
Teman-teman Virna yang tadi berjalan kaki, akhirnya tiba di tempat Virna diculik. Mereka menemukan sepeda milik Virna yang tergeletak di pinggir jalan.
"Eh, itu 'kan sepeda milik Virna. Lah, Virna nya ke mana, ya?" ucap salah satu dari anak perempuan itu.
Mereka bertiga celingukan. Mencari sosok empunya sepeda baru yang tergeletak di pinggir jalan.
"Vir! Virna! Kamu di mana?" teriak mereka secara bergantian, memanggil nama Virna.
"Sepertinya dia sudah tidak ada, deh. Apa kita bawa aja sepedanya?"
"Ya, kamu benar. Apa Virna sudah pulang? Tapi kok sepedanya malah ditinggal di sini?"
"Ya, kita bawa balik aja. Nanti kita serahkan sama Ibunya," sambung yang lainnya.
Ketiga sahabat itu pun setuju dan mereka bergegas membawa sepeda milik Virna untuk dikembalikan kepada ibunya.
Setelah beberapa saat kemudian mereka pun tiba di kediaman Susi. Saat itu Susi sedang duduk di dalam kiosnya sembari menunggu kepulangan Virna.
"Virna!" panggil ketiga bocah perempuan itu tepat di depan pagar rumah Susi.
Mendengar panggilan dari ketiga bocah itu, Susi pun segera keluar dari kiosnya. Ia bergegas menghampiri mereka dengan alis yang saling bertaut.
"Loh! Kenapa sepeda Virna ada sama kalian? Trus, di mana Virna?" tanya Susi sambil menatap ketiga bocah itu dengan begitu serius.
__ADS_1
Ketiga bocah perempuan itu saling lempar pandang dengan wajah heran. Pertanyaan yang Susi lemparkan kepada mereka, sama seperti pertanyaan yang ada di otak mereka saat ini. Sementara Susi, sepertinya ia sudah tidak sabar menunggu jawaban dari ketiga bocah itu.
"Kami tidak tahu, Bu Susi. Kami menemukan sepeda ini di jalan sementara Virna sudah tidak ada. Kami pikir Virna sudah pulang," jawab salah satu dari mereka.
"Eh, kalian jangan bercanda, ya. Tidak lucu! Virna belum pulang dan sekarang katakan padaku, di mana Virna?" kesal Susi dengan mata melotot menatap ketiga bocah perempuan itu.
"Kami tidak sedang bercanda kok, Bu. Kami menemukan sepeda ini di jalan dan kami tidak tahu di mana Virna sekarang," lirih bocah tersebut.
Susi memperhatikan ekspresi wajah ketiga bocah perempuan itu dan ia sekarang sadar bahwa bocah-bocah itu sama sekali tidak sedang bercanda dengannya.
"Ya, Tuhan!" Susi refleks meraih sepeda milik Virna. "Kalian tunggu di sini!"
Setelah mengamankan sepeda baru milik Virna, Susi pun kembali menghampiri ketiga bocah itu. "Sekarang tunjukkan padaku di mana kalian menemukan sepeda milik Virna!" titahnya kepada ketiga bocah itu.
"Dengar ya, kalian bertiga! Jika kalian berani berbohong padaku maka aku tidak akan segan-segan menceritakan hal ini kepada orang tua kalian," ancam Susi.
"Ya, Bu," jawab mereka serempak.
Kini mereka tiba di tempat itu. Ketiga bocah perempuan itu menunjuk ke arah jalan, di mana mereka menemukan sepeda milik Virna.
"Di sini, Bu. Di sini kami menemukan sepeda milik Virna."
Susi memperhatikan sekitar tempat itu dan ia menemukan sebuah jejak bekas ban mobil. Tiba-tiba sebuah firasat buruk terlintas di kepalanya.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Kenapa perasaanku tidak enak seperti ini, ya? Entah kenapa aku kepikiran kalau Virna diculik," gumamnya dengan wajah cemas.
Dengan dibantu ketiga bocah perempuan itu, Susi mencari keberadaan Virna di sekitaran tempat itu sambil meneriakkan namanya.
"Virna sayang! Kamu di mana, Nak?" teriak Susi dengan mata yang sudah mulai berair.
"Virna! Kamu di mana?" teriak ketiga bocah perempuan itu.
Hingga kurang lebih tiga puluh menit lamanya, Virna tidak juga ditemukan. Susi sekarang semakin yakin bahwa Virna sudah tidak ada di sekitaran tempat itu.
"Bu, kami pulang duluan, ya. Nanti ibu kami cemas karena kami pulangnya terlambat," lirih salah satu dari bocah tersebut.
Susi mengangguk pelan. "Baiklah. Terima kasih, ya, karena sudah membantu Ibu mencari Virna," ucap Susi dengan wajah sendu.
"Sama-sama, Bu Susi." Ketiga bocah perempuan itu pun segera pamit dan kembali ke tempat tinggal mereka masing-masing. Begitu pula Susi, ia segera pulang dan kembali ke kediamannya.
Susi yang masih sangat cemas, memutuskan untuk menutup kiosnya. Ia masuk ke dalam kamar milik Virna dan mulai mencari sesuatu di dalam ruangan itu.
"Di mana Virna meletakkan ponselnya? Semoga saja ia membawanya," gumam Susi sembari membuka laci meja belajar milik Virna, di mana gadis itu biasanya menyimpan ponselnya.
Susi tidak menemukan apa pun di sana dan ia sangat yakin bahwa Virna membawa ponsel itu bersamanya.
"Syukurlah! Setidaknya aku masih bisa menghubunginya," gumam Susi.
__ADS_1
...***...