Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 46


__ADS_3

"Tuan Alfa?!" Dea sontak terkejut ketika nama nama itu disebutkan.


"Ya, Tuan Alfa! Alfa Alexander Graham, anak tunggal dari Tuan Harrison Alexander Graham. Sang Pewaris tunggal seluruh harta kekayaan keluarga besar Algra!" ucap Nadia dengan sangat antusias.


"Alfa?!" gumam Dea dengan raut wajah sedih. Hatinya sangat sakit ketika nama itu disebutkan. Bayangan menyakitkan yang terjadi di malam itu tiba-tiba kembali terlintas di pikirannya.


Ia begitu ingat ketika salah satu dari ketiga laki-laki tersebut memanggil lelaki tampan yang sudah berhasil merenggut kesuciannya dan sekarang malah meninggalkan benih di rahimnya.


'Alfa'. Kata itu terdengar jelas di telinga Dea ketika mereka memanggil nama lelaki tampan bak malaikat berhati iblis tersebut. Bahkan nama itu terus terngiang-ngiang di telinganya. Dengan susah payah, Dea mencoba melupakan nama itu. Namun, kini nama itu kembali mencuat dalam ingatannya setelah Nadia menyebutkan nama Boss baru mereka.


"Dea, kamu tidak apa-apa?"


Nadia yang tadinya sudah melangkah jauh di depan, segera kembali dan menghampiri Dea yang terpaku di tempat itu.


"Ah, ya! Aku baik-baik saja. Aku hanya terkejut mendengar nama baru Boss kita. Namanya mengingatkan aku dengan seseorang," jawab Dea yang kembali melangkahkan kakinya bersama Nadia.


"Seseorang? Wah, Jangan-jangan mantan kamu, ya?" goda Nadia sambil terkekeh pelan.


Tiba-tiba ekspresi wajah Dea berubah. Ia sedikit kesal saat Nadia mengatakan bahwa Alfa adalah mantan kekasihnya.

__ADS_1


"Bukan. Nama itu adalah nama seorang laki-laki yang paling aku benci di muka bumi ini. Dan aku berharap lelaki itu sudah lenyap ditelan bumi," kesal Dea.


"Eh, maafkan aku, Dea. Aku pikir Alfa adalah nama mantan kekasihmu," ucap Nadia dengan wajah memelas menatap Dea.


"Tidak masalah. Tapi berhentilah menyebut nama itu, Nadia. Kamu bikin aku kesal saja," sahut Dea.


"Iya, iya! Maaf."


💕💕💕


Beberapa jam kemudian.


"Aduh, Nad. Aku benar-benar tidak tertarik! Aku mohon pergilah sendiri, biar aku menunggu di lantai bawah. Aku tidak sanggup jika harus berdesak-desakan dengan karyawan di sini!" ucap Dea dengan lirih.


"Oh ayolah, Dea. Sekali ini saja! Aku ingin membuktikan padamu bahwa ucapanku benar. Tuan Alfa adalah lelaki tampan dan kamu harus membuktikannya dengan mata kepalamu sendiri."


Dea pun akhirnya pasrah dan membiarkan Nadia menuntunnya menuju lantai 10, di mana acara itu berlangsung. Sementara yang tidak bisa ikut berkumpul di ruangan itu, bisa menonton acara tersebut di layar televisi berukuran super besar yang sudah disediakan di setiap ruangan.


"Padahal kita masih bisa menonton acara itu di ruangan kita, Nad. Sama saja 'kan? Lagi pula wajah Tuan itu akan terlihat lebih jelas jika kita melihatnya di layar kaca berukuran jumbo tersebut."

__ADS_1


"Beda lah, Dea. Di sana kita hanya bisa menatapnya lewat layar kaca, sementara di sini kita akan melihat jelas Tuan Alfa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Lagian kamu itu kenapa sih susah sekali menyebut nama Tuan Alfa. 'Tuan Itu-Tuan Itu' memangnya nama dia 'Itu'?" celetuk Nadia.


Dea tertawa pelan. "Aku tidak suka menyebut namanya. Lidahku terasa gatal."


"Ish, tidak semua yang bernama Alfa jahat 'kan, Dea. Lagi pula Tuan Alfa tidak bersalah sama kamu, masa 'sih ia harus kena getahnya juga hanya karena sama-sama bernama Alfa," sahut Nadia kemudian.


"Iya, iya, sudah! Jangan dibahas lagi."


Pintu lift pun akhirnya terbuka dan kini kedua gadis itu sudah berada di lantai 10, di mana acara tersebut sudah dimulai. Dan benar saja, apa yang dikhawatirkan oleh Dea menjadi kenyataan. Banyak sekali karyawan berkumpul di sana hanya karena penasaran ingin melihat wajah boss baru mereka. Ya, sama halnya seperti Nadia yang sangat ingin melihat langsung wajah tampan sosok Alfa.


Dari kejauhan, tampak dua lelaki tampan bersetelan jas lengkap berwarna hitam sedang berdiri di atas sebuah podium. Mereka adalah Tuan Harry dan anak lelakinya yang saat ini sedang berdiri tepat di sampingnya.


"Lihatlah, Dea. Lihat! Itu Tuan Alfa, Boss baru kita!" ucap Nadia dengan begitu bersemangat. Sementara Dea, ia sama sekali tidak tertarik dengan acara tersebut.


"Ayo, Dea! Lihatlah," bujuk Nadia sekali lagi.


Akhirnya Dea pun mengintip dari balik punggung para karyawan lain yang sedang berdesak-desakan di hadapannya. Ia melihat ke arah podium kemudian memperhatikan kedua lelaki tampan berbeda generasi tersebut. Tidak ada yang aneh di raut wajahnya ketika menatap Tuan Harry. Namun, ketika kedua netranya beralih kepada lelaki muda nan tampan di sebelah Tuan Harry, tiba-tiba matanya terbelalak.


"A-Alfa!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2