
Cecilia membuka jubah transparan yang menutupi lingerie seksinya. Setelah melemparkan lingerie tersebut, Cecilia bergegas menghampiri Alfa dan duduk di pangkuannya.
"Kamu sudah siap 'kan, Sayang?"
Alfa mengangguk kemudian menelan salivanya lagi. "Ya."
Keduanya melakukan pemanasan dengan penuh semangat. Kadang Cecilia yang menguasai tubuh Alfa dan kadang Alfa yang menguasai tubuh Cecilia.
"Alfa, aku punya ini. Puaskan aku sebentar dengan ini," ucap Cecilia sembari menyerahkan alat getar miliknya.
Alfa menautkan kedua alisnya heran. Ia bingung kenapa Cecilia bisa memiliki alat seperti itu, padahal Cecilia belum pernah menikah. Walaupun bingung, Alfa tetap menyambutnya kemudian memasukkan alat getar itu ke dalam area pribadi Cecilia yang sudah basah.
Alfa memainkan alat getar itu sambil mencumbu tubuh Cecilia. Cecilia menggeliat seperti cacing kepanasan. Pemanasan yang dilakukan oleh Alfa membuat dirinya benar-benar larut dalam kenikmatan.
******* demi ******* terus keluar dari bibir wanita itu hingga akhirnya ia pun mencapai puncak kenikmatannya. Cecilia mengerang dan tampak keluar cairan yang cukup di daerah sensitif Cecilia saat itu.
"Sudah puas?" tanya Alfa sembari mencabut benda itu kemudian melemparkannya ke sisi ranjang.
"Ya." Cecilia tersenyum puas sambil menatap wajah Alfa. "Sekarang giliran kamu yang memuaskan aku."
Alfa mengangguk pelan. "Baiklah."
Perlahan Alfa menaiki tubuh Cecilia dan berniat memulai permainan panas mereka. Juniornya pun sudah tidak sabar ingin menemukan titik hangatnya. Jauh di lubuk hati Alfa yang paling dalam, ia merasa takut. Takut permainannya kali ini gagal lagi seperti kemarin.
"Ayo, Alfa! Cepatlah! Aku sudah tidak sabar," ucap Cecilia kepada Alfa yang masih terdiam di atas tubuhnya tanpa melakukan apapun.
__ADS_1
"Baiklah." Alfa menghembuskan napas panjang kemudian bersiap menghujam area pribadi Cecilia dengan juniornya.
Namun, baru saja kepala si junior ingin menyentuh area pribadi Cecilia. Tiba-tiba hal itu terjadi lagi. Si junior kembali lemas dan loyo. Alfa terkejut bukan main. Ia segera bangkit dari posisinya kemudian memperhatikan juniornya yang lemas.
"Astaga, sebenarnya apa yang terjadi padaku?" Alfa mengacak kasar kepalanya dan ia benar-benar kecewa dengan kondisi juniornya saat itu.
"Apa yang terjadi, Alfa?" Cecilia yang sejak tadi sudah tidak sabar menunggu hujaman dari junior milik Alfa, turut bangkit dan kini duduk di tepian ranjangnya.
Cecilia tidak sengaja memperhatikan junior Alfa dan ia pun ikut terperanjat. "Alfa, sebenarnya kamu itu kenapa, sih? Kenapa hal itu bisa terulang lagi!" kesalnya.
"Entahlah, Cecilia. Aku juga bingung, sebenarnya apa yang terjadi padaku." Alfa tampak frustrasi. Selain kecewa dengan kondisi juniornya, Alfa juga mengkhawatirkan bagaimana perasaan Cecilia saat itu.
"Jangan-jangan kamu itu impoten, Alfa! Pantas saja kamu selalu menolak jika kuajak berhubungan!" kesal Cecilia dengan wajah menekuk sempurna.
"Maafkan aku, Cecilia. Aku pun tidak mengerti kenapa ini bisa terjadi padaku," lirih Alfa dengan kepala tertunduk menghadap lantai.
Selesai membersihkan area pribadinya, Cecilia segera meraih kimono mandi kemudian mengenakan benda itu untuk menutupi tubuh polosnya. Cecilia keluar dari ruangan itu kemudian menghampiri Alfa yang sedang merapikan kemejanya.
"Sebaiknya kamu pulang saja, Alfa! Aku sudah ngantuk dan butuh istirahat," kesalnya dengan wajah menekuk menatap Alfa.
"Tapi, Cecilia ...."
"Keluar!" Nada suara Cecilia mulai meninggi. Ia mendorong tubuh Alfa hingga ke depan pintu kamarnya. Setelah membuka kembali kunci pintu tersebut, Cecilia kembali mendorong tubuh Alfa hingga keluar dari kamarnya.
"Pulanglah! Kamu tahu di mana letak pintunya 'kan?" ucap Cecilia.
__ADS_1
"Cecilia, kumohon dengarkan aku--" Belum habis Alfa berucap, Cecilia sudah membanting pintu di hadapannya dengan sangat keras.
Brakkk!!!
"Pergi!" Terdengar suara teriakan Cecilia dari dalam kamar tersebut.
Alfa membuang napas berat dan ia pun segera berbalik. Dengan langkah gontai, Alfa menuju halaman depan rumah Cecilia. Di mana ia memarkirkan mobilnya.
Betty terheran-heran melihat Alfa yang melewati dirinya dengan wajah kusut. Ia bingung apa yang sebenarnya terjadi pada Alfa dan juga Cecilia. Padahal sebelumnya mereka terlihat begitu bahagia. Namun, sekarang Alfa malah pulang dengan rasa kecewa.
Sementara itu, di dalam kamar Cecilia.
"Hallo, Mateo!"
"Cecilia! Tumben menghubungiku," sahut Mateo dari seberang telepon.
"Puaskan aku malam ini dan aku akan membayarmu untuk itu," ucap Cecilia dengan wajah masam.
Terdengar gelak tawa Mateo dan hal itu benar-benar membuat Cecilia kesal.
"Baiklah-baiklah! Tanpa kamu bayar pun, aku setuju. Apa lagi kalau dibayar," jawab lelaki itu.
"Baik, aku tunggu kamu secepatnya!"
"Oke, Sayang! Emuah."
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Mateo pun berangkat menuju kediaman Cecilia untuk memuaskan wanita itu.
***