
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan, Alfa?" tanya Ervan kepada Alfa ketika mereka di perjalanan pulang.
Alfa membuang napas berat. "Hal pertama yang ingin aku lakukan adalah menemui Cecilia dan mengakhiri hubungan kami."
Ervan terkekeh pelan. "Aku merasa lucu ketika melihat Cecilia yang begitu semangat karena bisa kembali ke sisimu."
Alfa melirik Ervan dengan wajah kesal. "Kamu ini sahabat apaan. Bukannya memberitahuku yang sebenarnya, malah membiarkan aku kembali bersama wanita itu."
"Aku beritahu pun kamu belum tentu mempercayaiku," sahut Ervan. "Kamu 'kan lagi bucin-bucinnya sama tuh cewek!"
"Ck!" Alfa berdecak kesal.
"Untung saja Tuhan masih sayang padaku, Van. Dua kali Cecilia mengajakku berhubungan, tapi selalu gagal. Awalnya aku merasa malu dan begitu cemas, tapi sekarang sudah tidak lagi. Sekarang aku mengerti kenapa Tuhan me-non aktifkan juniorku untuk Cecilia. Agar aku tidak terjerat kepada wanita itu," lanjut Alfa sambil terkekeh.
"Juniormu tidak berfungsi?" Ervan tergelak. "Bagaimana bisa? Lah, kenapa saat mengerjai gadis itu kamu malah berhasil," lanjutnya.
Alfa menggeleng pelan. "Entahlah, aku pun tidak mengerti. Saking cemasnya, aku bahkan memeriksakan kondisiku ke Dokter dan hasilnya aku masih normal dan baik-baik saja."
Ervan tertawa pelan sembari menggoda Alfa. "Jangan-jangan ini adalah karma telak buatmu, Al. Juniormu tidak akan bisa 'On' selama Dea tidak memberikan maaf kepadamu."
Alfa kembali melirik Ervan dengan tatapan sinis. "Sepertinya kamu senang banget, Van! Tapi tidak apa. Dengan begitu aku akan lebih semangat, berjuang mendapatkan maaf dari gadis itu."
***
__ADS_1
Sementara itu di kontrakan.
Dea melirik boneka beruang yang ternyata masih terpajang di ruangan depan. Wajahnya tampak menekuk. Selucu dan seimut apapun boneka itu, tetap terlihat menyebalkan di mata Dea. Ia bahkan dapat melihat wajah Alfa di balik wajah lucu boneka tersebut.
"Jangan menatapku seperti itu! Kamu mengolok-olokku, ya!" kesal Dea.
Nadia yang tidak sengaja mendengar ucapan Dea barusan, tertawa pelan. "Kamu kenapa, Dea?"
"Kenapa boneka itu masih ada di sana, Nad? Bukankah aku sudah memintamu untuk membuangnya? Apa kamu tidak lihat, boneka itu terus menertawakan aku!" gerutu Dea sembari melirik boneka itu dengan tatapan sinis.
Nadia memperhatikan boneka itu dengan saksama. "Memang bentuk wajahnya seperti itu, Dea. Mau bagaimana lagi?" Nadia tertawa pelan. "Baiklah, akan kubuang boneka itu."
Nadia meraih boneka tersebut kemudian membawanya. Ketika melewati Dea, Dea sempat menutup hidungnya dan wajahnya pun tampak masam.
"Sudah jelek, bau lagi!" gerutu Dea.
"Bau, Nad. Sangat bau, sama seperti orang yang memberikan benda itu kepadaku. Baunya persis seperti ikan asin jamuran. Akh, bikin perutku mual," jelas Dea, masih dengan menutup hidungnya.
Nadia kembali tertawa setelah mendengar penuturan Dea soal boneka tersebut. "Mungkin itu hanya perasaanmu saja, Dea. Atau bisa jadi itu adalah bawaan si jabang bayi. Mungkin si baby pun benci sama Ayahnya," sahut Nadia.
"Sudah, sana! Buang saja boneka itu. Dia membuat aku mual." Dea mengibas-ngibaskan tangannya dan meminta agar Nadia segera membawa boneka itu menjauh darinya.
"Ok, ok! Baiklah." Nadia pun melanjutkan langkahnya menuju ke halaman depan kontrakan.
__ADS_1
Di sana Nadia menemukan seorang gadis kecil, anak dari salah satu warga yang rumahnya tak jauh dari kontrakan. Ia memberikan boneka beruang tersebut kepada bocah itu dan memintanya untuk segera pulang.
Tentu saja gadis kecil itu sangat senang. Setelah mengucap terima kasih, gadis kecil itu pun bergegas pulang bersama boneka beruang tersebut di dalam pelukannya.
Nadia kembali masuk ke dalam kontrakan dan ternyata Dea masih berada di ruang depan sambil melamun. Ia duduk di samping Dea kemudian mengelus punggungnya dengan lembut.
"Bonekanya sudah kubuang. Jadi, jangan bersedih lagi, ya!"
Dea menggeleng pelan. "Sebenarnya ini bukan masalah boneka itu, Nad. Yang aku khawatirkan saat ini justru si pemilik boneka itu. Aku yakin, dia tidak akan pernah berhenti sampai di sini saja. Ia pasti akan terus menemuiku. Apa aku harus pergi saja dari sini? Tapi kemana? Aku bahkan masih belum menemukan pekerjaan baru."
"Ngomong-ngomong soal pekerjaan baru ...." Nadia merogoh saku celana jeans yang saat ini sedang ia kenakan. Ia meraih ponsel miliknya kemudian memperlihatkan sebuah chat dari salah satu temannya kepada Dea.
"Temanku kasih info bahwa ada dua lowongan pekerjaan di dua tempat yang berbeda. Satu, seorang laki-laki kaya yang butuh pelayan pribadi dan satunya lagi sebuah rumah makan yang butuh seorang karyawan buat cuci piring dan sebagainya. Apa kamu mau mencoba salah satunya?"
Dea tampak berpikir sambil memperhatikan ponsel milik Nadia yang kini ada di tangannya. "Kalau jadi pelayan pribadi, rasanya tidak mungkin, Nad. Mengingat keadaanku ...."
"Lalu?" Nadia menatap lekat Dea.
"Sepertinya aku tertarik menjadi karyawan rumah makan itu, deh. Tidak masalah jadi tukang cuci piring juga. Dari pada aku terus bekerja di perusahaan lelaki bejat itu."
"Ok, Deal! Aku pilih jadi pelayan pribadi laki-laki kaya itu," sahut Nadia dengan sangat antusias.
"Kamu juga?" Dea menautkan alisnya heran.
__ADS_1
"Ya, aku juga butuh suasana baru, Dea," sahut Nadia sambil terkekeh.
...***...