Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 38


__ADS_3

"Hei, Non. Kenapa wajahnya ditekuk begitu?" tanya Betty kepada Cecilia yang sedang duduk di ruang utama rumahnya.


"Aku kesal. Tiba-tiba saja aku teringat akan kejadian tadi siang." Cecilia mendengus kesal sambil menyilangkan tangan ke dada.


"Kesal kenapa, Non? Bukankah seharusnya Non Cecil senang karena sekarang sudah bisa balikan sama Tuan Alfa?" Betty ikut duduk di sofa yang sama dengan Cecilia, tetapi masih ada jarak beberapa jengkal di antara keduanya.


"Ya, untuk yang satu itu tidak bisa aku pungkiri bahwa aku sangat-sangat bahagia! Aku rasa kecelakaan yang menimpa Alfa, membawa berkah yang sangat besar untukku. Akhirnya aku bisa kembali bersama Alfa tanpa harus susah payah merayu dan meminta maaf kepadanya." Cecilia tersenyum semringah.


Namun, senyuman manis wanita cantik itu hanya tampak beberapa detik saja. Setelah itu ia kembali memasang wajah masam.


"Lah, trus ... apa yang membuat Non Cecil kesal?" lanjut Betty yang masih penasaran.


"Tadi siang, setelah pulang dari Rumah Sakit, mobil yang dikemudikan oleh pak sopir hampir saja menabrak seorang gadis. Beruntung tidak kejadian! Kalau tidak, apa kata dunia? Seorang Cecilia Romano menabrak seorang pejalan kaki! Aku yakin, tidak butuh beberapa menit setelah di post pasti viral di jagat maya," kesal Cecilia.


"Oh, cuma itu?" Betty tampak tidak terlalu menghiraukannya.


Cecilia kesal. Ia melemparkan bantal kepada Betty dengan kasar. "Heh, cuma itu katamu? Memangnya kamu pikir jika itu terjadi, tidak akan mempengaruhi reputasiku, begitu?"


"Eh, iya-iya. Maaf, Non. Betty salah," jawab Betty sambil cengar-cengir, meraih bantal yang tadi dilempar oleh Cecilia.


"Dasar menyebalkan. Jika reputasiku buruk, maka job pun akan semakin berkurang dan memangnya kamu mau bekerja denganku tapi tidak aku gaji?"

__ADS_1


"Jangan lah, Non. Nanti aku makan apa? Lagi pula Emak di kampung masih butuh transfer, Non. Jadi maaf ya, Non," sahut Betty lagi.


Cecilia tidak menjawab. Wanita itu memutarkan bola matanya sambil membuang napas kesal.


"Memangnya kalau boleh tahu, gadis itu siapa sih, Non? Apa Nona mengenalnya?" tanya Betty lagi.


"Aku tidak kenal, tapi aku yakin dia hanya seorang gadis kampung yang baru merantau ke kota untuk mencari peruntungan. Penampilannya, iyuhhh! Enggak banget. Sudah kuno, kucel, dekil, untung wajahnya masih lumayan," sahut Cecilia sambil bergidik ngeri.


Sementara itu.


Dea masih duduk di samping toko dengan beralaskan kardus bekas. Ia sangat mengantuk, tetapi ia masih enggan untuk tidur. Ia takut ada seseorang yang datang kemudian melakukan hal buruk terhadapnya. .


"Jangan tertidur, jangan tertidur!" gumam Dea sambil memeluk tas berisi barang bawaannya dengan erat.


Lelaki yang sedang mabuk itu tiba-tiba kebelet ingin buang air kecil. Karena sudah tidak sanggup menahannya, lelaki itu bergegas menuju samping toko. Ia membuka resleting celana dan melepaskannya di samping sebuah tumpukan sampah, tidak jauh dari posisi Dea tertidur. Dea yang baru saja tertidur, sama sekali tidak menyadari keberadaan lelaki itu.


Setelah semuanya keluar, lelaki itu pun tersenyum lega. Ia membenarkan celananya kemudian berjalan lagi dengan sempoyongan keluar dari tempat itu. Namun, langkahnya terhenti tatkala ia melihat sosok wanita yang sedang tertidur dengan posisi duduk.


Lelaki itu mengerjapkan matanya. Mencoba memastikan bahwa ia tidak salah lihat. "Itu benar-benar cewek, 'kan?" gumam lelaki itu sambil tersenyum lebar.


Perlahan, lelaki itu mulai memberanikan diri untuk menghampiri Dea. Setelah memastikan bahwa gadis itu masih hidup, lelaki itu pun mulai berjongkok tepat di depannya. Ia meraih wajah cantik Dea kemudian menatapnya lekat sambil menyeringai.

__ADS_1


"Apa yang dilakukan oleh gadis secantik ini di sini?" gumam lelaki itu lagi.


Hembusan napas yang keluar dari mulut lelaki itu akhirnya membangunkan Dea dari tidurnya. Bau menyengat dari minuman memabukkan itu membuat Dea teringat akan bau ketiga lelaki bejat yang menghancurkan masa depannya.


Dea tersentak kaget dan membulatkan matanya setelah melihat sosok lelaki asing berada sangat dekat dengannya. Dea bahkan bisa merasakan hembusan napas lelaki itu.


"Si-siapa kamu dan mau apa?!" pekik Dea sambil menepis tangan lelaki itu dari wajahnya.


"Kamu cantik sekali, Sayang. Jangan takut, kamu akan aman bersamaku. Percayalah," sahut lelaki itu dengan senyuman mengerikan yang sama sekali tidak dapat dipercayai.


Dea bangkit dari posisinya kemudian mencoba mendorong tubuh lelaki itu dengan sekuat tenaganya. "Menjauhlah dariku!" teriak Dea.


Namun, bukannya menjauh, lelaki itu malah semakin semangat ingin menikmati kecantikan gadis itu. Apa yang dilakukan oleh pemabuk tersebut kembali membangkitkan rasa trauma yang sudah susah payah ia lupakan. Ketakutan terbesarnya kembali mengusai pikiran gadis itu.


Tubuh Dea bergetar hebat dan buliran bening itu kembali mengalir di kedua pipinya. Dea tidak ingin ternoda untuk kedua kalinya. Sudah cukup lelaki itu menghancurkan hidupnya dan ia tidak ingin dihancurkan lagi untuk kesekian kalinya.


Tiba-tiba.


Pletak!


Sebuah batu sebesar jempol kaki mengenai kepala lelaki itu dan membuatnya berhenti menjahili Dea. Ia berbalik sambil meringis kesakitan. Kepala lelaki itu tampak mengeluarkan darah akibat lemparan batu tersebut.

__ADS_1


"Lepaskah gadis itu!"


...***...


__ADS_2