma mendengus kesal. Ia menyandarkan punggungnya di sofa dengan kasar dan wajahnya pun tampak menekuk saat itu.


Beberapa detik berikutnya, tiba-tiba ponsel milik Tuan Harry bergetar. Nyonya Kharisma yang tadinya suntuk, mendadak bersemangat. Ia ikut mengintip ke layar benda pipih itu sambil tersenyum lebar.


"Itu dia, Sayang! Cepat angkat!" titahnya kepada Tuan Harry.


Tuan Harry pun tidak kalah bersemangat. Ia bergegas meraih benda pipih itu kemudian meletakkannya di samping telinga.


"Ya! Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan kabar terbaru tentang Alfa?!" tanya Tuan Harry dengan sangat antusias.


"Ya, Tuan Harry. Kami punya informasi terbaru tentang Tuan Alfa."


Jawaban dari lelaki itu membuat Tuan Harry dan Nyonya Kharisma semakin penasaran. Nyonya Kharisma bahkan sudah memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan penjelasan dari lelaki brewok itu.


Belum habis lelaki itu berucap, Nyonya Kharisma sudah syok mendengar nama desa itu. Nama desa itu sangat tidak asing di telinganya. Bagaimana tidak, Alfa mendapatkan kecelakaan tragis tak jauh dari desa tersebut. Tempat yang menjadi persinggahan terakhir Alfa sebelum terjadi kecelakaan besar itu, juga di desa yang bernama Muara Asri tersebut.


"Desa Muara Asri? Untuk apa lagi Alfa mengunjungi tempat itu?" gumam Nyonya Kharisma dengan alis yang saling bertaut.


"Sebentar, Sayang. Biarkan dia bicara dan menjelaskan semuanya," ucap Tuan Harry kepada Nyonya Kharisma.


Nyonya Kharisma pun mengangguk pelan dan kembali memasang telinganya dengan baik untuk mendengarkan penjelasan dari lelaki brewok tersebut.


"Lanjutkan!" titah Tuan Harry.

__ADS_1


"Baik, Tuan," sahut lelaki brewok itu dan siap melanjutkan ceritanya.


"Tuan Alfa mengunjungi salah satu warga di desa tersebut dan saat ini mereka masih berbincang di sana. Sebentar, biar saya kirimkan fotonya kepada Anda."


Tuan Harry pun mengangguk dan dengan sabar menunggu foto yang dikirimkan oleh lelaki itu. Setelah foto itu diterima, Tuan Harry pun bergegas membukanya.


"Apa itu?" tanya Nyonya Kharisma sembari mengintip ke layar ponsel milik Tuan Harry.


"Foto Alfa bersama salah satu warga di desa itu." Tuan Harry memperlihatkan sebuah foto kepada Nyonya Kharisma. Foto yang sengaja diambil oleh lelaki brewok itu ketika ia mengintip Alfa di samping rumah Susi.


Di dalam foto tersebut tampak Alfa sedang berbincang dengan serius kepada Herman, Susi dan juga Dea. Pasangan paruh baya itu saling tatap dengan ekspresi heran.


"Siapa mereka? Apa kamu mengenalinya, Sayang?" tanya Nyonya Kharisma kepada Tuan Harry.


Tuan Harry menggeleng pelan. "Tidak. Aku sama sekali tidak mengenali mereka."


"Sebenarnya siapa mereka dan apa yang mereka bicarakan di sana?" tanya Tuan Harry kemudian kepada lelaki itu.


"Nama lelaki itu Herman dan sepertinya Tuan Alfa tengah merencanakan pernikahannya bersama gadis cantik yang ada di foto tersebut," jawab lelaki itu.


"Apa, pernikahan?!" pekik Tuan Harry sembari bangkit dari posisi duduknya.


"Pernikahan apa, siapa yang akan menikah, Sayang?!" tanya Nyonya Kharisma yang ikut-ikutan terkejut melihat ekspresi suaminya itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2