Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 76


__ADS_3

"Jangan tersenyum seperti itu, Tuan Alfa. Wajahmu terlihat aneh jadinya," celetuk Dea yang masih mencoba mengangkat tubuh besar Alfa dari tempat itu.


Lagi-lagi Alfa tersenyum. Ia bahkan tidak bisa membuka mulutnya untuk sekedar menjawab celetukan Dea. Lelaki itu sudah terlalu lemah dan kesadarannya pun tinggal beberapa persen lagi.


"Ya, ampun! Tubuhmu berat sekali! Aku tidak bisa mangangkatnya!" Dengan sekuat tenaga Dea mencoba membangkitkan tubuh Alfa yang tergolek lemah. Namun, sampai batas maksimal tenaganya pun, tubuh Alfa tetap tidak bergerak dan akhirnya Dea pun pasrah.


Bak dewa penolong, Pak RT tiba-tiba datang dan menghampiri Dea dan Alfa. Lelaki itu begitu syok melihat kondisi Alfa yang begitu mengenaskan.


"Ya, Tuhan! Mari, Bapak bantu!"


Pak RT menggotong tubuh Alfa dengan dibantu beberapa orang warga yang datang bersamanya. Pak RT datang ke tempat itu setelah mendengar laporan bahwa ada keributan dan ia pun segera menyusul.


Pak RT memasukkan tubuh Alfa ke dalam mobil milik Alfa sendiri, sesuai permintaan Dea.


"Sebaiknya kita bawa dia ke Puskesmas Desa, Nak. Dan jangan lupa untuk memberi tahu kerabatnya," ucap Pak RT kepada Dea.


"Baik, Pak."


Beruntung Pak RT berpengalaman dalam menyetir mobil dan dengan bantuannya, mereka pun segera menuju Puskesmas Desa yang terletak tak jauh dari lokasi kejadian.

__ADS_1


Tidak berselang lama, mereka pun tiba di Puskesmas Desa dan Alfa pun segera mendapatkan pertolongan oleh para tim medis yang bertugas di tempat itu.


Sementara itu.


"Nak Dea, Bapak harus kembali. Bapak ingin membicarakan masalah kejadian ini kepada Kakakmu, Herman."


Dea mengangguk pelan. "Baik, Pak. Ehm, tapi ...."


Dea menatap Pak RT dengan wajah sendu. "Jangan hukum kakak saya ya, Pak. Kasihan Kak Herman," lanjut Dea.


"Kamu tenang saja, Dea. Babak hanya ingin menjadi penengah di sini dan semoga saja lelaki itu tidak akan membawa masalah ini ke jalur hukum," sahutnya.


Pak RT pun pergi dan menginggalkan Dea di tempat itu bersama Alfa. Beberapa menit setelah kepergian Pak RT. Seorang Perawat datang menghampiri Dea dengan sebuah ponsel di tangannya.


"Mbak, ini ponsel milik pasien. Saat ini kondisi pasien masih sangat lemah dan Mbak bisa hubungi salah satu keluarganya untuk memberi tahukan keadaannya saat ini," ucap Perawat kepada Dea seraya menyerahkan ponsel milik Alfa kepadanya.


"B-baik, Sus." Dea menyambut ponsel itu dengan ragu-ragu.


Sepeninggal Perawat itu, Dea pun memberanikan diri membuka ponsel milik Alfa. Beruntungnya ponsel milik lelaki itu sama sekali tidak memiliki sandi atau apa pun, hingga mudah untuk Dea membukanya.

__ADS_1


Dea membuka daftar kontak milik Alfa. Tidak banyak nomor kontak yang terdapat di sana. Hanya beberapa nomor teman-temannya, nomor kontak David, sang Asisten serta nomor Mommy dan Daddy-nya.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Dea memutuskan untuk menghubungi nomor ponsel David.


"Ya, Tuan Muda?" Terdengar suara berat David dari seberang telepon.


"Ehm, Tu-tuan David. Maaf, saya hanya ingin memberi tahukan kepada Anda bahwa Tuan Alfa sedang di rawat di Puskesmas Desa Muara Asri," sahut Dea dengan Terbata-bata.


"Apa? Kenapa Tuan Alfa sampai berada di tempat itu? Dan bagaimana kondisinya saat ini?" tanya David yang mulai panik.


"Saat ini Tuan Alfa masih lemah dan ia sedang beristirahat di dalam. Ehm, sebaiknya Tuan lihat saja sendiri. Saya takut salah bicara," ucap Dea.


"Baik. Aku akan segera ke sana!"


Setelah Dea memutuskan panggilannya, David segera bersiap untuk pulang dan menemui Alfa di Desa Muara Asri.


"Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Tuan Alfa di sana? Kecelakaan dulu pun terjadi tak jauh dari tempat itu," gumam David sembari merapikan meja kerjanya.


Setelah semuanya beres, David bergegas pergi tanpa memberi tahu Tuan Harrison dan Nyonya Kharisma terlebih dahulu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2