
Alfa menatap bangunan nanti menjulang tinggi di hadapannya untuk beberapa saat. Ia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya pelan.
"Apakah Tuan ingin saya temani?" tanya David yang masih belum beranjak dari tempat itu.
"Tidak usah, Om. Saya bisa sendiri. Om duluan saja," jawab Alfa, yang kemudian melenggang pergi dan memasuki area Rumah sakit tersebut.
Setelah kepergian Alfa, David pun bergegas melanjutkan perjalanannya menuju kantor.
Beberapa menit kemudian.
"Tuan Alfa Alexander?" Terdengar suara seorang perawat yang memanggil nama Alfa.
Alfa yang sejak tadi menunggu di luar ruangan dengan tidak sabaran, kini bergegas bangkit kemudian memasuki sebuah ruangan Dokter. Dokter Andrologi, dokter spesialis yang memiliki keahlian khusus dalam menangani masalah pada sistem reproduksi pria, seperti ganguan kesuburan atau gangguan fungsi *****al lainnya. Termasuk penyakit yang dialami oleh Alfa saat ini.
"Selamat pagi, Tuan Alfa. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Dokter itu sambil mengulurkan tangannya kepada Alfa yang datang mendekat ke arahnya.
"Selamat pagi juga, Dok."
Alfa menyambutnya kemudian duduk di sebuah kursi di depan meja Dokter, setelah Dokter mempersilakannya.
"Begini, Dok."
Alfa mulai menceritakan keluhannya kepada Dokter secara rinci. Bagaimana juniornya tidak bisa mempertahankan ketegangannya saat ingin melakukan hubungan tersebut.
__ADS_1
"Sudah berapa kali hal itu terjadi, Tuan Alfa?" tanya Dokter sambil mencatat keluhan Alfa di sebuah buku yang ada di hadapannya.
"Sudah dua kali saya ingin melakukannya bersama kekasih saya, tetapi hasilnya tetap sama." Alfa menundukkan kepalanya menghadap lantai. Hatinya kembali sedih tatkala ia teringat kejadian tadi malam, di mana Cecilia begitu kecewa karena Alfa tidak bisa memuaskan hasratnya.
"Ehm, baiklah. Sebaiknya kita periksa dulu, ya, Tuan."
Dokter mulai melakukan berbagai pemeriksaan kepada Alfa dan setelah beberapa menit kemudian Dokter pun kembali ke tempat duduknya, begitu pula Alfa.
"Dari hasil pemeriksaan, Anda sebenarnya tidak memiliki masalah apapun pada alat reproduksi Anda. Mungkin saja saat Anda ingin melakukannya bersama kekasih Anda, Anda dalam kondisi tertekan atau sebagainya, yang bisa membuat alat reproduksi Anda gagal mempertahankan ketegangannya."
"Benarkah itu, Dok? Ya, saya memang agak stress dan banyak pikiran ketika ingin memulai hubungan itu bersama kekasih saya," tutur Alfa yang mulai merasa sedikit lega mendengar penjelasan dari Dokter tersebut.
"Ya, stress juga bisa menjadi pemicunya, Tuan Alfa."
Dokter menuliskan beberapa resep obat yang harus ditebus oleh Alfa. Setelah mendapatkan resep obat serta membayar jasa Dokter tersebut, Alfa pun berencana kembali ke kantornya.
Tidak butuh waktu lama, sebuah mobil mewah datang menghampiri Alfa dan mengantarkannya ke perusahaan Algra group.
Sementara itu di tempat lain.
"Heh, bangun. Ini sudah siang," ucap Cecilia kepada Mateo yang masih tertidur di sampingnya dengan posisi telungkup.
Cecilia menggoyang-goyangkan tubuh lelaki berotot itu dengan cukup kuat agar cepat terbangun. Cukup lama Cecilia mencoba membangunkan Mateo, hingga akhirnya tubuh besar itu pun menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya sambil menguap.
__ADS_1
Mateo tersenyum menatap Cecilia yang duduk sambil bersandar di sandaran tempat tidur. Tubuh wanita itu masih dalam kondisi polos, tetapi ia tutupi dengan selimut hingga ke bagian dada.
"Sudah pagi, ya?" tanya Mateo.
"Ini bukan pagi, tapi siang. Apa kamu tidak lihat pukul berapa sekarang?" Cecilia menunjuj sebuah jam dinding yang menempel di salah satu sudut ruangan.
Mateo melirik ke arah jam dinding tersebut kemudian menepuk jidatnya pelan. "Ya ampun! Aku terlambat," gumamnya.
Namun, bukannya segera beranjak, Mateo malah tersenyum dan kembali menggoda Cecilia.
"Kenapa kamu tutup-tutupi?" Mateo menyentuh selimut yang sejak tadi dipegang oleh Cecilia di bagian dadanya. "Aku sudah melihat secara detail seluk beluk tubuhmu, Cecilia sayang. Bahkan aku hapal di mana saja letak tahi lalatmu berada."
Mateo menarik selimut itu dengan cepat dan kini tampaklah dua buah bulatan kenyal milik Cecilia di depan wajahnya. Tanpa menyia-nyiakan hal itu, Mateo segera melumatt puncaknya sambil meremass-remass.
Lagi-lagi Cecilia menikmatinya. Desahann wanita itu kembali terdengar dan membuat Mateo bersemangat ingin mengulang pergulatan panas mereka, sama seperti tadi malam.
Benar saja, kedua pasangan itu pun kembali mengulangi pergulatan panas mereka untuk beberapa menit ke depan. Hingga akhirnya, Mateo dan Cecilia kembali mencapai puncak kenikmatannya. Lelaki berotot itu mengerang di atas tubuh Cecilia dan menyemprotkan benihnya masuk ke dalam rahimnya.
Ekspresi wajah Cecilia tampak berubah. Ia terlihat kesal ketika Mateo mengeluarkannya di dalam. Setelah Mateo melepaskan tubuhnya, Cecilia pun segera duduk dan kembali bersandar di sandaran tempat tidurnya.
"Lagi-lagi kamu melakukannya, Mateo! Bukankah sudah kubilang padamu jangan keluarkan di dalam! Aku tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun!" kesalnya.
Mateo tertawa pelan. "Habisnya enak, sih. Tapi kamu tenang saja, Sayang. Kamu tidak akan apa-apa, percayalah padaku."
__ADS_1
Cecilia mendengus kesal. Ia sangat kecewa, tetapi ia tidak bisa menampik bahwa apa yang dikatakan oleh Mateo itu memang benar. Akan terasa jauh lebih nikmat jika dikeluarkan di dalam.
...***...