Benih Sang Pewaris

Benih Sang Pewaris
Bab 135


__ADS_3

"Kakak!" panggil Dea kepada Herman yang sedang duduk di sebuah kursi tunggu di luar ruangan dengan kepala tertunduk.


Dea yang baru saja tiba di Rumah Sakit tersebut segera menghampiri Herman kemudian duduk di sampingnya. Herman menoleh kemudian tersenyum sembari menyeka air matanya.


"Dea," sahutnya dengan mata berkaca-kaca.


"Bagaimana kondisi Kak Susi sekarang, Kak?" tanya Dea dengan wajah cemas.


Herman menggelengkan kepalanya perlahan. "Dia masih tidak sadarkan diri, Dea. Susi kehilangan banyak darah saat menuju ke tempat ini," sahut Herman.


"Ya, Tuhan!"


"Tante!" Virna yang baru saja tiba di ruangan itu segera berlari menghampiri Dea kemudian memeluknya dengan erat. Gadis kecil itu menangis histeris, menangisi nasib ibunya yang masih berada di ujung tanduk.


"Virna. Sabar ya, Sayang." Dea membalas pelukan Virna sambil mengelus puncak kepala bocah perempuan tersebut dengan lembut.


"Apakah Ibu akan kembali sehat, Tante?" Virna mendongak menatap Dea yang tengah memeluknya dengan erat.


"Ya, Virna. Ibumu akan baik-baik saja. Yakinlah dan terus berdoa kepada-Nya untuk kesembuhan ibumu," jawab Dea sambil mengelus puncak kepala gadis mungil tersebut.


***


Beberapa hari kemudian.

__ADS_1


Sebuah pergerakan tampak di atas tempat tidur Susi. Wanita itu akhirnya sadar dan mulai membuka matanya.


"De-Dea ...." Kata-kata pertama yang keluar dari bibir Susi.


Saat itu Herman tengah tertidur di samping tempat tidur Susi dengan posisi kepala telungkup di tepi ranjang. Ia terkejut ketika merasakan pergerakan tangan Susi yang saat itu masih ia genggam.


"Susi, kamu sudah sadar?" Herman mengucek matanya kemudian memperhatikan istrinya itu dengan seksama.


Ternyata benar, Susi sudah sadar walaupun kondisinya saat itu masih terlihat sangat lemah.


"Mas Herman, di mana Dea? Aku ingin bertemu dengannya," ucap Susi sembari mencoba bangkit dari posisinya saat itu.


"Kamu mau ke mana, Susi. Tetaplah di sini karena kondisimu masih sangat lemah," sahut Herman.


"Tapi aku ingin menemui Dea, Mas. Aku ingin bicara dengannya," lirih Susi dengan wajah yang masih memucat.


"Dea?" Herman tampak bingung karena orang pertama yang ingin ditemui oleh istrinya itu adalah adik perempuannya. "Untuk apa? Lagi pula Dea sudah kembali ke kediamannya. Dia sudah cukup lama di sini menemaniku dan sekarang sudah waktunya ia kembali bersama keluarganya," lanjutnya.


Susi menghembuskan napas berat dan wajahnya kini terlihat murung.


"Memangnya kenapa, Susi?" tanya Herman lagi.


Tiba-tiba Susi terisak. "A-aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Tapi yang jelas, selama aku tidak sadarkan diri, Tuhan seolah memperlihatkan kembali bagaimana perlakuanku terhadap Dea selama ini. Bagaimana kejamnya aku terhadap Dea sejak ia masih kecil hingga sekarang. Sekarang aku benar-benar menyesal, Mas. Aku ingin bertemu dengannya dan meminta maaf."

__ADS_1


Herman terdiam sambil memperhatikan istrinya itu dengan seksama. Ya, Herman pun tahu bagaimana sikap Susi selama ini terhadap Dea. Sedikit saja kesalahan yang dilakukan oleh adik perempuannya itu, Susi tidak segan-segan menghukumnya dengan hukuman yang benar-benar tidak sepadan dengan perbuatan gadis itu.


"Aku benar-benar berdosa kepadanya, Mas. Selama ini aku terus menyakiti Dea yang seharusnya aku lindungi seperti adikku sendiri. Selain itu, Dea adalah gadis yatim piatu yang hanya memiliki keluarga ini sebagai tempatnya berlindung. Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Aku membuat dirinya hidup terikat dengan semua peraturan kejamku," sambung Susi yang masih terisak.


Herman tersenyum kecut kemudian menggenggam tangan Susi dengan erat. "Kita akan menemuinya nanti setelah kamu sudah di perbolehkan pulang dari Rumah Sakit ini. Dan kamu tenang saja, Susi. Dea bukanlah seseorang yang suka mendendam. Aku yakin dia pasti akan menerima permintaan maafmu dengan tangan yang terbuka lebar."


Susi menatap Herman dengan mata berkaca-kaca. "Amin, semoga saja."


"Ibu sudah sadar!" pekik Virna yang tadinya tertidur lelap di dalam ruangan tersebut. Ia terbangun karena terkejut mendengar suara Ayahnya yang sedang berbincang. Setelah ia membuka mata, ternyata ia melihat Susi yang sudah sadar.


Susi tersenyum lebar sembari mengulurkan tangannya ke arah Virna agar gadis itu segera menghampirinya.


"Virna. Kemari lah, Nak. Ibu kangen," ucap Susi.


Virna bergegas bangkit kemudian segera menghampiri tempat tidur Susi.


"Virna juga kangen, Bu. Apa sekarang kita sudah boleh pulang?" tanya Virna dengan sangat antusias.


"Iya, nanti. Setelah dokter menyatakan Ibu sehat dan mengizinkan Ibu untuk pulang," sahut Susi.


"Yahhh ...." Virna membuang napas berat.


...***...

__ADS_1


__ADS_2