Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 107


__ADS_3

"Akhirnya!" Nyonya Kharisma tersenyum lega saat keluar dari dalam mobilnya. Kini wanita paruh baya itu berdiri di depan sebuah tempat praktek dokter kandungan yang pernah menjadi langganannya dulu.


"Mari, Nak!"


Nyonya Kharisma meraih tangan Dea yang datang mendekat ke arahnya kemudian menuntun gadis itu memasuki ruangan tersebut. Sementara Alfa dan Tuan Harry memilih mengikuti mereka dari belakang.


Baru saja mereka menginjakkan kaki di depan pintu, kedatangan mereka sudah di sambut hangat oleh sang dokter.


"Wah! Selamat datang kembali, Nyonya Kharisma. Sudah lama sekali kita tidak bertemu, ya!" sapa Dokter itu.


"Iya, Dok. Sudah lama sekali, ya. Tapi kali ini kayaknya kita bakal sering ketemu deh, Dok. Karena sekarang Dokter bakal punya pasien baru. Kenalkan, ini menantuku, namanya Dea yang tadi aku ceritakan di telepon," sahut Nyonya Kharisma sembari memperkenalkan Dea kepada Dokter cantik yang usianya hampir sama seperti Nyonya Kharisma.


"Wah, selamat siang, Nak Dea! Mari, masuk-masuk!"


Dokter pun menuntun mereka hingga memasuki ruangan prakteknya.


"Maaf jika kami datangnya rame-rame. Soalnya kami penasaran, Dok. Semoga calon cucu kami baik-baik saja," ucap Nyonya Kharisma sembari menjatuhkan dirinya di sebuah kursi yang ada di depan meja Dokter tersebut.


Dokter itu tersenyum sambil melirik Nyonya Kharisma. "Ish, kalian curang! Masa kalian gak undang saya di pernikahan Alfa."


Nyonya Kharisma dan Tuan Harry saling lempar pandang sambil tersenyum kecut. Jangankan mengundang orang lain, mereka saja tidak diundang oleh Alfa di pernikahannya.


"Pernikahan Alfa dilangsungkan di desa kelahiran Dea, Dok. Karena itu merupakan keinginan Alfa sendiri. Benar 'kan, Alfa?" Nyonya Kharisma melirik Alfa yang sedang duduk tak jauh darinya.


"Ya, Dok," jawab Alfa dengan malu-malu.


Beberapa menit kemudian.


Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan kepada Dea, kini Dokter itu mengajaknya naik ke atas tempat tidur pasien yang ada di salah satu sudut ruangan. Di mana ia akan melakukan pemeriksaan USG 4D terhadap kandungan Dea.

__ADS_1


Ini merupakan pengalaman yang pertama kalinya untuk Dea. Dulu ketika masih di desa, jangankan cek ke dokter spesialis, ketika sakit pun ia hanya bisa beli obat di warung dekat rumah.


Setelah memberikan gel pelumas khusus di atas perut Dea, Dokter meletakkan sebuah alat seperti mikrophone yang disebut Transduser Ultrasound.


Dokter mulai menggerak-gerakkan alat tersebut di atas perut Dea sambil memperhatikan layar monitor yang ada di hadapannya dengan seksama. Sementara Alfa dan kedua orang tuanya bisa melihat dengan jelas di layar monitor berukuran besar yang terpasang di dinding ruangan.


"Bagaimana, Dok? Cucuku sehat, 'kan?" tanya Nyonya Kharisma yang sudah tidak sabaran menunggu Dokter menjelaskan semuanya.


"Bayinya sehat, Nyonya Kharisma. Bagian-bagian tubuhnya pun sudah terbentuk dengan sempurna dan posisinya pun bagus. Lihat ini jari-jari tangannya, lucu 'kan, Nyonya," ucap Dokter tersebut sambil tersenyum.


Nyonya Kharisma tersenyum bahagia. Ia bahkan sampai memeluk tubuh sang suami dengan mata berkaca-kaca. "Itu cucu kita, Sayang. Sebentar lagi kita akan kedatangan sosok mungil yang akan memanggil kita dengan sebutan grandma dan grandpa."


"Ya, kamu benar dan aku sudah tidak sabar menunggu hari itu," jawab Tuan Harry.


Sementara Alfa masih fokus pada layar monitor berukuran besar tersebut. Ia memperhatikan bayinya yang tampak aktif bergerak di dalam kandungan Dea sambil tersenyum. Karena tubuhnya yang masih belum terlalu besar, mungkin pergerakan bayi tersebut tidak terasa oleh Dea sendiri.


"Ah, iya! Kamu benar," sahut Tuan Harry yang ikut antusias menatap ke arah layar.


"Ngomong-ngomong kandungannya sudah berapa minggu, Dok?" tanya Nyonya Kharisma lagi.


"Sudah memasuki minggu ke-20, Nyonya Kharisma."


"Berarti sudah memasuki trimester ke-dua ya, Dok? Wah, aku sudah tidak sabar lagi," gumam Nyonya Kharisma.


"Ya," jawab Dokter.


Alfa mengangguk pelan. Ternyata perkiraannya soal usia kandungan Dea benar. Sekarang ia benar-benar yakin, bayi tersebut memanglah bayinya.


"Apa jenis kelaminnya sudah dapat terlihat, Dok?" tanya Alfa.

__ADS_1


"Ya, tentu saja. Jenis kelaminnya laki-laki dan sepertinya Alfa harus bersiap karena sebentar lagi akan memiliki saingan berat," goda Dokter sambil terkekeh pelan.


"Wah, cucu kita laki-laki!" pekik Nyonya Kharisma dengan mata membulat sempurna menatap sang suami.


"Ya, persis seperti keinginanmu, bukan?" sahut Tuan Harry.


Nyonya Kharisma mengangguk dengan cepat sambil tersenyum bahagia.


Setelah beberapa menit kemudian.


Acara pemeriksaan pun selesai. Setelah mendapatkan berbagai resep vitamin untuk Dea dan calon buah hatinya, Alfa pun segera membayar jasa Dokter tersebut.


"Oh ya, Nak Dea. Jangan lupa susunya diminum. Vitaminnya juga, biar kamu dan bayimu sehat," ucap Dokter sebelum keluarga besar Tuan Harry pergi dari tempat prakteknya tersebut.


"Ya, Dok. Pasti! Terima kasih." jawab Dea.


"Sama-sama."


Mobil itu pun segera melesat dan pergi meninggalkan tempat praktek Dokter tersebut.


"Sekarang kita ke mana?" tanya Tuan Harry kepada sang istri.


"Ke Baby's Shop! Aku mau beli peralatan bayi untuk calon cucuku," jawab Nyonya Kharisma dengan sangat antusias.


"Ok! Berangkat!"


Alfa dan Dea saling lempar pandang kemudian mereka pun tersenyum. Jika pengantin baru pada umumnya menghabiskan waktu untuk bulan madu dan lainnya. Namun, berbeda dengan mereka. Mereka malah menghabiskan waktunya untuk memeriksakan kandungan serta mempersiapkan berbagai keperluan untuk calon buah hatinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2