
"Untuk apa lelaki itu ke sini?" bisik Susi Kepada Virna.
"Mana aku tahu, Bu. Aku 'kan masih kecil. Apa yang kalian bicarakan saja, aku masih belum mengerti," jawab Virna.
"Ish! Sudah, Diam! Sebaiknya kita dengarkan saja apa yang ingin dibicarakan oleh lelaki itu kepada Dea."
Dea mempersilakan ketiga tamunya untuk duduk di sofa ruang depan dan mereka pun segera duduk di sana. Dea memperhatikan ketiga tamu itu satu-persatu dengan tatapan serius.
Pertama, Julian. Lelaki itu tampak acuh dan seolah-olah di antara dirinya dan lelaki itu sama sekali tidak pernah ada hubungan apapun.
Ke dua, wanita itu. Wanita cantik yang sejak tadi menggandeng dan memeluk mesra lengan kekar Julian sambil terus menyunggingkan senyuman manis untuknya.
Dan yang terakhir, lelaki itu. Seorang laki-laki berperawakan hampir sama seperti Julian, tetapi terlihat lebih dewasa. Pakaiannya rapi dan sepertinya lelaki itu bukanlah orang biasa. Ia membawa sebuah tas jinjing berwarna hitam yang entah apa isinya, Dea pun tidak tahu.
"Sebenarnya apa yang kalian inginkan?" tanya Dea.
"Ehm ... sebelumnya saya ingin memperkenalkan nama saya. Kenalkan, saya adalah Martin. Saya adalah Pengacaranya Tuan Julian."
"Pengacara?" Dea tampak bingung.
"Tidak usah dijelaskan, Tuan Martin. Lagi pula gadis itu tidak akan mengerti walaupun Anda menjelaskan tugas Anda di sini. Sebaiknya langsung saja serahkan berkas itu dan minta dia untuk menandatanganinya," sela Julian dengan wajah malas menatap Dea.
__ADS_1
Lelaki berpakaian formal yang bernama Martin itu ternyata seorang pengacara yang sengaja disewa oleh Julian untuk mengurus perceraiannya bersama Dea agar cepat selesai. Dan sekarang mereka hanya membutuhkan tanda tangan dari Dea dan semuanya pun akan beres.
Tuan Martin pun mengangguk pelan. Lelaki itu meraih tas jinjing yang sejak tadi ia pegang kemudian membukanya. Ia mengambil berkas perceraian yang harus ditanda tangani oleh Dea dan menyerahkannya kepada gadis itu.
"Tolong tanda tangani di sini," ucap Tuan Martin kemudian sembari menunjuk di sebuah ruang kosong, di mana Dea harus mencantumkan tanda tangannya.
Dea meraih sebuah pena yang memang disediakan oleh Tuan Martin dengan tangan gemetar. Sebelum menandatangani berkas perceraian itu, Dea kembali bertanya kepada pengacara tersebut.
"Jika aku menandatangani kertas ini, apa itu artinya aku dan Mas Julian sudah resmi bercerai?" tanya Dea dengan tatapan sendu menatap Tuan Martin.
"Ya." Jawaban yang sangat singkat dan juga jelas. Hingga tidak ada lagi yang perlu di tanyakan oleh Dea kepada lelaki itu.
Jauh di lubuk harinya yang paling dalam, Dea menolak perceraian itu. Rasa cintanya terhadap Julian begitu besar. Bahkan ia masih berharap bisa hidup bersamanya, sama seperti janji mereka dulu. Namun, semua itu hanya tinggal kenangan saja dan tidak mungkin kembali terjadi.
Setelah selesai menandatangani berkas itu, Julian dan wanita itu pun akhirnya tersenyum lega. Sementara Dea kembali larut dalam kesedihannya. Bagaimana tidak, sekarang status mereka benar-benar sudah resmi bercerai. Baik itu secara hukum agama, maupun negara.
"Oh ya, hampir saja aku lupa." Julian mengeluarkan sebuah undangan dari balik saku jaketnya kemudian menyerahkan benda itu kepada Dea dan Dea pun segera menyambutnya.
"Ini undangan pernikahanku bersama Reva. Kamu sudah kenal dengannya, 'kan? Ya, dia Reva, sepupuku sekaligus calon istriku." Dengan bangganya Julian memperkenalkan wanita bernama Reva tersebut kepadanya.
Julian bahkan tidak peduli bagaimana hancurnya perasaan Dea saat itu. Ya, melupakan seseorang yang begitu spesial di hati kita, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Begitu pula yang dirasakan oleh Dea saat itu. Ia bahkan belum bisa melupakan sosok Julian dan sekarang dengan mudahnya lelaki itu memperkenalkan calon pengantinnya yang baru.
__ADS_1
"Reva!" Wanita itu mengulurkan tangannya ke hadapan Dea sambil tersenyum semringah.
Dea mencoba tersenyum walaupun saat itu hatinya terasa seperti dicabik-cabik. "Dea."
"Sesuai janjiku, bukan? Aku akan menyerahkan undangan pernikahanku sekaligus mengurus perceraian kita. Oh ya, jangan lupa untuk berhadir di acara istimewa kami, ya. Aku pastikan pernikahan kami akan menjadi pernikahan paling megah dan paling meriah di desa ini. Jadi, kamu tidak akan merasa sia-sia datang ke pesta pernikahan kami nanti."
Julian merangkul pundak Reva sembari mencium puncak kepalanya. "Benar 'kan, Sayang?"
Reva mengangguk pelan. "Ya. Jangan lupa datang ya, Dea."
"Ya. Tentu saja. Terima kasih atas undangannya," sahut Dea.
"Baiklah kalau begitu. Karena semuanya sudah beres, sekarang saatnya kami pulang." Julian segera bangkit dari posisi duduknya kemudian meraih tangan Reva dan membantunya berdiri.
"Terima kasih banyak atas waktunya, Mbak Dea. Selamat siang," ucap Tuan Martin.
"Selamat siang," sahut Dea.
Dengan hati berat, Dea mengantarkan ketiga tamunya hingga di ambang pintu dan setelah mereka pergi, Dea pun segera menutup pintu tersebut rapat-rapat.
...***...
__ADS_1