
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Dea sambil memperhatikan Alfa yang sibuk mengelus juniornya.
Alfa menghentikan aksinya kemudian tersenyum kecut. "Tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya bicara pada junior-ku agar ia tidak lupa diri setelah bertemu dengan sarangnya," ucap Alfa.
Dea terkekeh. "Mas, ada-ada saja."
Perlahan Alfa menaiki tubuh Dea dan kini ia sudah berada tepat di atas tubuh gadis itu. "Aku izin untuk menyentuh setiap inci bagian tubuhmu, boleh 'kan?"
Dea mengangguk pelan. "Ya, Mas. Aku izinkan kamu menyentuh seluruh tubuhku karena aku adalah milikmu seutuhnya."
Alfa tersenyum puas. Ia pun mulai beraksi dan memberikan sedikit pemanasan di tubuh Dea. Menciumi leher serta bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan.
"Aakhhh ...."
Terdengar suara desahann lembut yang keluar dari bibir Dea. Rasa takut dan gugup yang ia rasakan sebelumnya mendadak sirna setelah mendapatkan sentuhan lembut dari suaminya itu.
Setelah puas menikmati bibir serta leher jenjang Dea dan meninggalkan beberapa tanda merah di sana, kini Alfa mulai membidik sesuatu yang sejak tadi menggoda imannya. Dua buah bulatan kenyal yang terpampang jelas di hadapannya.
Ia meremass kedua benda kembar itu secara bergantian sambil sesekali memainkan puncaknya yang berwarna merah muda tersebut dengan lidah dan jari-jarinya.
"Ehmmm ah ...." desah gadis itu.
"Kamu menyukainya, Sayang?" tanya Alfa sambil tersenyum menatap ekspresi wajah Dea.
Dea pun mengangguk. "Ya."
__ADS_1
Alfa tampak puas. Ia pun dengan semangat melanjutkan aksinya kembali. Setelah beberapa saat berlalu, baik Alfa maupun Dea sudah siap melanjutkan permainan panas mereka yang sesungguhnya.
Area pribadi gadis itu sudah basah dan siap menyambut kedatangan junior milik Alfa. Sementara Dea masih sabar menunggu si Junior beraksi, Alfa kembali diserang rasa takut dan cemas. Takut si junior kembali loyo dan kalah sebelum peperangan dimulai.
"Pertahankan kejantananmu, Junior! Kumohon, jangan permalukan aku dihadapan istriku," gumam Alfa dalam hati.
"Kamu tidak apa-apa 'kan, Mas?" tanya Dea tiba-tiba. Gadis itu merasa sedikit khawatir karena saat itu wajah Alfa tampak begitu tegang.
"Ehm, tidak apa-apa, kok. Sebaiknya aku mulai saja ya, Sayang. Aku berjanji akan melakukannya dengan sangat lembut," ucap Alfa, mencoba meyakinkan Dea.
"Ya. Aku percaya padamu," sahut Dea.
Dengan hati berdebar dan tubuh gemetar, Alfa perlahan mengarahkan juniornya ke lubang sempit milik Dea. Setelah dirasa pas, Alfa pun mencoba mendorongnya dengan sangat hati-hati.
Sedikit demi sedikit, akhirnya Junior berhasil masuk ke dalam lubang sempit yang dulu pernah ia nikmati satu kali. Alfa terdiam sejenak sambil melirik tubuh bagian bawahnya.
Ia ingin tahu apakah juniornya masih dalam keadaan 'on' di dalam lubang sempit itu atau kembali loyo sama seperti saat dia bersama Cecilia. Namun, ternyata kekhawatirannya sama sekali tidak terjadi. Si junior masih berdiri tegak dan siap menghujam sarang sempitnya itu.
"Ya Tuhan, terima kasih. Ternyata apa yang dikatakan oleh dokter waktu itu benar. Aku baik-baik saja dan ternyata juniorku masih bisa mempertahankan kejantanannya," gumam Alfa dalam hati sambil tersenyum lega.
"Mungkin saja juniorku hanya ingin menunjukkan kejantanannya di hadapan wanita yang tepat," sambungnya.
Alfa menarik kembali juniornya yang tampak begitu anteng di dalam sarang yang sempit itu kemudian mendorongnya lagi hingga ke intinya. Dari yang awalnya pelan dan teratur, kini menjadi semakin cepat dan liar.
"Ehmm ah ...." Suara desahann itu terdengar saling bersahutan.
__ADS_1
Dea bahkan tidak sanggup menolak rasa nikmat itu. Ia mendekap erat tubuh Alfa dan sesekali mencengkram punggung mulus lelaki itu hingga tampak memerah.
Semakin lama, permainan mereka semakin panas saja. Hingga akhirnya pasangan itu mencapai puncak kenikmatan mereka secara bersamaan. Alfa mengerang dan tubuhnya tampak mengejang di atas tubuh Dea. Begitu pula sebaliknya.
Dea pun ikut melakukan pelepasan bersama Alfa di saat yang sama. Lagi-lagi ia mencengkram pundak Alfa dengan erat hingga tanpa ia sadari pundak lelaki itu terluka karena goresan dari kuku-kukunya.
"Apa kamu sudah selesai?" tanya Alfa sambil menjatuhkan dirinya di samping Dea dengan napas tersengal-sengal.
"Ya, aku sudah selesai, Mas."
Alfa tersenyum puas. "Terima kasih sudah memberikan aku izin untuk menyentuhmu, Dea sayang."
"Sama-sama, Mas."
"Eh, tapi ... ini bukan yang terakhir kalinya, 'kan?" tanya Alfa dengan wajah yang begitu serius.
"Ya, tentu saja, Mas. Mas bisa melakukannya lagi, kapan pun Mas mau," sahut Dea mantap.
"Serius! Itu artinya aku bisa minta jatah ronde ke dua, dong?" Alfa begitu bersemangat mendengar jawaban dari Dea dan bersiap melakukan pergulatan mereka yang kedua.
"Boleh, ya? Lihatlah, juniorku kembali bersemangat setelah mendengar jawaban darimu," rengek Alfa sambil mencoba merayu Dea.
Dea tersenyum kecut dan dengan terpaksa ia pun mengangguk. "Baiklah."
...***...
__ADS_1