
Sementara itu.
"Kamu tidak masuk kerja, Nad?" tanya Dea dengan alis berkerut menatap Nadia yang masih duduk di ruang depan dengan beberapa berkas di hadapannya.
Nadia menggeleng pelan. "Tidak, Dea. Kan hari ini aku mau ajukan surat lamaran kerja ke rumah lelaki kaya itu. Ehm, siapa ya tadi namanya ... Tuan Ervan Hardi Kusuma."
"Wow, namanya keren. Memang kerjanya seperti apa, sih? Apa sama seperti ART pada umumnya?" tanya Dea sembari duduk tak jauh dari Dea berada.
"Setahuku Tuan Ervan itu cacat, Dea. Kakinya diamputasi setelah terjadi kecelakaan. Sejak saat itu dia hanya bisa duduk di kursi roda. Nah, sebab itulah dia butuh pelayan pribadi yang bisa membantunya melakukan aktifitas sehari-hari. Tapi ...." Nadia menghentikan ucapannya dan gadis itu menatap Dea dengan wajah masam.
"Tapi kenapa, Nad?"
"Katanya Tuan Ervan itu judes. Makanya tak ada yang betah menjadi pelayannya," jawab Nadia.
Dea tersenyum kemudian mengelus pundak sahabatnya itu. "Ayoh, semangat! Buktikan kalau kamu bisa! Buktikan bahwa kamu bisa menaklukan lelaki judes itu!"
Nadia menghela napas panjang sembari membalas senyuman Dea. "Iya, deh. Semangat-semangat!"
Tok, tok, tok!
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Nadia dan Dea saling tatap dengan wajah heran. Entah apa yang mereka pikirkan saat itu, yang jelas raut wajah mereka tampak menegang.
"Biar aku saja!"
Nadia bergegas bangkit dari posisi duduknya kemudian menghampiri pintu tersebut. Perlahan Nadia menarik gagang pintu dan tampaklah seorang lelaki tampan bertubuh tinggi besar tengah berdiri tepat di hadapannya.
"Tu-tuan Alfa?!" pekik Nadia dengan mata melotot.
Walaupun ia tahu lelaki itu pernah mendatangi kontrakannya sebelum ini. Namun, melihat secara langsung lelaki tampan, Sang Pewaris Algra group itu di depan matanya, membuat Nadia merasa sedikit syok.
"Di mana Dea?" tanya Alfa sembari melirik ke dalam ruangan sempit itu.
"A-aaa, itu ...." Nadia bingung harus menjawab apa dan kebetulan saat itu Dea yang tidak menyadari kedatangan Alfa, datang menghampiri Nadia.
Nadia menoleh ke belakang dengan wajah panik sekaligus cemas. "Dea?!"
Mendengar suara Dea, Alfa refleks mendorong pintu utama kontrakan Nadia dan kini pintu tersebut terbuka lebar. Ia bahkan bisa melihat sosok gadis itu dengan jelas di depan matanya.
Jika Alfa merasa senang bisa bertemu dengan Dea sekali lagi. Namun, berbanding terbalik dengan gadis itu. Ia kembali meradang dan tidak terima Alfa kembali menemuinya. Nadia yang menjadi penengah di antara mereka, tidak tahu harus berbuat apa. Ia mundur beberapa langkah ke belakang dan membiarkan keduanya saling tatap dengan ekspresi wajah yang berbeda.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Dea. Aku senang bisa bertemu denganmu lagi," ucap Alfa mencoba membuka percakapan di antara mereka.
Bukannya menjawab pertanyaan Alfa, Dea malah melirik Nadia yang terdiam. "Nad, aku ke kamar dulu, ya. Katakan pada tamu yang tidak diundang ini bahwa aku benar-benar malas melihat wajahnya," ketus Dea sembari berbalik dan berniat pergi meninggalkan ruangan itu.
Namun, baru beberapa langkah Dea beranjak dari posisinya, Alfa nekat masuk dan meraih tangan Dea.
"Berhenti, Dea! Berilah aku waktu, sebentar saja! Aku akan jelaskan semuanya! Semuanya, Dea! Kumohon," lirih Alfa mencoba mengiba kepada gadis itu.
"Lepaskan tanganmu dariku, Tuan! Aku jijik padamu dan jangan pernah berani menyentuhku lagi," balas Dea dengan tegas. Ia menghempaskan tangannya dengan kasar untuk menyingkirkan tangan Alfa darinya.
Alfa menggelengkan kepala dan bukannya melepaskan tangan Dea, tangan lelaki itu malah semakin kuat mencengkeram pergelangan tangan Dea.
"Tidak akan kulepaskan, sebelum kamu memberiku waktu untuk bicara." Alfa menatap tajam kedua bola mata Dea dengan tatapan elangnya.
Dea masih memutar-mutar pergelangan tangannya dan berharap bisa melepaskan cengkraman lelaki itu. Kini pergelangan tangannya tampak memerah karena cengkraman Alfa yang begitu kuat.
"Lepaskan tanganku!" ucap Dea dengan setengah berteriak.
"Aku hanya ingin meminta waktumu sebentar saja, Dea. Aku berjanji tidak akan lama," jawab Alfa, masih belum bisa melepaskan Dea.
__ADS_1
Sementara Nadia terpelongo di tempatnya berdiri. Dia seolah sedang melihat sebuah Drakor secara live di depan matanya. Di mana dua orang kekasih sedang bertengkar dan terlihat sangat manis. Walaupun pada kenyataannya, pertengkaran yang terjadi di antara keduanya tidaklah semanis yang ia lihat di televisi.
...***...